{"id":109,"date":"2020-09-12T03:05:00","date_gmt":"2020-09-12T03:05:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2020\/09\/12\/12-manfaat-dongeng\/"},"modified":"2020-09-12T03:05:00","modified_gmt":"2020-09-12T03:05:00","slug":"12-manfaat-dongeng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2020\/09\/12\/12-manfaat-dongeng\/","title":{"rendered":"12 MANFAAT DONGENG"},"content":{"rendered":"<\/p>\n<blockquote><p><span style=\"text-align: justify;\">\u201dCerita sangat bertenaga dan<br \/>\npenelitiantelah membuktikan bahwa cerita berperan amat signifikan, bukan hanya<br \/>\ndalam perkembangan bahasa anak, tetapi juga perkembangan emosional dan<br \/>\npsikologisnya.\u201d (Mary Walsh)<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Zaman terus berubah. Kemajuan teknologi<br \/>\nsangat deras. Lalu muncul dalam benak kita. Di zaman modern ini masih perlukah<br \/>\nkita melakukan kegiatan yang sifatnya kuno, seperti mendongeng?<o:p><\/o:p><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-mJd1BEXGc4c\/X1OE4y-r9tI\/AAAAAAAAETg\/2d33nOwcJacEB9LUL2GIEUyFOAeAVcH_gCLcBGAsYHQ\/s1200\/20200905_192920_0000.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1200\" data-original-width=\"800\" height=\"320\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-mJd1BEXGc4c\/X1OE4y-r9tI\/AAAAAAAAETg\/2d33nOwcJacEB9LUL2GIEUyFOAeAVcH_gCLcBGAsYHQ\/s320\/20200905_192920_0000.png\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ternyata, di saat perkembangan<br \/>\nteknologi audio-visual kian maju dan maraknya \u2019dongeng \u2013 dongeng\u2019 modern di<br \/>\nlayar televisi, serta kian membanjirnya buku\u2013buku cerita impor, kegiatan mendongeng<br \/>\nbukan tidak diperlukan lagi. Anak\u2013anak tetap membutuhkan dongeng dalam hidup mereka.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anggapan anggapan miring bahwa mendongeng<br \/>\natau membacakan cerita anak bagi kebanyakan orang tua atau pendidik merupakan<br \/>\npekerjaan buang \u2013 buang waktu dan membosankan harus disingkirkan. Karena kebanyakan<br \/>\ndari kita tidak menyadari bahwa dengan mendongeng atau membacakan cerita anak<br \/>\nakan mendapatkan banyak manfaat, baik bagi anak maupun bagi pendongengnya<br \/>\nsendiri.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tidak percaya, kita buktikan!<br \/>\nSaya akan memberikan fakta dan data dari manfaat dongeng yang akan membuka<br \/>\nlebar cakrawala pandangan anda. Berikut ini adalah manfaat dari dongeng:<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>1. Menumbuhkan Kebersamaan dengan<br \/>\nAnak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada usia pertumbuhan, anak<br \/>\nselain memerlukan kebutuhan jasmani, seperti makan, minum, dan sarana lahiriah<br \/>\nlainnya, anak juga memerlukan kebutuhan perkembangan jiwa, termasuk rasa aman<br \/>\ndan kebersamaan dengan orang tua. Dan di sekolah pun, anak \u2013 anak emerlukan<br \/>\nperhatian dan hubungan yang baik dengan gurunya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan mendongeng menjadikan hubungan<br \/>\nanak dan orang tua atau pendidik semakin dekat. Baik secara fisik maupun psikologis.<br \/>\nAnak akan merasa diperhatikan, merasakan kenyamanan, dan merasa dicintai. Hal<br \/>\nini diperkuat dengan hasil penelitian <span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>ang<br \/>\nmenunjukkan bahwa orang tua yang suka mendongeng menjelang tidur, cenderung<br \/>\nlebih akrab dengan anak\u2013anak dibandingkan dengan yang tidak melakukan aktivitas<br \/>\nmendongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Supriyanto (2002),<br \/>\nsetidaknya ada tiga alasan mengapa mendongeng dapat menumbuhkan kebersamaan<br \/>\ndengan anak: Pertama. Dengan mendongeng anak akan ikut menyimak sehingga<br \/>\nterjadi kontak mata antara pendongeng dengan anak. Kedua, Adanya kontak mata<br \/>\njuga akan diikuti dengan kontak fisik antara pendongeng dengan anak. Ketiga, Setelah<br \/>\nterjadi kontak mata dan sentuhan fisik, maka proses lain yang akan terjadi<br \/>\nadalah kontak pembicaraan. <o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Manakala anak merespon isi<br \/>\ncerita, misalnya dengan cara menyakan atau berkomentar atas cerita itu. Maka<br \/>\nkontak mata, sentuhan, dan pembicaraan akan terjalin. Selain itu, kegiatan<br \/>\nmendongeng juga dapat dijadikan sebagai sumber umpan balik dari anak. Orang tua<br \/>\natau pendidik dapat mengenal lebih dekat aspirasi, kepekaan perasaan, ketajaman<br \/>\nintuisi, kedalam jiwa, bahkan kearifan sosial dan keluasan wawasan hidup anak.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>2. Melatih Tingkat Emosi Anak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui dongeng, orang tua atau<br \/>\npendidik sebagai pendongeng dapat melatih tingkat emosi anak. Menurut<br \/>\nSupriyanto (2002), anak memerlukan pengalaman batin untuk memperkaya aneka<br \/>\nemosinya yang salah satunya melalui dongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Supriyanto memaparkan lebih jauh<br \/>\nbahwa, kebanyakan anak yang mendengarkan dongeng dengan baik, menunjukkan<br \/>\nreaksi emosional. Seperti ingin bertindak sesuai dengan konflik tokoh yang<br \/>\ndidengarnya. Tingkat emosi anak dalam menyimak dongeng dapat juga ditunjukkan<br \/>\ndengan gerak tangan, mimik bibir, dan mimik muka. Bahkan tidak jarang anak \u2013 anak<br \/>\nlangsung melontarkan kata \u2013 kata sebagai reaksi emosinya menanggapi konflik<br \/>\nyang terjadi dalam dongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain itu, ternyata EQ (emotional<br \/>\nquotient) anak akan bekerja dengan baik bila anak menemui ilmu \u2013 ilmu baru,<br \/>\nkemudian mereka akan mengaitkannya dengan pengalamannya sendiri. Inilah inti<br \/>\ndari pembelajaran EQ. Tanpa disuruh anak akan membandingkan tokoh dalam dongeng<br \/>\ndengan dirinya sendiri, sehingga dongeng bisa menjadi cermin untuk anak.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukankah dongeng yang berkesan<br \/>\nadalah dongeng yang banyak kaitan dan berhubungan dengan pengalaman batin anak?<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>3. Mencerdaskan Spiritual<br \/>\nQuotient Anak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menanamkan akidah Islam dalam<br \/>\ndada anak \u2013 anak, lalu membiasakan mereka untuk beribadah tanpa ada rasa<br \/>\npaksaan, dan menjadikan anak berakhlak mulia bukanlah hal gampang. Apalagi di<br \/>\nmasa sekarang. Dan ternyata kegiatan mendongeng bisa jadi solusi alternatif<br \/>\nuntuk masalah itu.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Al Quran yang diwahyukan kepada<br \/>\nNabi Muhammad saw, ternyata di dalamnya juga menggunakan metode bercerita yang<br \/>\ntidak hanya membuat kita, para orang dewasa, dan anak \u2013 anak berpikir, tetapi<br \/>\njuga merupakan nikmat peneguh dan penentram iman.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201dDan semua dari rasul \u2013 rasul<br \/>\nyang kami ceritakan kepadamu ialah kisah \u2013 kisah yang dengannya Kami teguhkan<br \/>\nhatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pelajaran dan<br \/>\nperingatan bagi orang \u2013 orang yang beriman.\u201d (QS.11: 120).<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lalu dalam ayat lain Allah SWT<br \/>\nberfirman,<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami menceritakan kepadamu kisah<br \/>\nyang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu dan sesungguhnya kamu<br \/>\nsebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang \u2013 orang yang belum<br \/>\nmengetahu.\u201d (QS. 12:3).<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Maka saat kita mendongeng, unsur<br \/>\nakidah tidak boleh ditinggalkan. Mendongeng yang juga sebagai salah satu nikmat<br \/>\ndari Allah yang mempertemukan antara pendongeng dengan yang didongenginya dalam<br \/>\nsuasana silaturahmi dan kasih sayang, mampu menyemaikan nilai \u2013 nilai Islam<br \/>\ndengan aktivitas yang menyenangkan.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan demikian, membuat kita<br \/>\ntidak perlu memberikan nasihat terlalu banyak pada anak. Dalam dongeng kita<br \/>\nbisa memberikan gambaran kekuasaan dan kebesaran Allah, sehingga lewat dongeng<br \/>\nanak \u2013 anak dapat mengenal Tuhannya. Kita juga bias menggambarkan betapa mulianya<br \/>\nakhlak Rasulullah saw dan juga kisah para Nabi dan Rasul utusan Allah.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>4. Mengembangkan Daya Imajinasi<br \/>\nAnak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Imajinasi lebih kuat daripada<br \/>\npengetahuan; Impian lebih kuat daripada fakta. Itu adalah kata &#8211; kata terkenal<br \/>\ndari Robert Fulghum. Fulghum ingin menunjukkan kepada kita, betapa pentingnya<br \/>\nmenghadirkan dunia imajinasi yang sehat bagi anak-anak. Apalagi di saat<br \/>\nsekarang, di mana dunia imajinasi anak semakin mengalami polusi. Imajinasi anak<br \/>\ndicengkram kuku tajam kemajuan teknologi audio-visual. Di sinilah peran dongeng<br \/>\ntak tergantikanoleh teknologi. Teknologi tidak mampu menciptakan hubungan<br \/>\ndialogis. Dan gambar &#8211; gambar yang ready made (sudah jadi) di televisi, video,<br \/>\ndan komik menjadikan anak &#8211; anak pasif. Karena anak-anak tidak diberikan kesempatan<br \/>\nberkomentar dan berimajinasi bebas.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng merupakan sarana ideal<br \/>\nuntuk mengembangkan daya imajinasi anak Melalui dongeng, anak dapat diajak mengembangkan<br \/>\ndaya imajinasinya yang kaya raya dan tanpa terjajah. Misalnya, membayangkan<br \/>\ngajah bisa terbang, Kancil yang cerdik, atau Bidadari.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seperti yang diungkapkan oleh Kak<br \/>\nSeto, bahwa dalam dongeng, imajinasi anak terkontrol, dia pun bisa menyampaikan<br \/>\nide atau gagasan dalam memecahkan masalah. Dengan demikian lahirlah ide &#8211; ide<br \/>\norisinal dari anak dalam suasana yang penuh kasih sayang.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>5. Meningkatkan Daya Ingat Anak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ada uraian menarik dari Nobuo<br \/>\nMasataka, seorang peneliti anak \u2013 anak dari Jepang, ia mengatakan bahwa anak \u2013<br \/>\nanak di bawah usia tiga tahun pada umunya belum dapat mengembangkan secara<br \/>\npenuh kemampuannya untuk memanipulasi bahasa, sementara kata \u2013 kata diasumsikan<br \/>\nmemegang peranan sangat penting dalam penyimpanan informasi pengalaman \u2013<br \/>\npengalaman individu. Anak \u2013 anak pada usianya yang sangat muda itu harus memiliki<br \/>\nkemapuan untuk \u201cbercerita\u201d pada saat mereka ingin mengingat segala sesuatu yang<br \/>\nmereka ingin dengar atau mereka lihat. Seorang anak yang mendengarkan ibunya<br \/>\nberkata,\u201dHari ini kita akan pergi ke kebun bintang, bukan?\u201d anak akan mencoba<br \/>\nmenirukannya, lalu terbata\u2013bata ia akan mencoba \u201cbercerita\u201d tentang kata \u2013 kata<br \/>\nyang baru dipelajarinya dengan cara serupa. Dengan cara itulah pengalaman<br \/>\ntersebut akan terekan dalam memorinya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketika anak \u2013 anak telah dapat<br \/>\nmengikuti alur kisah, telah dapat membuat sistematika, dan menghubungkan apa<br \/>\nyang telah dilihat dan didengarnya, maka pada saat itulah ia telah dapat<br \/>\nmenyimpan informasi untuk pertama kalinya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Lebih lanjut Nobuo mengatakan<br \/>\nbahwa, kunci pengembangan memori anak\u2013anak adalah dengan mendorong mereka untuk<br \/>\nmenyusun sebuah kisah dengan merangkai sejumlah terbatas kata \u2013 kata yang<br \/>\nmereka miliki. Peran terpenting orang dewasa dalam hal ini adalah berbicara<br \/>\ntentang berbagai hal berbeda kepada anak\u2013anak itu; sebuah tugas sederhana dan<br \/>\nbiasa.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dari hasil penelitian yang<br \/>\ndilakukan Nobuo menunjukkan bahwa membaca buku cerita bergambar merupakan cara<br \/>\npaling efektif untuk membentuk kebiasaan \u201cbercerita\u201d antara anak dan orang<br \/>\ndewasa.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>6. Memberikan Kesenangan di masa<br \/>\nKecil Anak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Salah satu tujuan dongeng adalah memberikan<br \/>\nenjoyment (kesenangan) bagi anak di masa kecilnya. Sebagai pengisi waktu senggang<br \/>\ndongeng merupakan hiburan, yang bukan saja menciptakan suasana santai bagi anak,<br \/>\nmelainkan juga memberikan kesenangan bagi si anak, yang sama nilainya dengan kenikmatan<br \/>\nwaktu bermain.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Perhatikanlah kebahagiaan yang<br \/>\nterpancar dari anak ketika mereka didongengi, bagaimana mereka menjadi bagian<br \/>\ndari pendongengnya, bagaimana mereka dipeluk dalam cerita, dan bagaimana mereka<br \/>\nmenjadi hangat bersama pendongengnya, apakah itu orang tuanya, kakaknya, guru,<br \/>\natau orang dewasa lainnya. Karena pada dasarnya anak-anak menyukai dongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>7. Menanamkan Nilai \u2013 Nilai<br \/>\nKehidupan pada Anak Tanpa Menggurui<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tak dapat disangkal, dongeng<br \/>\nadalah sarana yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan pada<br \/>\nanak tanpa menggurui. Dongeng yang berkesan akan tetap tersimpan dalam memori<br \/>\nanak.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan dongeng, kita bisa<br \/>\nmengajari anak nilai\u2013nilai kehidupan dan ketuhanan dengan cara yang<br \/>\nmenyenangkan. Tanpa disadari oleh anak, kita telah mengajarkan beribu, bahkan berjutakisah<br \/>\nhikmah yang akan menjadi bekal kehidupan mereka.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng sebagai karya sastra juga<br \/>\nmencerminkan jati diri bangsa. salah satu unsur penting dari jati diri bangsa<br \/>\nitu adalah nilai \u2013 nilai budaya. Nilai \u2013 nilai budaya yang dapat kita semai<br \/>\nantara lain, suka menolong, bersyukur, bekerja keras, kebijaksanaan,<br \/>\nmusyawarah, kewaspadaan, gotong royong, kesetiaan dan kepatuhan, tidak iri<br \/>\nhati, kejujuran, keadilan, keberanian, kasih sayang, dan masih banyak lagi<br \/>\nnilai &#8211; nilai budaya yang dapat kita semai pada anak melalui dongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>8. Mempersiapkan Apresiasi Sastra<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Taufiq Ismail, cerita<br \/>\nanak &#8211; anak, seperti dongeng dan hikayat, merupakan saripati pengalaman batin<br \/>\nbangsa. Di dalam cerita itu sesunggguhnya terekam berbagai aspek dari<br \/>\nperjalanan hidup suatu bangsa. Di sana dituturkan suka duka, pencapaian dan kegagalan,<br \/>\nkeberanian dan kepengecutan, kejujuran dan pengkhianatan, dan catatan sejarah<br \/>\nyang dilalui bangsa itu bisa ditemukan dalam bentuk yang indah serta menyentuh perasaan.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Wimanjaya K. Liotohe (1991),<br \/>\nmenuliskan bahwa salah satu manfaat dongeng adalah sampai kepada kehalusan rasa<br \/>\nterhadap seni sastra dan bahan bacaan yang baik dapat dibina dalam diri seorang<br \/>\nanak dengan cara banyak membaca cerita anak &#8211; anak.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>9. Mengembangkan Daya pikir Anak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Banyak sekali manfaat dongeng.<br \/>\nPercaya atau tidak, salah satunya adalah mengembangkan daya pikir anak.<br \/>\nMengutip hasil penelitian tentang pengaruh dongeng terhadap intelegensi anak,<br \/>\nPsikolog Cici Kaloh mengatakan, bahwa intelegensi anak \u2013 anak yang kurang<br \/>\ndidongengi ternyata lebih rendah dibandingkan dengan anak &#8211; anak yang lebih banyak<br \/>\ndidongengi oleh orang tuanya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masih menurut Cici, semakin<br \/>\nbanyak rangsangan yang diterima seorang anak, semakin banyak analisis yang bisa<br \/>\nmereka lakukan. Perkembangan daya pikir, menurut Cici, sangat dipengaruhi oleh<br \/>\nrangsangan lingkungan, yang salah satunya adalah lewat pemberian dongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Prof. Riris menguatkan pendapat<br \/>\ndi atas, menurutnya, karena untuk anak, dongeng menawarkan kesempatan<br \/>\nmenginterpretasi dan mengenali kehidupan di luar pengalaman mereka.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>10. Menumbuhkan Minat Baca pada<br \/>\nAnak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut Suroso (2007), orang yang<br \/>\ntidak memiliki minat baca dapat diubah menjadi peminat baca jika kita mampu<br \/>\nmengkondisikan orang tersebut menyukai bacaan, dimotivasi dengan bertahap<br \/>\ndengan menyenangi bacaanbacaan ringan menuju bacaan yang lebih berat. Salah<br \/>\nsatu solusinya adalah dongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan dongeng anak &#8211; anak akan<br \/>\nterangsang untuk mengetahui dari mana sumber dongeng tersebut. Kemudian anak<br \/>\nakan mencari dan menemukan bahan lebih jauh serta membaca lebih banyak. Pendongeng<br \/>\nmemang tidak pernah bawa &#8211; bawa buku saat mendongeng. Akan tetapi alangkah<br \/>\nlebih baiknya kalau si pendongeng menunjukkan buku yang dipakai sebagai sumber<br \/>\ndongengnya. Dengan menunjukkan buku tersebut, anak bias melihat sumber imajinasi<br \/>\npendongeng. Sehingga anak tahu ke mana mereka harus mencari inspirasi.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seorang pakar di bidang<br \/>\npenumbuhan minat baca, Mary Leonhardt, mengatakan bahwa membacakan dongeng dari<br \/>\nbuku adalah latihan yang baik bagi anak agar ia suka membaca. Bagi anak yang<br \/>\nbelum bisa membaca, kegiatan mendongeng merupakan asaran ideal untuk merangsang<br \/>\nminat baca. Jika akan sudah mampu untuk membaca, mereka tidak akan tergantung<br \/>\nkepada orang tuanya untuk mendapatkan dongeng.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>11.Meningkatkan Perkembangan<br \/>\nBahasa Anak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tahun 2004 ketika indeks<br \/>\nkelulusan anak SMA dinaikkan, banyak siswa SMA yang tidak lulus. UNESCO membuat<br \/>\nriset, ternyata keterbacaan anak Indonesia hanya 0,9%. Artinya kalau mereka<br \/>\nmembaca 100 kata, hanya 9 kata yang mereka kuasai.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jauh sebelumnya pada tahun 1990,<br \/>\ntemuan Indra Ardiana menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah belum dapat<br \/>\nberbahasa tulis dengan baik. Semua itu berhubungan dengan kemampuan berbahasa.<br \/>\nMenurut Sumarti M Thohir, direktur Pustaka Hati Center, mengatakan bahwa<br \/>\nbelajar berbahasa bukan hanya membaca, tapi mulai dari menyimak, berbicara,<br \/>\nmenulis, dan terakhir membaca.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng mampu meningkatkan perkembangan<br \/>\nbahasa anak. Dengan dongeng anak diajak untuk menyimak apa yang diceritakan.<br \/>\nDongeng juga memberikan kesempatan dialogis pada anak untuk menyempaikan<br \/>\ngagasannya atau menanggapi cerita.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedangkan Jim Trelease<br \/>\nmenyebutkan manfaat dongeng diantaranya adalah mengembangkan kosa kata,<br \/>\nmemperkenalkan susunan dan nuasa bahasa. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa<br \/>\ndibacakan buku cerita akan terbiasa pula mendengar bahasa baku, meskipun mereka<br \/>\nbelum bersekolah.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>12. Menumbuhkan Rasa Humor pada<br \/>\nAnak<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Semua anak menyukai humor. Humor<br \/>\ndalam <span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>dongeng sekaligus improvisasi yang<br \/>\nmenyenangkan bagi mereka. Banyak ide humor yang bisa disisipkan ke dalam<br \/>\ncerita. Dengan demikian rasa humor akan tumbuh dengan sendirinya dalam diri<br \/>\nanak.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tulisan kedua dari ketiga tentang dongeng. Tulisan sebelumnya <a href=\"http:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/2020\/09\/sekilas-tentang-dongeng.html?m=1\">sekilas tetang dongeng<\/a>, tulisan selanjutnya <a href=\"http:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/2020\/09\/9-sumber-ide-untuk-dongeng.html?m=1\">9 ide untuk mendongeng<\/a>.&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b><i>Referensi <\/i><\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Afra, Afifah (2007). How To Be A<br \/>\nSmart Writer. Solo: Indiva Media Kreasi<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Annida. (2004). Buku Sakti<br \/>\nMenulis Fiksi. Jakarta: Pustaka Annida<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Danandjaja, James (1973, Mei).<br \/>\nKertas Kerja Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia. Jakarta: Panitia<br \/>\nInventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia (makalah tidak diterbitkan)<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Iper, Dunis, Halimah Jumiati, dan<br \/>\nDagai L. Limin (1998). Legenda dan Dongeng dalam Sastra Dayak Ngaju. Jakarta:<br \/>\nPusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jennings, Paul (2006). Agar Anak<br \/>\nTertular &#8216;Virus&#8217; membaca. Bandung: Mizan Learning Center<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Liotohe, Wimanjaya K. (1991).<br \/>\nPetunjuk Praktis Mengarang Cerita Anak \u2013 Anak. Jakarta: Balai Pustaka<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Nur\u2019aini, Farida. (2007). Ma, Dongengin<br \/>\nAku Yuk!. Solo: Indiva Media Kreasi<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ratnawati, Sinta (ed) (2002).<br \/>\n\u2018Sekolah\u2019 Alternatif Untuk Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kompas<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sarumpaet, Riris K Toha. (2003, September).<br \/>\nCerita, Anak, Kita, dan Ke mana kita? Pidato pada Upacara Pengukuhan Sebagai<br \/>\nGuru Besar Tetap FIB UI. Depok: FIB UI<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Septianingsih, Lustantini, Lukman<br \/>\nHakim, dan Nurweni Saptawuryandari. (1998). Memahami Cerita Anak \u2013 Anak: Studi<br \/>\nKasus Majalah Bobo, Ananda, dan Amanah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan<br \/>\nPengembangan Bahasa<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seokanto SA (1998). Seni<br \/>\nBercerita Islami. Depok: Bina Mitra Press<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Suroso (2007). Panduan Menulis<br \/>\nArtikel dan Jurnal. Yogyakarta: Pararaton Publishing<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Widiastuti, Maria (2002).<br \/>\n(Skripsi). Analisis Fungsi Dongeng Rakyat dan Cerita Khayal Modern Sebagai Alat<br \/>\nPendidikan: Suatu Penelitian Awal Berdasarkan pada Dongeng Binatang Modern dan<br \/>\nDongeng Grimm Bersaudara. Depok: FIB UI<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Media Massa<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Masataka, Nobou (Desember 2002)<br \/>\nMajalah Matabaca Vol. 1 No. 5 Edisi Desember 2002.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Supriyanto (2002, Agustus).<br \/>\nMembina Kebersamaan Melalui Cerita Anak. Warta, hal 21 \u2013 24<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Syahrezade, Ryan (2002, Agustus).<br \/>\nTeknik Bercerita untuk Anak. Warta, hal 19 \u2013 20<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Internet<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Armando, Nina M. Membacakan Buku Dongeng:<br \/>\nBangsaku.com<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yudisia,Sinta. 2009. Sumber<br \/>\nCerita Fiksi. http:\/\/sintayudisia.wordpress.com\/2009\/01\/31\/sumber-cerita-fiksi<o:p><\/o:p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201dCerita sangat bertenaga dan penelitiantelah membuktikan bahwa cerita berperan amat signifikan, bukan hanya dalam perkembangan bahasa anak, tetapi juga perkembangan emosional dan psikologisnya.\u201d (Mary Walsh) Zaman terus berubah. Kemajuan teknologi sangat deras. Lalu muncul dalam benak kita. Di zaman modern ini masih perlukah kita melakukan kegiatan yang sifatnya kuno, seperti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=109"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/109\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=109"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=109"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=109"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}