{"id":110,"date":"2020-09-05T12:37:00","date_gmt":"2020-09-05T12:37:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2020\/09\/05\/sekilas-tentang-dongeng\/"},"modified":"2020-09-05T12:37:00","modified_gmt":"2020-09-05T12:37:00","slug":"sekilas-tentang-dongeng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2020\/09\/05\/sekilas-tentang-dongeng\/","title":{"rendered":"SEKILAS TENTANG DONGENG"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-HyURfeqtlZI\/X0lLJmDAvbI\/AAAAAAAAEQ4\/e18fsZBJgdMU537EB1lQX5OpQnygGhEZgCPcBGAYYCw\/s1200\/20200829_012024_0000.png\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"1200\" data-original-width=\"800\" height=\"410\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-HyURfeqtlZI\/X0lLJmDAvbI\/AAAAAAAAEQ4\/e18fsZBJgdMU537EB1lQX5OpQnygGhEZgCPcBGAYYCw\/w274-h410\/20200829_012024_0000.png\" width=\"274\" \/><\/a><\/div>\n<p><\/p>\n<p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng. Bila mendengar kata itu<br \/>\nmungkin yang ada dalam benak kita adalah kenangan masa kecil di saat malam<br \/>\nsebelum tidur diceritakan kisah \u2013 kisah oleh orang tua. Atau ketika duduk di bangku sekolah, bapak dan ibu guru yang bercerita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Orang tua zaman dulu biasa<br \/>\nmelakukan dongeng menjelang anak \u2013 anak berangkat tidur. Dongeng yang dibawakan<br \/>\nbisa bermacam \u2013 macam, mulai dari cerita rakyat, dongeng tentang binatang,<br \/>\nhingga dongeng tentang kehidupan sehari\u2013hari yang dapat ditemui oleh anak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Apakah anda punya kenangan yang membekas<br \/>\ndengan dongeng? Saya masih bisa mengingat dongeng yang pernah diberikan oleh guru<br \/>\nsekolah dasar saya di kelas enam. Tentang keluarganya dan tentang kisah hidupnya.<br \/>\nTapi apakah dongeng itu hanya kita temui di masa kecil? Tidak juga. Di bangku<br \/>\nSMP sampai duduk di bangku kuliahan pun saya masih mendapatkan dongeng yang<br \/>\ndiceritakan oleh para guru atau para dosen saya. Mereka memang tidak<br \/>\nmenyebutnya sebagai dongeng. Tapi bukankah mendongeng itu sama juga dengan<br \/>\nkegiatan bercerita?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng bisa diidentikan dengan<br \/>\nkegiatan berbagi cerita untuk menciptakan pengalaman bersama. Baik itu cerita<br \/>\norang tua pada anaknya, guru pada muridnya, ataupun pendongeng kepada<br \/>\npendengarnya. <o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Menurut pandangan Soekanto,<br \/>\ndongeng juga merupakan suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya<br \/>\ndengan keindahan dan bersandar kepada kekuatan kata \u2013 kata. Kekuatan kata \u2013<br \/>\nkata inilah yang dipergunakan untuk mencapai tujuan bercerita.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng yang biasa kita kenal<br \/>\nsebenarnya hanya sebagian kecil dari sebuah lingkup besar kebudayaan kolektif<br \/>\nyang dalam Antropologi disebut sebagai foklor. Karena kita adalah bangsa<br \/>\nIndonesia, kita mempunyai foklor Indonesia. Menurut James Danandjaja (1973)<br \/>\nfoklor Indonesia adalah sebagian dari kebuadayaan Indonesia yang tersebar dan<br \/>\ndiwariskan secara turun menurun secara tradisional melalui media lisan maupun contoh<br \/>\nyang disertai dengan perbuatan, di antara anggota\u2013anggota dari kelompok apa<br \/>\nsaja di Indonesia, dalam versi yang berbeda\u2013beda, dalam bentuk lisan, setengah<br \/>\nlisan, maupun bukan lisan.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Danandjaja kemudian membagi<br \/>\nfoklor ke dalam tiga katagori besar, yaitu:<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">1. Folklor Lisan<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang termasuk folklore lisan<br \/>\nantara lain adalah: bahasa rakyat, teka \u2013 teki rakyat, pribahasa, cerita<br \/>\nrakyat, puisi rakyat, nyanyian rakyat, dsb.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">2. Folklor Setengah Lisan<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang termasuk folklore setengah<br \/>\nlisan antara lain adalah: kepercayaan rakyat, permainan serta hiburan rakyat,<br \/>\nteater rakyat, tari rakyat, adat kebiasaan, upacara, pesta rakyat, dsb.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">3. Folklor Bukan Lisan<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Folklor jenis ini dapat dibagi<br \/>\ndua ke dalam dua subbagian, yaitu:<o:p><\/o:p><\/p>\n<ul style=\"margin-top: 0cm;\" type=\"disc\">\n<li style=\"mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify;\">Folklor<br \/>\n     Bukan Lisan Material<o:p><\/o:p><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang termasuk folklor bukan lisan<br \/>\nmaterial adalah: arsitektur rakyat, seni kerajinan rakyat, pakaian serta<br \/>\nperhiasan tubuh, dsb.<o:p><\/o:p><\/p>\n<ul style=\"margin-top: 0cm;\" type=\"disc\">\n<li style=\"mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify;\">Folklor<br \/>\n     Bukan Lisan Non Material<o:p><\/o:p><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify;\">Yang termasuk folklor bukan lisan<br \/>\nnon material adalah: bahasa isyarat dan music tradisional. Dongeng, legenda,<br \/>\ndan mite masuk ke dalam jenis cerita rakyat.<\/p>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><b>Dongeng apa sih?<\/b><\/h3>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kata pepatah sih tak kenal maka<br \/>\ntak sayang. Ada baiknya kalau kita kenalan dulu dengan dongeng yuk! Menurut<br \/>\nDanadjaja (1984), dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar<br \/>\n\u2013 benar terjadi. Dan cerita ini tidak terikat pada waktu dan tempat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Pada tahun 1910, ahli folklor<br \/>\ndari Finlandia, Antti Aarne, menulis buku yang menguraikan jenis \u2013 jenis<br \/>\nfolklor. Karyanya itu kemudian diterjemahkan dan diperkaya oleh Smith Thompson<br \/>\ndari Indiana University pada tahun 1928 dan tahun 1961.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Aarne membagi jenis dongeng<br \/>\nmenjadi empat jenis, yaitu:<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>1. Dongeng Binatang<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam doneng jenis ini yang menjadi<br \/>\ntokoh dalam ceritanya adalah binatang. Cerita tentang si Kancil yang cerdik dan<br \/>\nlicik adalah contoh dongeng binatang paling terkenal di Indonesia.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>2. Dongeng Biasa<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Jenis dongeng ini adalah dongeng<br \/>\nyang ditokohi manusia dengan suka\u2013dukanya. Cinderella mungkin jenis paling<br \/>\nterkenal dalam katagori ini. Beberapa dongeng Indonesia yang setipe dengan<br \/>\nCinderella adalah Ande \u2013 Ande Lumut dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bawang<br \/>\nMerah dan Bawang Putih, si Melati dan si Kecubung dari Jakarta, I Kesuna lan I Bawang<br \/>\ndari Bali. Lalu ada Timun Emas, Batu Batungkup dan banyak lagi kisah sejenis lainnya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>3. Lelucon dan Anekdot<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng jenis ini melimpah ruah<br \/>\njenisnya. Ada yang tentang agama, suku, seks, politik, orang sinting, dan<br \/>\nsebagainya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><b>4. Dongeng Berumus<\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dongeng jenis ini mempunyai tiga<br \/>\nbentuk, yaitu; dongeng bertimbun banyak (berantai), dongeng untuk mempermainkan<br \/>\norang, dan dongeng yang tidak memiliki akhir.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Tulisan pertama dari ketiga tentang dongeng. tulisan selanjutnya <a href=\"http:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/2020\/09\/12-manfaat-dongeng.html?m=1\"><b><i>12 manfaat mendongeng<\/i><\/b><\/a> dan&nbsp;&nbsp;<a href=\"http:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/2020\/09\/9-sumber-ide-untuk-dongeng.html?m=1\"><b><i>9 ide untuk mendongeng<\/i><\/b><\/a>&nbsp;<\/p>\n<p><\/p>\n<p><b>Referensi: <\/b><o:p><\/o:p><\/p>\n<p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">James Danandjaja, (1973, Mei). <b><i>Kertas Kerja Inventarisasi<br \/>\ndan Dokumentasi Folklore Indonesia<\/i><\/b>. Jakarta: Panitia Inventarisasi danDokumentasi<br \/>\nFolklore Indonesia (makalah tidak diterbitkan)<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Seokanto SA (1998). <b><i>Seni Bercerita Islami<\/i><\/b>. Depok: Bina Mitra<br \/>\nPress<\/p>\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dongeng. Bila mendengar kata itu mungkin yang ada dalam benak kita adalah kenangan masa kecil di saat malam sebelum tidur diceritakan kisah \u2013 kisah oleh orang tua. Atau ketika duduk di bangku sekolah, bapak dan ibu guru yang bercerita. Orang tua zaman dulu biasa melakukan dongeng menjelang anak \u2013 anak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=110"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/110\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=110"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=110"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=110"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}