{"id":166,"date":"2017-05-17T14:47:00","date_gmt":"2017-05-17T14:47:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2017\/05\/17\/menulis-untuk-melawan-traumatis-cerita-di-balik-buku-habibie-ainun\/"},"modified":"2017-05-17T14:47:00","modified_gmt":"2017-05-17T14:47:00","slug":"menulis-untuk-melawan-traumatis-cerita-di-balik-buku-habibie-ainun","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2017\/05\/17\/menulis-untuk-melawan-traumatis-cerita-di-balik-buku-habibie-ainun\/","title":{"rendered":"Menulis untuk melawan Traumatis; cerita di balik buku Habibie &#038; Ainun"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-BimdMlv6CgU\/X-XYE7H-IjI\/AAAAAAAAEtA\/9yCe2Bv_ZjEES1pRWgASA1UY2ZuZZZekQCLcBGAsYHQ\/s678\/images%2B%25286%2529.jpeg\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"452\" data-original-width=\"678\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-BimdMlv6CgU\/X-XYE7H-IjI\/AAAAAAAAEtA\/9yCe2Bv_ZjEES1pRWgASA1UY2ZuZZZekQCLcBGAsYHQ\/s320\/images%2B%25286%2529.jpeg\" width=\"320\" \/><\/a><\/div>\n<blockquote style=\"text-align: justify;\"><p>\n\u201c<i>Saya menderita<br \/>\npsychosomatic malignant karena kehilangan pendamping saya selama 48<br \/>\ntahun 10 hari. Jadi saya menulis untuk terapi penyembuhan<\/i>,\u201d&nbsp;<span style=\"text-align: center;\">-BJ. Habibie-<\/span><\/p><\/blockquote>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAnda tahu film laris Habibie &amp;<br \/>\nAinun? Film yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari itu<br \/>\ndiadaptasi dari buku laris berjudul sama yang ditulis oleh eyang BJ<br \/>\nHabibie. Tapi tahukah anda bahwa buku Habibie &amp; Ainun adalah hasil<br \/>\nterapi trauma kehilangan yang begitu dalam dari sang Presiden ke 3<br \/>\nRepublik Indonesia itu? Kalau belum kebetulan ada kisah dibalik buku<br \/>\ntersebut.<\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/www.blogger.com\/null\" style=\"clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;\"><\/a><img decoding=\"async\" alt=\"\" class=\"size-medium wp-image-61 aligncenter\" data-recalc-dims=\"1\" src=\"http:\/\/i1.wp.com\/kangyunus.web.id\/wp-content\/uploads\/2017\/01\/Buku_Habibie_Ainun-1.jpg?resize=198%2C300\" \/><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTempo pernah memuat wawancara dengan<br \/>\nBJ Habibi tentang proses penulisan buku tersebut. Ternyata buku yang<br \/>\nmenggambarkan perjalanan cinta Habibie dengan istrinya, Hasri Ainun<br \/>\nHabibie, adalah hasil dari treatment psikologi. Ketika wartawan Tempo<br \/>\nbertanya apakah Buku ini ditujukan untuk Sang isteri?<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nEyang Habibie menjawab bahwa ini untuk<br \/>\n terapi diri. Keadaan eyang Habibie tidak menguntungkan (dalam pengantar<br \/>\n buku disebutkan mengalami psychosomatic malignant) karena mempengaruhi<br \/>\norgan jantung, ginjal, semua. Sampai dokter mengatakan, kalau eyang<br \/>\nHabibie tidak di-treatment, paling banter tiga bulan eyang Habibie<br \/>\n(bakal) nyusul Ibu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTernyata gejala psychosomatic<br \/>\nmalignant muncul bukan sejak menunggu sang isteri terbaring lemah di<br \/>\nrumah sakit. Melainkan setelah sang pendamping setia dalam suka dan duka<br \/>\n pergi untuk selamanya. Eyang Habibie diberi saran oleh dokter tiga hal,<br \/>\n yaitu \u201ccurhat\u201d kepada sejumlah teman dan sahabatnya maupun sahabat sang<br \/>\n isteri; kedua, menjalani terapi psikiatris dan dengan obat; yang<br \/>\nketiga, eyang Habibie harus hadapi sendiri dengan berdialog kepada diri<br \/>\nsendiri. Dan eyang Habibie ambil yang ketiga karena gelombang emosi dan<br \/>\ntopan emosinya tidak bisa diprediksi.<br \/>\n\u201cKalau yang pertama dan kedua, gelombang emosi muncul saat tidak ada<br \/>\norang-orang itu bagaimana? saya akan bergantung pada tim atau berada di<br \/>\nrumah sakit, gila apa saya?\u201d &nbsp;begitu kata eyang Habibie<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSejak kapan menulis? Eyang Habibie<br \/>\nmenjawab awal Juni. Dua pekan setelah sang penyejuk mata meninggal.<br \/>\nDalam bulan pertama, Eyang Habibie menulis dengan terus menangis,<br \/>\nmengenang istri yang sangat dicintainya. Sampai perlahan-lahan<br \/>\nkondisinya membaik dan bisa berdamai dengan kehilangan dan duka yang<br \/>\nbegitu luar biasa dalam. Dan sampai tulisan ini dibuat, Habibie masih<br \/>\nada dan terus beraktivitas di usia senjanya.<\/div>\n<h3 style=\"text-align: justify;\"><b>Menulis sebagai terapi<\/b><\/h3>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDalam Quantum writing karangan<br \/>\nHarnowo, disebutkan bagaimana menulis itu bisa menjadi obat dan bahkan<br \/>\nmembuat si penulis menjadi sehat dan menambah kekebalan tubuh. Hal ini<br \/>\nberdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr.Pennebaker, seorang<br \/>\npsikolog dari Amerika. Menurut Dr. Pennebaker mereka yang menuliskan<br \/>\ntrauma bahkan bila itu trauma terburuk sekalipun ternyata akan lebih<br \/>\nmudah melupakan atau setidaknya mengatasi masalah trauma tersebut.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nMemang dalam jangka pendek setelah<br \/>\nkita menulis hal-hal yang menjadi trauma kita hal itu akan membuat kita<br \/>\nteringat dengan trauma kita dan membuat kita jatuh ke dalam kesedihan<br \/>\natau trauma yang lebih dalam. Mungkin alasan inilah yang banyak membuat<br \/>\norang malas atau enggan menuliskan tentang trauma, mereka hanya mencoba<br \/>\nmelupakan dengan beralih kepada hal-hal lain. Hal ini seperti lari dari<br \/>\nmasalah dan tidak menyelesaikan trauma itu. Menurut penelitian itu,<br \/>\nkesedihan paska penulisan trauma itu hanya berlangsung beberapa hari<br \/>\nsaja. Dalam jangka panjang mereka yang telah menulis pengalaman<br \/>\ntraumatisnya ternyata jauh lebih tegar dan mengelola trauma mereka.<br \/>\nLebih lanjut Dr. Pennebaker mengatakan bahwa, Orang-orang yang<br \/>\nmenuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman<br \/>\ntraumatis menunjukan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan<br \/>\ndengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh. Menulis<br \/>\ntentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang mereka alami<br \/>\nmenghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif,<br \/>\n dan kesehatan fisik yang lebih baik.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nNah, bagi kamu yang punya pengalaman<br \/>\ntraumatis, sekarang ambilah kertas dan pulpen. Tuliskan semua resah dan<br \/>\ngundah anda dalam tulisan itu. Tak perlu perhatikan struktur dan ejaan.<br \/>\nTulis saja semua yang ingin kamu tulis. Seperti Habibie yang berjuang<br \/>\nmelawan traumatisnya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSemoga bermanfaat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u2014<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<div><b><i>Referensi<\/i><\/b>:<\/div>\n<div><a href=\"https:\/\/m.tempo.co\/read\/news\/2010\/12\/12\/173298346\/tiga-jam-bersama-bj-habibie-ibu-ainun-cinta-sejati\" rel=\"nofollow noopener\" target=\"_blank\">https:\/\/m.tempo.co\/read\/news\/2010\/12\/12\/173298346\/tiga-jam-bersama-bj-habibie-ibu-ainun-cinta-sejati<\/a><\/div>\n<\/div>\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cSaya menderita psychosomatic malignant karena kehilangan pendamping saya selama 48 tahun 10 hari. Jadi saya menulis untuk terapi penyembuhan,\u201d&nbsp;-BJ. Habibie- Anda tahu film laris Habibie &amp; Ainun? Film yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari itu diadaptasi dari buku laris berjudul sama yang ditulis oleh eyang BJ Habibie. Tapi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=166"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=166"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=166"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=166"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}