{"id":189,"date":"2016-07-31T14:17:00","date_gmt":"2016-07-31T14:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/07\/31\/titik-nadir-pelajaran-dari-messi-ronaldo-dan-ranieri\/"},"modified":"2016-07-31T14:17:00","modified_gmt":"2016-07-31T14:17:00","slug":"titik-nadir-pelajaran-dari-messi-ronaldo-dan-ranieri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/07\/31\/titik-nadir-pelajaran-dari-messi-ronaldo-dan-ranieri\/","title":{"rendered":"Titik Nadir: pelajaran dari Messi, Ronaldo dan Ranieri"},"content":{"rendered":"<p><\/p>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<a href=\"https:\/\/www.blogger.com\/null\" style=\"clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;\"><\/a><a href=\"http:\/\/i0.wp.com\/2.bp.blogspot.com\/-5d2vBOCaG6c\/WIhLIwpXrpI\/AAAAAAAAC1Y\/1bQI8JqvG2IgjENfJKDm2yh9aRPRDeWNQCPcB\/s1600\/image020.jpg?ssl=1\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" class=\"aligncenter\" data-recalc-dims=\"1\" src=\"http:\/\/i1.wp.com\/2.bp.blogspot.com\/-5d2vBOCaG6c\/WIhLIwpXrpI\/AAAAAAAAC1Y\/1bQI8JqvG2IgjENfJKDm2yh9aRPRDeWNQCPcB\/s320\/image020.jpg?resize=320%2C178&amp;ssl=1\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\nTangisan Messi<\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\nOle.com.ar<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nbercucuran air mata dan langkah gontai<br \/>\n ketika messi mengakhiri final copa America Centanario. Untuk kesekian<br \/>\nkalinya Messi gagal membawa Argentina memenangi kompetisi mayor antar<br \/>\nnegara, meski empat kali tampil di final. Dan apesnya ia juga turut<br \/>\nberperan atas kegagalan tersebut, ketika sepakannya dari titik putih<br \/>\njauh dari sasaran. Kesedihan dan kekecewaan yang begitu dalam terlukis<br \/>\njelas dari raut wajahnya.Dan mengambil sebuah keputusan emosional untuk<br \/>\npensiun dari timnas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTak berapa lama, gelaran piala eropa<br \/>\ndigelar.Diluar dugaan Portugal untuk pertama kalinya memenangi tropi<br \/>\npertama mereka. Dan kemenangan Portugal memberikan warna persaingan yang<br \/>\n berbeda antar persaingan dua mega bintang sepak bola dunia: Messi vs<br \/>\nRonaldo. Kedua pemain hebat dengan capaian pribadi dan prestasi klub<br \/>\nyang mentereng.Meski sama-sama hebat, sebelum tahun 2016 belum pernah<br \/>\nada diantara keduanya yang mengantarkan negara masing-masing merenggut<br \/>\nmahkota juara di kompetisi antar negara. Tapi kemenangan Portugal atas<br \/>\nPrancis meneguhkan pencapaian Ronaldo tidak hanya di level klub, dan<br \/>\nmembuatnya unggul atas Messi dari segi pencapaian bersama Timnas.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nLebih naasnya lagi, datang berita<br \/>\nhukum terkait Messi.Peraih empat titel Pemain terbaik dunia ini<br \/>\ntersandung masalah pajak. Membuat sang mega bintang Barcelona ini<br \/>\nmenyandang status pesakitan. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.Awan pekat<br \/>\n menyelimuti kehidupan Messi.Bisa jadi inilah titik nadir dari karirnya<br \/>\nsebagai pesepak bola.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBagaimana rasanya jadi messi?Dalam<br \/>\nbenak saya pasti sangat kecewa. Ada rasa cemburu juga pastinya melihat<br \/>\nsaingan pecah telur dan melewati pencapaian sendiri!<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTapi sikap iri tidak akan<br \/>\nmenyelesaikan masalah. Malah menambah beban pikiran dan menggerogoti<br \/>\nmental. Ditiap kesuksesan orang lain belum tentu ada jatah kesuksesan<br \/>\nkita. Ada baiknya tidak usah iri apalagi sampai ingin merebut<br \/>\nkebahagiaan orang lain.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nHal yang bisa dilakukan adalah melihat<br \/>\n proses kesuksesan seseorang. Dibalik proses menuju kesuksesan ada<br \/>\npelajaran yang tersimpan di sana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nMari flashback pada laga final piala<br \/>\nEropa antara Portugal vs Perancis.Sama seperti Messi, Ronaldo merupakan<br \/>\nsosok yang menjadi tulang punggung bagi negaranya.Beban besar juga<br \/>\ntersemat di pundak mega bintang Real Madrid tersebut.Dan pada menit ke<br \/>\n25, dunia pun menyaksikan Ronaldo menangis, seperti halnya Messi. Saat<br \/>\nia harus menyerah karena tubuhnya sudah tidak sanggup lagi melanjutkan<br \/>\nlaga. Tangis kesedihan yang dalam, meratapi nasib seolah harapannya<br \/>\npupus sudah untuk membantu negaranya menjadi juara eropa. Apalagi<br \/>\nmengingat usia yang sudah menginjak 31, momen sekarang atau tidak sama<br \/>\nsekali menghampirinya karena semua orang tahu, dengan sederet gelar<br \/>\njuara di level klub maupun indivu, Cristiano belum pernah mengantarkan<br \/>\nPortugal berjaya di Eropa dan kesempatan itu, kesempatan yang sudah di<br \/>\nada di depan mata, bagai sirna diterpa cedera.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nRonaldo ditandu keluar lapangan dengan<br \/>\n sakit di hati yang lebih dalam dari sekedar cederanya. Meski demikian,<br \/>\nloyalis Prancis yang mengetahui betul timnya diuntungkan, tetap menaruh<br \/>\nrasa hormat pada sang bintang dengan memberikan aplaus.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nNamun Ronaldo memberikan kejutan<br \/>\nsekaligus pelajaran yang berharga. Alih-alih menyerah dan berbaring di<br \/>\nruang medis, ia memilih jalan lain. Masuk ke pinggir lapangan dengan<br \/>\nlutut dibebat perban dan berperan sebagai motivator bagi rekan-rekannya.<br \/>\n Ketidakhadiran di tengah lapangan digantikan dengan posisi motivator<br \/>\ntim di tepi lapangan, pilihan yang membuat rekan-rekannya bangkit dan<br \/>\ntak mau mengalah dari tuan rumah.<\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\n<a href=\"http:\/\/i2.wp.com\/4.bp.blogspot.com\/-q_KOmcNz4BY\/WIhLKWJLeYI\/AAAAAAAAC1k\/sPZk089dXXcSdRhEL7rIAI4s6DgEaTYNwCPcB\/s1600\/image021.jpg?ssl=1\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-recalc-dims=\"1\" src=\"http:\/\/i0.wp.com\/4.bp.blogspot.com\/-q_KOmcNz4BY\/WIhLKWJLeYI\/AAAAAAAAC1k\/sPZk089dXXcSdRhEL7rIAI4s6DgEaTYNwCPcB\/s320\/image021.jpg?resize=240%2C320&amp;ssl=1\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\nRonaldo memotivasi rekan-rekannya dari tepi lapangan<\/div>\n<div style=\"text-align: center;\">\nFoto: (REUTERS\/John Sibley)<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSang pencetak gol semata wayang pada<br \/>\nfinal tersebut, Eder, mengakui pengaruh motivasi yang diberikan oleh<br \/>\nRonaldo. Menurut Eder, sang kapten masih memiliki pengaruh yang besar<br \/>\nkarena ia memberi kepercayaan diri untuk rekan-rekannya agar bisa meraih<br \/>\n kemenangan tanpa dirinya. Eder pun menambahkan bahwa: \u201c[Ronaldo]<br \/>\nmengatakan kepada saya kalau saya bakal mencetak gol penentu kemenangan<br \/>\nuntuk tim,\u201d<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nHanya dalam hitungan jam, Ronaldo<br \/>\nmerubah keadaannya dari titik nadir menjadi di atas. Yah Roda nasib<br \/>\nmemang berputar kadang di bawah dan kadang di atas.Messi bisa jadi<br \/>\nsedang berada di titik nadirnya. Tapi siapa tahu ia akan menuju puncak<br \/>\nkejayaannya. Begitu pun kecepatan roda berputar ada yang cepat ada juga<br \/>\nyang lambat.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nCepat Atau Lambat Roda terus berputar<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSebelum Ronaldo dan Portugal menjuarai<br \/>\n Eropa, khalayak sudah dikejutkan terlebih dahulu oleh Leicester city<br \/>\nyang menjuarai Liga Inggris dengan mempercundangi klub \u2013 klub super kaya<br \/>\n yang bertabur bintang. Pada leicester city kita akan menukil kisah<br \/>\ntitik nadir sang manajernya Claudio Ranieri.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nClaudio Ranieri pernah mengalami momen<br \/>\n terburuk dalam karier kepelatihannya.Saat dirinya dipecat sebelum<br \/>\ntugasnya benar-benar rampung di Chelsea.Bahkan media-media Inggris<br \/>\nmenyebutnya sebagai Dead man walking, alias zombie. Bagi anda yang lupa<br \/>\ndengan pemecatan Ranieri, bisa digambarkan seperti berikut<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nProses pemakzulan Ranieri sangat<br \/>\nmenyakitkan. Nasibnya sudah berada di ujung tiang gantungan, bahkan<br \/>\nsebelum dia sempat merampungkan tugasnya di klub London Barat<br \/>\ntersebut.Bagaimana tidak, beberapa jam sebelum timnya bertarung<br \/>\nhabis-habisan melawan AS Monaco di semifinal Liga Champions 2003-2004,<br \/>\npara pejabat Chelsea bertemu dengan pelatih FC Porto saat itu Jose<br \/>\nMourinho.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTak tanggung-tanggung, pemilik klub<br \/>\nRoman Abramovich dan chief executive Peter Kenyon turun langsung menemui<br \/>\n pelatih Portugal tersebut.Saat mereka mengumbar senyum, berjabat<br \/>\ntangan, dan mungkin cipika-cipiki menyepakati kontrak kepelatihan musim<br \/>\nselanjutnya, Ranieri seorang diri berteriak dari pinggir<br \/>\nlapangan.Menyemangati anak asuhnya yang dihancurkan Monaco 3-1.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nRanieri bahkan tak diberi waktu untuk<br \/>\nmembuktikan dirinya layak.Musim sudah berakhir untuknya, meski beberapa<br \/>\nlaga masih tersisa. Empat pertandingan Premier League dan second leg<br \/>\nLiga Champions melawan Monaco. Sejumlah media Inggris menyebut kondisi<br \/>\nRanieri seperti zombie, \u201cDead man walking.\u201dInsiden itu membuat mantan<br \/>\npemain AS Roma tersebut mulai belajar bagaimana rasanya ditikam dari<br \/>\nbelakang.Pengkhianatan memang pahit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nRanieri pun berkelana ke beberapa klub<br \/>\n di berbagai negara dengan menyandang julukan Mr Runer up.Selain<br \/>\nmemiliki julukan \u2018Tinkerman\u2019 karena sering melakukan rotasi pemain,<br \/>\nRanieri juga mendapat julukan \u2018Mr Runner-up\u2019.Julukan itu didapat Ranieri<br \/>\n karena prestasi terbaik pelatih 64 tahun itu di liga adalah selalu<br \/>\nmenjadi runner-up bersama Chelsea, Juventus, AS Roma, dan AS Monaco.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSampai akhirnya awal musim 2015-2016<br \/>\nRanieri ditunjuk menjadi manajer Leicester City menggantikan posisi<br \/>\nNigel Pearson.Ranieri diragukan banyak pihak, bahkan oleh legenda<br \/>\nLeicester Gary Lineker.Namun, Ranieri berhasil menciptakan keajaiban<br \/>\ndengan membawa Leicester menjadi juara Liga Primer dengan nilai skuad<br \/>\nsetara rekrutan anyar Manchester city bernama Kevin De Bruyne.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTentu yang lebih istimewa dari<br \/>\nkeberhasilan Ranieri adalah tempat penasbihan gelar juara yang<br \/>\nberlangsung di kandang Chelsea.Sebuah momen istimewa kembalinya Ranieri<br \/>\nke kandang Chelsea dengan membawa kesuksesan bersejarah bagi The<br \/>\nFoxes.Pasalnya, Leicester City telah memastikan gelar juara musim ini,<br \/>\nsementara Chelsea tidak mengejar finis di posisi tertentu pada klasemen.<\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<div>\n<a href=\"http:\/\/i2.wp.com\/4.bp.blogspot.com\/-4y3ziNhLYFg\/WIhLLqQ5IPI\/AAAAAAAAC1o\/hJUCslshEaYeqbHJ5F7OwB5mKvERJhi4ACPcB\/s1600\/image022.jpg?ssl=1\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-recalc-dims=\"1\" src=\"http:\/\/i0.wp.com\/4.bp.blogspot.com\/-4y3ziNhLYFg\/WIhLLqQ5IPI\/AAAAAAAAC1o\/hJUCslshEaYeqbHJ5F7OwB5mKvERJhi4ACPcB\/s1600\/image022.jpg?w=640&amp;ssl=1\" \/><\/a><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDan butuh 11 tahun bagi pelatih asal<br \/>\nItalia itu untuk membuktikan bahwa keputusan owner Chelsea Roman<br \/>\nAbramovich memecat dirinya 11 tahun lalu adalah kesalahan<br \/>\nbesar.Sekaligus memupus julukan lamanya sebagai spesialis runer up.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAkhir kata, seperti roda nasib yang<br \/>\nberputar, kita semua akan mengalami kondisi titik nadir\u2026 Jika berada di<br \/>\ntitik itu, jangan menyerah\u2026<\/div>\n<div><\/div>\n<footer>\n   <\/footer>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tangisan Messi Ole.com.ar bercucuran air mata dan langkah gontai ketika messi mengakhiri final copa America Centanario. Untuk kesekian kalinya Messi gagal membawa Argentina memenangi kompetisi mayor antar negara, meski empat kali tampil di final. Dan apesnya ia juga turut berperan atas kegagalan tersebut, ketika sepakannya dari titik putih jauh dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=189"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/189\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=189"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=189"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=189"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}