{"id":190,"date":"2016-07-28T14:14:00","date_gmt":"2016-07-28T14:14:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/07\/28\/hinaan-hinaan-yang-menguatkan\/"},"modified":"2016-07-28T14:14:00","modified_gmt":"2016-07-28T14:14:00","slug":"hinaan-hinaan-yang-menguatkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/07\/28\/hinaan-hinaan-yang-menguatkan\/","title":{"rendered":"Hinaan-Hinaan Yang Menguatkan"},"content":{"rendered":"<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<div>\n<a href=\"http:\/\/i0.wp.com\/4.bp.blogspot.com\/-_lH4pG0pnmY\/WIdibqGNyGI\/AAAAAAAAC0I\/LZoFQw9YnU4aStSUKIWElruoPGbK5VCVACLcB\/s1600\/P_20160718_133417.jpg?ssl=1\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-recalc-dims=\"1\" src=\"http:\/\/i2.wp.com\/4.bp.blogspot.com\/-_lH4pG0pnmY\/WIdibqGNyGI\/AAAAAAAAC0I\/LZoFQw9YnU4aStSUKIWElruoPGbK5VCVACLcB\/s320\/P_20160718_133417.jpg?resize=320%2C180&amp;ssl=1\" \/><\/a><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTidak semua orang bisa menginjakkan<br \/>\nkaki di istana kepresidenan. Saya berkesempatan lebih dari sekali<br \/>\nberkunjung ke sana. Bukan buat plesiran, apalagi berburu pokemon, tapi<br \/>\nmengantar produk yang dibeli istana.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDi kesempatan kedua kalinya<br \/>\nmenginjakkan kaki di istana, saya malah terngiang kejadian-kejadian<br \/>\nsilam. Bukan kejadian yang terlalu mengenakan. Penggalan ingatan tentang<br \/>\n hinaan-hinaan yang pernah didapat saat memulai usaha.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSebelum mengulas apa saja itu. Saya<br \/>\ningin mengajak anda untuk terbang dulu ke negeri yang jauh di sana,<br \/>\nterlampau waktu berpuluh tahun lalu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nYah, di sebuah perusahaan pertambangan<br \/>\n minyak di Arab Saudi, di akhir tahun 40-an. Seorang pegawai rendahan,<br \/>\nremaja lokal asli Saudi, kehausan dan bergegas mencari airuntuk menyiram<br \/>\n tenggorokannya kering. Ia begitu gembira ketika melihat air dingin yang<br \/>\n tampak didepannya dan bersegera mengisi air dingin ke dalam gelas.<br \/>\nBelum sempat ia minum, tangannya terhenti oleh sebuah hardikan \u201cHei,<br \/>\nkamu tidak boleh minum air ini. Kamu cuma pekerja rendahan. Air ini<br \/>\nhanya khusus untuk insinyur\u201d Suara itu berasal dari mulut seorang<br \/>\ninsinyur Amerika yang bekerja di perusahaan tersebut. Remaja itu<br \/>\nakhirnya hanya terdiam menahan haus. Ia tahu ia hanya anak miskin<br \/>\nlulusan sekolah dasar. Kalaupun ada pendidikan yang dibanggakan, ia<br \/>\nlulusan lembaga Tahfidz Quran,tapi keahlian itu tidak ada harganya di<br \/>\nperusahaan minyak yang saat itu masih dikendalikan oleh manajeman<br \/>\nAmerika.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nHardikan itu selalu terngiang di<br \/>\nkepalanya. Ia lalu bertanya-tanya: Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa<br \/>\nsegelas air saja dilarang untuk ku? Apakah karena aku pekerja rendahan,<br \/>\nsedangkan mereka insinyur? Apakah kalau aku jadi insinyur aku bisa<br \/>\nminum? Apakah aku bisa jadi insinyur seperti mereka? Pertanyaan ini<br \/>\nselalu tengiang-ngiang dalam dirinya. Kejadian ini akhirnya menjadi<br \/>\nmomentum baginya untuk membangkitkan \u201cDENDAM POSITIF\u201dAkhirnya muncul<br \/>\nkomitmen dalam dirinya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nRemaja miskin itu lalu bekerja keras<br \/>\nsiang hari dan melanjutkan sekolah malam hari. Hampir setiap hari ia<br \/>\nkurang tidur untuk mengejar ketertinggalannya. Tidak jarang olok-olok<br \/>\ndari teman pun diterimanya. Buah kerja kerasnya menggapai hasil. Ia<br \/>\nakhirnya bisa lulus SMA. Kerja kerasnya membuat perusahaan memberi<br \/>\nkesempatan padanya untuk mendalami ilmu. Ia dikirim ke Amerika mengambil<br \/>\n kuliah S1 bidang teknik dan master bidang geologi. Pemuda ini lulus<br \/>\ndengan hasil memuaskan. Selanjutnya ia pulang ke negerinya dan bekerja<br \/>\nsebagai insinyur. Kini ia sudah menaklukkan dendamnya, kembali sebagai<br \/>\ninsinyur dan bisa minum air yang dulu dilarang baginya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nApakah sampai di situ saja. Tidak,<br \/>\nkarirnya melesat terus. Ia sudah terlatih bekerja keras dan mengejar<br \/>\nketinggalan, dalam pekerjaan pun karirnya menyusul yang lain. Karirnya<br \/>\nmelonjak dari kepala bagian, kepala cabang, manajer umum sampai akhirnya<br \/>\n ia menjabat sebagai wakil direktur, sebuah jabatan tertinggi yang bisa<br \/>\ndicapai oleh orang lokal saat itu.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAda kejadian menarik ketika ia<br \/>\nmenjabat wakil direktur. Insinyur Amerika yang dulu pernah mengusirnya,<br \/>\nkini justru jadi bawahannya. Suatu hari insinyur bule ini datang<br \/>\nmenghadap karena ingin minta izin libur dan berkata; \u201cAku ingin<br \/>\nmengajukan izin liburan. Aku berharap Anda tidak mengaitkan kejadian air<br \/>\n di masa lalu dengan pekerjaan resmi ini. Aku berharap Anda tidak<br \/>\nmembalas dendam, atas kekasaran dan keburukan perilakuku di masa<br \/>\nlalu\u201dApa jawab sang wakil direktur mantan pekerja rendahan ini: \u201cAku<br \/>\ningin berterima kasih padamu dari lubuk hatiku paling dalam karena kau<br \/>\nmelarang aku minum saat itu. Ya dulu aku benci padamu. Tapi, setelah<br \/>\nizin Allah, kamu lah sebab kesuksesanku hingga aku meraih sukses ini.<br \/>\n\u201cKini dendam positif lainnya sudah tertaklukkan. Lalu apakah ceritanya<br \/>\nsampai di sini? Tidak.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<a href=\"https:\/\/www.blogger.com\/null\" style=\"clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;\"><\/a>Akhirnya mantan pegawai rendahan ini<br \/>\nmenempati jabatan tertinggi di perusahaan tersebut. Ia menjadi Presiden<br \/>\nDirektur pertama yang berasal dari bangsa Arab. Tahukah Anda apa<br \/>\nperusahaan yang dipimpinnya? Perusahaan itu adalah Aramco (Arabian<br \/>\nAmerican Oil Company) perusahaan minyak terbesar di dunia. Ditangannya<br \/>\nperusahaan ini semakin membesar dan kepemilikan Arab Saudi semakin<br \/>\ndominan. Kini perusahaaan ini menghasilakn 3.4 juta barrels (540,000,000<br \/>\n m3) dan mengendalikan lebih dari 100 ladang migas di Saudi Arabia<br \/>\ndengan total cadangan 264 miliar barrels (4.20\u00d71010 m3) minyak dan 253<br \/>\ntriliun cadangan gas. Atas prestasinya Ia ditunjuk Raja Arab Saudi untuk<br \/>\n menjabat sebagai Menteri Perminyakan dan Mineral yang mempunyai<br \/>\npengaruh sangat besar terhadap dunia. Orang itu adalah Ali bin Ibrahim<br \/>\nAl-Naimi yang sejak tahun 1995 sampai 2011 menjabat Menteri Perminyakan<br \/>\ndan Mineral Arab Saudi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSeperti kisah Ali bin Ibrahim Al-Naimi di atas, saya pun pernah mendapatkan momen di mana pernah dihina dan merasa direndahkan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKembali lagi ke istana. Yang membuat<br \/>\nsaya bisa menginjakkan kaki di sana adalah posisi perusahaan yang<br \/>\nmenjadi supplier Bran untuk pakan rusa. Bran yang dijual berasal dari<br \/>\nBogasari Flour Mils. Tapi tahukah anda bagaimana pengalaman pertama saya<br \/>\n saat membeli produk bogasari? Tidak terlalu menyenangkan!<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSaat itu, 2013. Sebagai peternak yang<br \/>\nsedang belajar mengembangkan usahanya, kami berusaha mencari pakan<br \/>\nlangsung ke pabrik. Sebagai upaya untuk mendapatkan harga yang lebih<br \/>\nmurah. Kami pun melakukan pembelian pertama, ternyata tidak bisa membeli<br \/>\n langsung ke Bogasari, mesti ke perusahaan distributor. Akhirnya dapat<br \/>\njuga DO menggunakan sebuah perusahaan di Jaksel.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPengalaman yang paling tidak<br \/>\nmenyenangkan adalah sikap security pabriknya yang songong. Saya disebut<br \/>\nkenek, padahal saya bayar lebih dari sepuluh juta buat DO. Bayangkan,<br \/>\ndisebut kenek. Kesel dan mangkel, jadi konsumen mau ambil barang yang<br \/>\nsudah dibayar jauh-jauh hari malah disebut kenek mobil.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTapi hanya butuh dua tahun untuk<br \/>\nmengubah keadaaan. Penghujung tahun 2015, saat senja menyergap saya<br \/>\ndapat telpon masuk, mengenalkan dirinya dari pihak bogasari. Ternyata<br \/>\nBogasari mengakuisisi PT. BIG di Tangerang, ia menawarkan beberapa<br \/>\nproduk cuci gudang dari pabrik untuk pakan ternak. Dan saya pun setuju<br \/>\nuntuk beli, harga pabrik selalu lebih murah dibandingkan harga<br \/>\ndistributor mana pun.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTernyata orang itu adalah pimpinan<br \/>\nmarketing di Bogasari pusat. Untuk pembelian selanjutnya Kami pun<br \/>\ndiminta mengurus berbagai persyaratan untuk bisa mengeluarkan DO<br \/>\nsendiri. Alhamdulillah sejak januari 2016 DO sudah atas nama CV.<br \/>\nNurbarokah Unggul Sejahtera. Saat ini, dengan kekuatan digital weblog<br \/>\nkami malah bisa mengalahkan situs bogasari untuk term-term by product<br \/>\nbogasari seperti pollard dan bran. Sampai akhirnya ada pemenang tender<br \/>\nistana yang menemukan nomor telpon saya via simbah Google.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nTapi hinaan yang paling saya ingat<br \/>\nadalah ketika kami pertama kali terjun ke B to B. Kami menjadi suplier<br \/>\nuntuk itik pada tahun 2014 untuk sebuah perusahaan. Hal yang membuat<br \/>\nsaya dihina adalah saat penagihan, saya sampai dibuat bengong.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSaat itu saya menagih ke direktur<br \/>\nsebuah perusahaan yang jadi konsumen kami. Jumlah penagihannya lumayan<br \/>\nbagi peternak seperti saya, nilainya lebih dari 50 jt. Masalahnya saya<br \/>\nlihat dia gak bawa uang sebanyak itu. Ia Lihat memo terus ngambil buku<br \/>\nkecil seukuran buku kwitansi. Coret-coret, trus tanda tangan dan<br \/>\ndiberikan kepada saya. Respon saya saat itu polos sekali, \u201cBukan pake<br \/>\nuang cash, pak?\u201d Si direktur cengengesan \u201cIni cek, pak yunus! Emang pak<br \/>\nyunus belum pernah lihat cek?\u201d \u201cBelum, pak\u201d Tawanya pecah, geleng-geleng<br \/>\n kepala. \u201cPak yunus, itu sampeyan punya rekening bank, masa cek gak<br \/>\ntau?\u201d Si direktur pemilik grup usaha yang punya 3 perusahaan itu terus<br \/>\nsaja ngakak, sampai ia pegang pundak saya, sambil berbisik. \u201cGedein<br \/>\nusahanya, punya perusahaan sendiri trus buka cek sendiri!\u201d Akhirnya saya<br \/>\n balik kanan, membawa selembar cek. Dan pergi ke bank untuk mencairkan<br \/>\ncek pertama saya.<\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSaya saya ingat ucapannya, \u201cGedein<br \/>\nusahanya\u201d. Kalimat yang membuat saya jungkir balik membesarkan usaha.<br \/>\nMeski ternyata membesarkan usaha tidak mudah. Kapasitas pribadi dulu<br \/>\nyang dikuatkan dan dibesarkan. Karena semakin besar usaha semakin besar<br \/>\njuga tantangannya.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAkhir kalam Rasanya saya harus<br \/>\nberterima kasih kepada mereka, berkat mereka saya belajar membesarkan<br \/>\nusaha. Sampai punya perusahaan sendiri dan kantor sendiri. Sampai istana<br \/>\n pun bisa jadi konsumen kami.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nDitulis di Istana Kepresidenan RI Bogor, 18 Juli 2016<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tidak semua orang bisa menginjakkan kaki di istana kepresidenan. Saya berkesempatan lebih dari sekali berkunjung ke sana. Bukan buat plesiran, apalagi berburu pokemon, tapi mengantar produk yang dibeli istana. Di kesempatan kedua kalinya menginjakkan kaki di istana, saya malah terngiang kejadian-kejadian silam. Bukan kejadian yang terlalu mengenakan. Penggalan ingatan tentang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[7,12],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=190"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/190\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=190"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=190"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=190"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}