{"id":191,"date":"2016-03-26T14:13:00","date_gmt":"2016-03-26T14:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/"},"modified":"2016-03-26T14:13:00","modified_gmt":"2016-03-26T14:13:00","slug":"belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/","title":{"rendered":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal"},"content":{"rendered":"<table align=\"center\" cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;\">\n<tbody>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\">\n<table cellpadding=\"0\" cellspacing=\"0\" style=\"margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: left;\">\n<tbody align=\"center\">\n<tr>\n<td><a href=\"http:\/\/i1.wp.com\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/7\/71\/Leuit_080814_2162_srna.JPG\/350px-Leuit_080814_2162_srna.JPG?ssl=1\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" src=\"http:\/\/i0.wp.com\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/7\/71\/Leuit_080814_2162_srna.JPG\/350px-Leuit_080814_2162_srna.JPG?resize=320%2C210&amp;ssl=1\" data-recalc-dims=\"1\" \/><\/a><\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td>Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org )<\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<\/td>\n<\/tr>\n<tr>\n<td style=\"text-align: center;\"><\/td>\n<\/tr>\n<\/tbody>\n<\/table>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nMasyarakat global dewasa ini dihantui<br \/>\noleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang<br \/>\ndi dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan<br \/>\npertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan<br \/>\ndan kelaparan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKita boleh saja menarik nafas lega<br \/>\nkarena ketika terjadi masalah krisis pangan dunia beberapa tahun lalu,<br \/>\nkita mampu melewatinya bahkan mampu swasembada beras.Tapi, ancaman<br \/>\nkelaparan selalu datang mengancam.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSetidaknya ada tiga isu besar yang<br \/>\ndihadapi terkait isu pangan.Isu pertama adalah jumlah penduduk yang<br \/>\nmeningkat, tentu saja menyebabkan kebutuhan pangan yang meningkat<br \/>\njuga.Isu kedua adalah perubahan iklim, Perubahan iklim menjadi lebih<br \/>\nekstrim akibat pemanasan global berdampak pada terganggunya produksi<br \/>\npangan.Isu ketiga adalah alih fungsi lahan baik untuk perumahan maupun<br \/>\nindustry juga menyebabkan berkurangnya lahan untuk produksi pangan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nMemang kita dapat membeli beras dari<br \/>\nluar negeri, namun, Pasar beras dunia juga terbatas sehingga memaksa<br \/>\nkita harus swasembada beras berkelanjutan dan memiliki dengan cadangan<br \/>\nberas yang memadai.Terlebih beras masih sebagai kontributor utama<br \/>\nterhadap inflasi sehingga harga beras harus terkendali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n<b>Belajar Ketahanan Pangan Pada Masyarakat Adat di Banten Selatan<\/b><\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nBaduy Selatan, khususnya Kabupaten<br \/>\nLebak, memiliki kekayaan akan masyarakat adat, Kasepuhan adat Banten<br \/>\nKidul. Wilayah Kasepuhan adat Banten Kidul ini secara kasat mata dan<br \/>\ndata versi pemerintah termasuk daerah tertinggal.Tetapi, di daerah ini<br \/>\ntidak pernah ada kasus kerawanan pangan.Di wilayah ini berdiri<br \/>\nlumbung-lumbung padi besar seperti di Citorek, Cisitu, dan Cisungsang.<br \/>\nBerbanding terbalik dengan kota yang masih saja menyisahkan masalah<br \/>\npelik kerawanan pangan. Tidak ada salahnya kalau kita menggali kearifan<br \/>\nmasyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul dalam masalah ketahanan pangan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAda komitmen adat turun temurun,<br \/>\nmasyarakat di Kasepuhan adat Banten Kidul yang menanam padi, hasilnya<br \/>\ntidak diperbolehkan menjual hasil bumi yang berbentuk gabah atau beras<br \/>\nkarena, perbuatan itu tabu untuk dilakukan istilah orang sana disebut \u201d<br \/>\npamali \u201d sebab tanam padi diwilayah tersebut hanya diperkenankan setiap<br \/>\nsatu tahun hanya satu kali.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nSelain itu, terdapat hokum adat di<br \/>\nKasepuhan adat Banten Kidul, bahwa setiap hasil panen padi masyarakat<br \/>\ndiwajibkan untuk mengisi lumbung induk, lumbung padi ini cukup besar<br \/>\nyang berfungsi sebagai bahan pokok cadangan apabila masyarakatnya sedang<br \/>\n mengalami kekurangan pangan, selain itu setiap masyarakat yang sudah<br \/>\nberkeluarga diharuskan memiliki lumbung masing-masing.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\n\u201cLeuit\u201d dan kearifan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nLumbung padi disebut leuit oleh<br \/>\nmasyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul.Leuit merupakan simbul ketahanan<br \/>\npangan bagi masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul.Padi yang dihasilkan<br \/>\ndari huma merupakan sumber utama bahan pangan bagi masyarakat Kasepuhan<br \/>\nadat Banten Kidul.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nLeuit punya peran vital sebagai gudang<br \/>\n menyimpan gabah atau beras hasil panen.Pada saat musim paceklik<br \/>\nsimpanan gabah itu ditumbuk untuk kemudian dijadikan pemenuhan kebutuhan<br \/>\n makanan sehari-hari. Setiap lima bulan ditanam padi siap dipanen dan<br \/>\nkemudian disimpan di lumbung\/leuit.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKepemilikan Leuit rata-rata 1 KK<br \/>\nmempunyai 1 leuit.Tapi tergantung jumlah lahan dan hasil panen<br \/>\nmenjadikan 1 KK memiliki lebih dari 1 leuit.Letak leuit di lahan kosong<br \/>\nsekitar rumah warga.Penentuan tempat bersifat bebas, Padi yang tersimpan<br \/>\n bisa bertahan puluhan tahun.Dari sisi filosofi, leuit megadung makna<br \/>\nsebuah kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun temurun dari<br \/>\ngenerasi ke generasi melalui bahasa yang mudah dipahami. Artinya adalah<br \/>\nbersama akan keharusan \u201cngeureut jeung neundeun keur jaga ning isuk\u201d<br \/>\n(menyisihkan untuk hari depan), inilah wujud tabungan yang sesungguhnya<br \/>\nyang telah dipraktekkan dalam waktu yang sangat lama.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKearifan Penggunaan Lahan<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nPenggunanan lahan untuk menanam padi<br \/>\ndi Kasepuhan adat Banten Kidul hanya sekali dalam setahun.Selanjutnya<br \/>\nlahan tersebut dipergunakan untuk menanam ikan atau sayuran, kehidupan<br \/>\nmasyarakat ini sudah berlangsung sampai dengan saat ini, penanaman padi<br \/>\nyang dilakukan hanya satu kali sesuai intruksi dari tokoh masyarakat<br \/>\nsebagai panutan. Penanaman padi yang dilakukan ternyata sangat sinergi<br \/>\ndengan Program Pengendalian Hama Terpadu dimana pergiliran tanam yang<br \/>\ndilakukan masyarakat lebak selatan yaitu untuk memutus siklus hama yang<br \/>\nakan menyerang pada tanaman padi. Sehingga di Kasepuhan adat Banten<br \/>\nKidul nyaris tidak pernah gagal dalam panen padi.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nKasepuhan adat Banten Kidul dimasukan<br \/>\nkatagori daerah tertinggal.Namun demikian, mereka menyimpan kearifan dan<br \/>\n kazanah kekayaan ilmu pengetahuan dalam pengelolaan pertanian dan<br \/>\npenanganan hasil panennya, tersimbolisasi dengan leuit lumbung padi<br \/>\npengamanan dan kerawanan pangan.Untuk itu kehidupan sosial masyarakat<br \/>\nKasepuhan adat Banten Kidul masih patut untuk dipelajari dan dijadikan<br \/>\ncontoh dalam mengantisipasi kekurangan dan kerawanan pangan.<\/div>\n<div style=\"text-align: justify;\">\nAhmad Yunus. tulisan ini dimuat di koran Satelit News, Kamis 4 April 2013<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[16,8],"tags":[],"class_list":["post-191","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tulisan-di-media-massa","category-urban-farming"],"aioseo_notices":[],"aioseo_head":"\n\t\t<!-- All in One SEO 4.9.8 - aioseo.com -->\n\t<meta name=\"description\" content=\"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena\" \/>\n\t<meta name=\"robots\" content=\"max-image-preview:large\" \/>\n\t<meta name=\"author\" content=\"Ahmad Yunus\"\/>\n\t<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/\" \/>\n\t<meta name=\"generator\" content=\"All in One SEO (AIOSEO) 4.9.8\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:site_name\" content=\"ahmadyunussukardi.my.id - Website Pribadi Ahmad Yunus Sukardi\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:title\" content=\"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:description\" content=\"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena\" \/>\n\t\t<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/\" \/>\n\t\t<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-03-26T14:13:00+00:00\" \/>\n\t\t<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2016-03-26T14:13:00+00:00\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:title\" content=\"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id\" \/>\n\t\t<meta name=\"twitter:description\" content=\"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena\" \/>\n\t\t<script type=\"application\/ld+json\" class=\"aioseo-schema\">\n\t\t\t{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BlogPosting\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#blogposting\",\"name\":\"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id\",\"headline\":\"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/author\\\/ahmad-yunus\\\/#author\"},\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/#person\"},\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"url\":\"http:\\\/\\\/i0.wp.com\\\/upload.wikimedia.org\\\/wikipedia\\\/commons\\\/thumb\\\/7\\\/71\\\/Leuit_080814_2162_srna.JPG\\\/350px-Leuit_080814_2162_srna.JPG?resize=320%2C210&amp;ssl=1\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#articleImage\"},\"datePublished\":\"2016-03-26T14:13:00+00:00\",\"dateModified\":\"2016-03-26T14:13:00+00:00\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#webpage\"},\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#webpage\"},\"articleSection\":\"Tulisan di Media massa, Urban Farming\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#breadcrumblist\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id#listItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\",\"nextItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/category\\\/urban-farming\\\/#listItem\",\"name\":\"Urban Farming\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/category\\\/urban-farming\\\/#listItem\",\"position\":2,\"name\":\"Urban Farming\",\"item\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/category\\\/urban-farming\\\/\",\"nextItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#listItem\",\"name\":\"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal\"},\"previousItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id#listItem\",\"name\":\"Home\"}},{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#listItem\",\"position\":3,\"name\":\"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal\",\"previousItem\":{\"@type\":\"ListItem\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/category\\\/urban-farming\\\/#listItem\",\"name\":\"Urban Farming\"}}]},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/author\\\/ahmad-yunus\\\/#author\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/author\\\/ahmad-yunus\\\/\",\"name\":\"Ahmad Yunus\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#webpage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/\",\"name\":\"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id\",\"description\":\"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/#website\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/2016\\\/03\\\/26\\\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\\\/#breadcrumblist\"},\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/author\\\/ahmad-yunus\\\/#author\"},\"creator\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/index.php\\\/author\\\/ahmad-yunus\\\/#author\"},\"datePublished\":\"2016-03-26T14:13:00+00:00\",\"dateModified\":\"2016-03-26T14:13:00+00:00\"},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/\",\"name\":\"ahmadyunussukardi.my.id\",\"description\":\"Website Pribadi Ahmad Yunus Sukardi\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/ahmadyunussukardi.my.id\\\/#person\"}}]}\n\t\t<\/script>\n\t\t<!-- All in One SEO -->\n\n","aioseo_head_json":{"title":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id","description":"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena","canonical_url":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/","robots":"max-image-preview:large","keywords":"","webmasterTools":{"miscellaneous":""},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"BlogPosting","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#blogposting","name":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id","headline":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal","author":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/author\/ahmad-yunus\/#author"},"publisher":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/#person"},"image":{"@type":"ImageObject","url":"http:\/\/i0.wp.com\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/thumb\/7\/71\/Leuit_080814_2162_srna.JPG\/350px-Leuit_080814_2162_srna.JPG?resize=320%2C210&amp;ssl=1","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#articleImage"},"datePublished":"2016-03-26T14:13:00+00:00","dateModified":"2016-03-26T14:13:00+00:00","inLanguage":"en-US","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#webpage"},"isPartOf":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#webpage"},"articleSection":"Tulisan di Media massa, Urban Farming"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#breadcrumblist","itemListElement":[{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id#listItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id","nextItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/category\/urban-farming\/#listItem","name":"Urban Farming"}},{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/category\/urban-farming\/#listItem","position":2,"name":"Urban Farming","item":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/category\/urban-farming\/","nextItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#listItem","name":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal"},"previousItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id#listItem","name":"Home"}},{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#listItem","position":3,"name":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal","previousItem":{"@type":"ListItem","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/category\/urban-farming\/#listItem","name":"Urban Farming"}}]},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/author\/ahmad-yunus\/#author","url":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/author\/ahmad-yunus\/","name":"Ahmad Yunus"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#webpage","url":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/","name":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id","description":"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena","inLanguage":"en-US","isPartOf":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/#website"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/#breadcrumblist"},"author":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/author\/ahmad-yunus\/#author"},"creator":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/author\/ahmad-yunus\/#author"},"datePublished":"2016-03-26T14:13:00+00:00","dateModified":"2016-03-26T14:13:00+00:00"},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/#website","url":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/","name":"ahmadyunussukardi.my.id","description":"Website Pribadi Ahmad Yunus Sukardi","inLanguage":"en-US","publisher":{"@id":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/#person"}}]},"og:locale":"en_US","og:site_name":"ahmadyunussukardi.my.id - Website Pribadi Ahmad Yunus Sukardi","og:type":"article","og:title":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id","og:description":"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena","og:url":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/","article:published_time":"2016-03-26T14:13:00+00:00","article:modified_time":"2016-03-26T14:13:00+00:00","twitter:card":"summary_large_image","twitter:title":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal - ahmadyunussukardi.my.id","twitter:description":"Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org ) Masyarakat global dewasa ini dihantui oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Kita boleh saja menarik nafas lega karena"},"aioseo_meta_data":{"post_id":"191","title":null,"description":null,"keywords":null,"keyphrases":null,"primary_term":null,"canonical_url":null,"og_title":null,"og_description":null,"og_object_type":"default","og_image_type":"default","og_image_url":null,"og_image_width":null,"og_image_height":null,"og_image_custom_url":null,"og_image_custom_fields":null,"og_video":null,"og_custom_url":null,"og_article_section":null,"og_article_tags":null,"twitter_use_og":false,"twitter_card":"default","twitter_image_type":"default","twitter_image_url":null,"twitter_image_custom_url":null,"twitter_image_custom_fields":null,"twitter_title":null,"twitter_description":null,"schema":{"blockGraphs":[],"customGraphs":[],"default":{"data":{"Article":[],"Course":[],"Dataset":[],"FAQPage":[],"Movie":[],"Person":[],"Product":[],"ProductReview":[],"Car":[],"Recipe":[],"Service":[],"SoftwareApplication":[],"WebPage":[]},"graphName":"","isEnabled":true},"graphs":[]},"schema_type":"default","schema_type_options":null,"pillar_content":false,"robots_default":true,"robots_noindex":false,"robots_noarchive":false,"robots_nosnippet":false,"robots_nofollow":false,"robots_noimageindex":false,"robots_noodp":false,"robots_notranslate":false,"robots_max_snippet":null,"robots_max_videopreview":null,"robots_max_imagepreview":"large","priority":null,"frequency":null,"local_seo":null,"breadcrumb_settings":null,"limit_modified_date":false,"ai":null,"created":"2024-01-06 06:04:36","updated":"2026-01-19 13:37:56","seo_analyzer_scan_date":null},"aioseo_breadcrumb":"<div class=\"aioseo-breadcrumbs\"><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\t<a href=\"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\" title=\"Home\">Home<\/a>\n\t\t<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb-separator\">&raquo;<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\t<a href=\"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/category\/urban-farming\/\" title=\"Urban Farming\">Urban Farming<\/a>\n\t\t<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb-separator\">&raquo;<\/span><span class=\"aioseo-breadcrumb\">\n\t\t\tBelajar ketahanan pangan dari kearifan lokal\n\t\t<\/span><\/div>","aioseo_breadcrumb_json":[{"label":"Home","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id"},{"label":"Urban Farming","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/category\/urban-farming\/"},{"label":"Belajar ketahanan pangan dari kearifan lokal","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2016\/03\/26\/belajar-ketahanan-pangan-dari-kearifan-lokal\/"}],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=191"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/191\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=191"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=191"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=191"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}