{"id":199,"date":"2015-09-26T13:58:00","date_gmt":"2015-09-26T13:58:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2015\/09\/26\/kembali-ke-desa-dan-memimpin-perubahan-di-sana\/"},"modified":"2015-09-26T13:58:00","modified_gmt":"2015-09-26T13:58:00","slug":"kembali-ke-desa-dan-memimpin-perubahan-di-sana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2015\/09\/26\/kembali-ke-desa-dan-memimpin-perubahan-di-sana\/","title":{"rendered":"Kembali ke Desa dan Memimpin Perubahan Di Sana"},"content":{"rendered":"<div align=\"center\" style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: center; vertical-align: baseline;\">\n<em><span style=\"border: none windowtext 1.0pt; color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-border-alt: none windowtext 0cm; padding: 0cm;\">John C. Maxwell berujar, \u201dOrang tidak peduli seberapa banyak yang Anda<\/span><\/em><i><span style=\"border: none windowtext 1.0pt; color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-border-alt: none windowtext 0cm; padding: 0cm;\"><br \/><em>ketahui, hingga mereka tahu seberapa jauh Anda peduli.\u201d<\/em><\/span><\/i><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><\/span><\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\">\n<a href=\"http:\/\/i1.wp.com\/1.bp.blogspot.com\/-YVP5PyxsYeE\/VfrBSVZ_gEI\/AAAAAAAACfI\/DX_v1KAFcVklbMQ3RQI-E8rgJ8Lcq7jAQCPcB\/s1600\/dscn1992.jpg?ssl=1\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-recalc-dims=\"1\" src=\"http:\/\/i2.wp.com\/1.bp.blogspot.com\/-YVP5PyxsYeE\/VfrBSVZ_gEI\/AAAAAAAACfI\/DX_v1KAFcVklbMQ3RQI-E8rgJ8Lcq7jAQCPcB\/s320\/dscn1992.jpg?resize=320%2C239&amp;ssl=1\" \/><\/a><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Peta<br \/>\n piramida penduduk Indonesia membuat beberapa negara lain cemburu. Tahun<br \/>\n 2000, kelompok usia terbesar penduduk Indonesia terdiri kaum muda yang<br \/>\nberusia di bawah 30 tahun. Diperkirakan, tahun 2025, kelompok usia<br \/>\nterbesar penduduk Indonesia akan berisi kalangan produktif, berusia<br \/>\nantara 30 sampai 50 tahun.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Sementara<br \/>\n di negara-negara maju, kelompok usia terbesar penduduknya terdiri<br \/>\nkalangan usia lanjut, di atas 60 tahun, akibat terjadi peningkatan usia<br \/>\nharapan hidup. Tingginya kelompok lanjut usia itu seringkali menjadi<br \/>\nbeban bagi negara. \u201cIni yang membuat negara lain cemburu pada<br \/>\nIndonesia,\u201d kata Menteri Pendidikan Nasional, Muhammad Nuh, saat<br \/>\nberbicara tentang kebijakan mengembangkan kepemimpinan melalui<br \/>\npendidikan, dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) V, di Asrama Haji<br \/>\nPondok Gede, Jakarta, Jum\u2019at malam, 7 Mei 2010.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Kabar<br \/>\n di atas memang tersirat akan harapan yang lebih baik, akan tetapi kita<br \/>\nharus menyadari kenyataan hari ini. Indonesia dengan bentangan alamnya<br \/>\nyang sangat luas dan keanekaragaman sumber daya alam yang melimpah,<br \/>\nternyata tidak menjamin rakyatnya makmur. Kesejahteraan lebih banyak<br \/>\ntampak di pusat kota, sedang desa selalu tampak sendu dengan kemiskinan<br \/>\ndan pengangguran.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Ada<br \/>\n gambaran jelas mengenai fenomena ini tiap tahunnya. Memasuki akhir arus<br \/>\n balik, Jakarta dan kota-kota besar lainnya kembali kebanjiran<br \/>\npendatang. Jakarta yang sudah hamil besar semakin bertambah masalah. hal<br \/>\n ini terkait erat dengan sikap masyarakat Indonesia. Masyarakat kita,<br \/>\nseperti yang disinyalir oleh Robert MZ Lawang dalam pidato pengukuhannya<br \/>\n sebagai guru besar sosilogi, sebagai masyarakat AntiDesa.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Kenapa<br \/>\n demikian? pada tahun 2004 staf Sosiologi Pedesaan melakukan penelitian,<br \/>\n hasilnya ditemukan bahwa tidak semua desa-desa di Indonesia memiliki<br \/>\ntingkat perkembangan yang sama. semakin jauh sebuah desa dari ibu kota<br \/>\nkabupaten atau kecamatan, semakin tinggi tingkat kesulitannya. kurangnya<br \/>\n perhatian pemerintah dan sektor swasta pada pembangunan sarana<br \/>\nprasarana jalan, pendidikan, kesehatan, perbankan di daerah pedesaan,<br \/>\nmembuat desa menjadi tempat penuh masalah dan tidak teratasi.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Menjadi<br \/>\n wajar kalau orang tua mengirim atau membiarkan anak-anak usia produktif<br \/>\n meninggalkan desanya menuju kota yang penuh \u201cgula-gula\u201d pembangunan.<br \/>\nMemang sudah menjadi pandangan sebagian besar masyarakat bahwa desa<br \/>\nbukanlah masa depan.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Akibatnya<br \/>\n jelas: kota-kota besar kebanjiran pendatang. Jakarta yang hamil tua<br \/>\nsemakin kepayahan dengan hadirnya pendatang baru yang juga menyisakan<br \/>\nmasalah sosial dan budaya. Bagi desa lebih tragis lagi, desa kehilangan<br \/>\npenduduk potensial yang seharusnya membangun desa. Ucapan retoris<br \/>\ntentang pembangunan dareah yang merata pun menjadi basi. Bagaimana desa<br \/>\nbisa membangun kehidupannya jika orang-orang potensialnya tidak ada lagi<br \/>\n di desa dan berebut rizki di kota?<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Padahal,<br \/>\n Robert MZ Lawang dalam simposium tanah untuk keadilan dan kesejahteraan<br \/>\n rakyat di UI pada bulan Mei lalu, mengharapkan agar orang yang masih<br \/>\nhidup di pedesaan untuk bisa berkembang sesuai struktur sosialnya,<br \/>\nhingga menjadi struktur alternatif.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<strong><span style=\"border: none windowtext 1.0pt; color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-border-alt: none windowtext 0cm; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-theme-font: major-fareast; padding: 0cm;\">Sikap Pemuda terhadap Desa.<\/span><\/strong><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Sebagian<br \/>\n besar pemuda kita bisa dibagi menjadi dua tipe: pertama. Pemuda dengan<br \/>\nkecukupan materi yang keluar dari desa menuju tempat kuliah yang<br \/>\ndiimpikan sampai selesai dan bertahan demi mengejar mimpi di kota.<br \/>\nKedua. pemuda yang kurang mampu dari segi ekonomi yang keluar dari desa<br \/>\nmenuju kota untuk berebut rizki, bahkan banyak yang keluar negeri<br \/>\nmenjadi buruh rendah demi menghidupi keluarga.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Kedua<br \/>\n tipe di atas menunjukkan sikap AntiDesa, sedangkan pemuda yang bersikap<br \/>\n tetap memilih tinggal atau kembali ke desa setelah mengenyam pendidikan<br \/>\n di kota jumlahnya sangat sedikit.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Menurut<br \/>\n saya, pemuda boleh saja menuntut ilmu di kota, bahkan kalau perlu<br \/>\nsampai jenjang yang setinggi-tingginya. Akan tetapi, bagi pemuda yang<br \/>\nberasal dari desa, alangkah baiknya jika setelah selesai menuntut ilmu<br \/>\ndi kota, ia kembali ke desa tempat ia berasal..<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-no-proof: yes;\">                              <\/span><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<strong><span style=\"border: none windowtext 1.0pt; color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-border-alt: none windowtext 0cm; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-theme-font: major-fareast; padding: 0cm;\">Rekonstruksi Paradigma<\/span><\/strong><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Paradigma<br \/>\n mengandung arti sesuatu yang dipikirkan, dipercayai, dan dilaksanakan<br \/>\noleh seseorang. Paradigma ada yang bermakna positif dan ada juga yang<br \/>\nnegatif. Yang bermakna negatif salah satunya Paradigma lama yang<br \/>\nmenggelayuti kita tentang kehidupan desa dan kota, kota selalu lebih<br \/>\nbaik dari desa. Paradigma seperti ini harus diubah secara radikal. Kota<br \/>\nseharusnya tak lagi dijadikan tujuan hidup, walupun kota secara kasat<br \/>\nmata menjajikan kehidupan yang lebih baik dari desa. Kota tetap<br \/>\nmenyimpan bara persaingan yang sengit antar penduduknya.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Berkumpulnya<br \/>\n orang-orang potensial dalam satu wilayah bernama kota tidak baik bagi<br \/>\nwilayah lain bernama desa. Karena desa bisa kehilangan orang yang<br \/>\nseharusnya mengelola Sumber Daya Alamnya. Akan terjadi krisis<br \/>\nkepemimpinan di daerah, apalagi bentangan wilayah kita sangat luas dan<br \/>\nmemerlukan pengelolaan yang baik. Desa harus mulai dijadikan tujuan<br \/>\nhidup pemuda kita dengan paradigma baru bahwa desa dengan segala<br \/>\npotensinya tetap menjanjikan untuk masa depan.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Memang<br \/>\n bukan hal mudah, tapi dibutuhkan jiwa besar dan keikhlasan untuk tetap<br \/>\nmemilih desa sebagai masa depan. Membangun desa juga membutuhkan<br \/>\nkreativitas dan usaha ekstra keras serta dukungan pemerintah dari segala<br \/>\n level.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<strong><span style=\"border: none windowtext 1.0pt; color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-border-alt: none windowtext 0cm; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-theme-font: major-fareast; padding: 0cm;\">Resolusi Baru<\/span><\/strong><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Setelah<br \/>\n paradigma berubah dan desa menjadi tujuan pemuda, maka tahap<br \/>\nselanjutnya adalah aksi nyata. Yang bisa membangun desa dengan radikal<br \/>\nadalah pemuda. Ya pemuda!<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Fathi<br \/>\n Yakan berpendapat bahwa Pada hakikatnya usia muda seorang pemuda ialah<br \/>\nusia yang penuh dengan cita-cita yang tinggi&nbsp; dan darah yang gemuruh<br \/>\nserta idealisme yang luas. Iaitu usia yang memberi pengorbanan dan&nbsp;<br \/>\nmenebus semula. Usia yang menabur jasa, memberi kesan dan emosional.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Nursalam<br \/>\n AR dalam tulisannya yang berjudul \u201cSiapakah Pemuda?\u201d menggambarkan<br \/>\nhal-hal yang merupakan ciri pemuda: perubahan, semangat dan<br \/>kemandirian. Perubahan sarat dengan muatan visi, gagasan, kepedulian<br \/>dan harapan.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Pemuda<br \/>\n memiliki darah muda yang radikal dan berkeinginan utuk mendobrak<br \/>\nkebakuan, inilah ciri pertama dari pemuda: perubahan. Sementara semangat<br \/>\n mewakili aksioma optimisme dan proaktif. Menurut Stephen R Covey,<br \/>\n\u201dSikap proaktif sangat berguna bagi manusia terutama dalam menghadapi<br \/>\nrintangan maupun dalam berinteraksi dengan manusia lain. Sikap proaktif<br \/>\nmenunjukkan &nbsp;ingkat kecerdasan emosional yang tinggi.\u201d Sikap ketiga<br \/>\nadalah kemandirian, sikap yang tidak ingin lagi menggantungkan kebutuhan<br \/>\n hidupnya pada orang lain, sikap ini yang akan mendorong pemuda untuk<br \/>\nterus bergerak dan berbuat.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<strong><span style=\"border: none windowtext 1.0pt; color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-border-alt: none windowtext 0cm; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-theme-font: major-fareast; padding: 0cm;\">Lantas perubahan apa yang bisa dilakukan pemdua dalam membangun desa?<\/span><\/strong><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Perubahan.<br \/>\n Sebuah kata ajaib yang diharapkan banyak orang, terutama dalam kondisi<br \/>\nsulit dan penuh ketidakpastian. Perubahan, akan menjadi daya kekuatan<br \/>\nyang kita cari dan perjuangkan.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Tak<br \/>\n perlu menunggu waktu terlalu lama apalagi sampai harus menunggu<br \/>\nmemiliki kekuasaan terlebih dahulu untuk melakukan perubahan dan<br \/>\npembangunan di desa. Pemuda bisa memulai perubahan dan pembangunan desa<br \/>\ndari hal yang kecil dan sederhana sekalipun selama itu memiliki nilai<br \/>\nkebaikan dan perubahan yang lebih baik.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Desa<br \/>\n menawarkan tantangan yang menarik untuk pengabdian. Pemuda yang<br \/>\nmemiliki paradigma membangun desa harus memiliki resolusi baru: apa yang<br \/>\n bisa saya lakukan dan karya apa yang bisa saya berikan untuk membangun<br \/>\ndesa? Pemuda bisa bergabung membangun desa dengan menjadi pamong<br \/>\npemerintah atau menjadi pihak swasta.<\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: .0001pt; margin: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<strong><span style=\"border: none windowtext 1.0pt; color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt; mso-border-alt: none windowtext 0cm; mso-fareast-font-family: &quot;Times New Roman&quot;; mso-fareast-theme-font: major-fareast; padding: 0cm;\">Kesimpulan<\/span><\/strong><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\"><\/span><\/div>\n<div style=\"line-height: 17.55pt; margin-bottom: 17.25pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-align: justify; vertical-align: baseline;\">\n<span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Bentangan<br \/>\n alam kita yang luas dan kaya menyimpan permasalahan pelik, yaitu krisis<br \/>\n kepemimpinan di tingkat lokal. Pemuda yang seharusnya memimpin di<br \/>\ndaerah lebih terpikat magnet pembangunan kota. Hal ini berkaitan dengan<br \/>\nparadigma bahwa hidup di kota lebih baik dari pada hidup di desa.<\/span><\/div>\n<p><span style=\"color: #333333; font-family: &quot;Verdana&quot;,&quot;sans-serif&quot;; font-size: 10.0pt;\">Perubahan<br \/>\n paradigma diperlukan untuk pembangunan desa yang lebih baik. Desa tetap<br \/>\n menyimpan potensi yang dapat menjadikan kehidupan lebih baik bagi<br \/>\npenduduknya selama dikelola dengan baik dan benar oleh orang-orang yang<br \/>\nbervisi dan potensial. Untuk itulah pemuda sebaiknya menjadikan desa<br \/>\nsebagai masa depan dan mulai bekarya dan bekerja di sana. Karena desa<br \/>\ntakkan pernah maju jika kaum muda potensialnya malah lari ke kota!<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>John C. Maxwell berujar, \u201dOrang tidak peduli seberapa banyak yang Andaketahui, hingga mereka tahu seberapa jauh Anda peduli.\u201d Peta piramida penduduk Indonesia membuat beberapa negara lain cemburu. Tahun 2000, kelompok usia terbesar penduduk Indonesia terdiri kaum muda yang berusia di bawah 30 tahun. Diperkirakan, tahun 2025, kelompok usia terbesar penduduk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/199"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=199"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/199\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}