{"id":201,"date":"2015-02-07T06:16:00","date_gmt":"2015-02-07T06:16:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2015\/02\/07\/prospek-kawasan-minapolitan-sebagai-destinasi-ekowisata\/"},"modified":"2015-02-07T06:16:00","modified_gmt":"2015-02-07T06:16:00","slug":"prospek-kawasan-minapolitan-sebagai-destinasi-ekowisata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2015\/02\/07\/prospek-kawasan-minapolitan-sebagai-destinasi-ekowisata\/","title":{"rendered":"Prospek Kawasan Minapolitan Sebagai Destinasi Ekowisata"},"content":{"rendered":"<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Daerah pantai sudah sejak lama menjadi tempat favorit wisata masyarakat. Sayangnya, sebagian besar daerah wisata saat ini berkembang kearah yang membuat satu sama lain semakin mirip. Atraksi-atraksi yang ditawarkan, bentuk pelayanan yang seragam, pengalaman yang diperoleh bahkan cinderamata yang dibawa pulang hamper tidak dapat dibedakan lagi. Kondisi semacam ini menurut Cahyadi dan Gunawijawa (2009:5) dianggap membosankan oleh sebagian besar wisatawan yang menghendaki pengalaman berbeda, spesifik dan asli (otentik) dari berbagai tujuan wisata yang didatanginya. Dengan kata lain, tren wisata dunia berkembang dari pariwisata bersifat missal ke pariwisata yang bersifat khusus (alternatif).<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Perubahan tren di dunia pariwisata menurut Cahyadi dan Gunawijaya (2009:7) adalah: <\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">1. Wisata sambil belajar dan wisata petualangan semakin meningkat popularitasnya. <\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">2. Penyelenggaraan wisata berskala kecil semakin diminati. <\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">3. Jumlah wisatawan yang berkunjung harus dibatasi pada tingkatan yang dapat ditolerir oleh sumber daya yang dipromosikan. <\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">4. Daerah-daerah terpencil dan cenderung tertutup justeru dipandang sebagai tempat wisata yang aman. <\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">5. Wisatawan ingin melihat budidaya yang berbeda, melihat atraksi local, membeli barang produksi local, bertemu dengan penduduk local dan menghadiri acara=acara local.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Melihat perubahan tren di atas, daerah minapolitan dapat dikembangkan sebagai wisata alternative dengan kegiatan usaha perikanan sebagai daya tarik utama. Karena itu tulisan kali ini akan membahas tetang prospek daerah minapolitan sebagai destinasi wisata.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Pariwisata Berkelanjutan<\/span><\/b><b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Daerah minapolitan mengembangkan kegiatan usaha perikanan dengan menerapkan usaha yang berkelanjutan. Maka pariwisata yang akan dikembangkan di kawasan minapolitan juga sebaiknya menerapkan parwisata yang berkelanjutan.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Pariwisata berkelanjutan menurut Mahdayani (2009:14) adalah pariwisata yang aktivitasnya tetap memperhatikan keseimbangan alam, lingkungan, budaya, dan ekonomi agar pariwisata tersebut terus berlanjut. Dengan kata lain, pariwisata berkelanjuta harus mencakup kualitas, kesinambungan serta keseimbangan aspek-aspek lingkungan, budaya, dan manusia.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Dalam pariwisata berkelanjutan wisatawan yang datang tidak hanya untuk sekedar bersenang-senang, melainkan juga untuk mendapatkan pengalaman yang lebih agar mendapat wawasan dan pengembangan pengetahuan bagi dirinya.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Pariwisat berkelanjutan dapat diterapkan di daerah wisata manapun, termasuk kawasan minapoltan. Salah satu bentuk pariwisata berkelanjutan adalah ekowisata.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Konsep ekowisata<\/span><\/b><b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Definisi ekowisata menurut The International Ecotourism Society adalah pariwisata bertanggung jawab yang dilakukan pada tempat-tempat alami, serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Aktivitas wisatawan pada ekowisata lebih berfokus kepada pengamatan dan pemahaman mengenai alam dan budaya peda daerah yang dikunjungai. Kegiatan yang dilakukan dengan mendukung aktivitas pelestarian alam. Pada ekowisata, wisatawan juga lebih mengutamakan fasilitas dan jasa yang disediakan oleh masyarakat setempat.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Seridaknya ada enam manfaat dari kegiatan pariwisata. Mahdayani (2009: 13) menyebutkan bahwa manfaat kegiatan pariwisata adalah: memperkenalkan kebudayaan dan daerah setempat, melestarikan alam dan lingkungan, meningkatkan kebangaan kepada daerah setempat, meningkatkan kecintaan kepada budaya, menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan menciptakan kesejahteraan, menciptakan hubungan yang baik antar suku bangsa.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Tahun 2002 adalah tahun dicanangkannya Tahun Ekowisata dab Pegunungan di Indonesia. Pada tahun itu juga dirumuskan lima prinsip dasar pengembangan ekowisata di Indonesia. Mahdayani (2009: 18-20) menjelaskan lima prinsip dasar pengembangan di Indoensia yaitu:<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">1.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Pelestarian. Prinsip pelestarian ini adalah kegiatan ekowisata yang dilakukan tidak tidak menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan dan budaya setempat. <\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">2.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Pendidikan. Prinsip pendidikan ini menitikberatkan kegiatan ekowisata yang dilakukan sebaiknya memberikan unsure pendidikan,<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">3.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Pariwisata. Prinsip pariwisata ini adalah aktivitas yang mengandung unsure kesenangan dengan berbagai motivasi wisatawan untuk mengunjungi suatu lokasi.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">4.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Ekonomi. Ekowisata juga membuka peluang bagi masyarakat terlebih lagi apabila perjalanan wisata yang dilakukan menggunakan sumber daya local seperti transportasi, akomodasi, dan jasa pemandu. Ekowisata yang dilaksanakan harus memberikan pendapatan dan keuntungan sehingga dapat terus berkelanjutan<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l1 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">5.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Partisipasi masyarakat setempat. Partisipasi masyarakat penting bagi suksesnya ekowisata di suatu daerah tujuan wisata.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Potensi minapolitan yang dapat dikembangkan menjadi atraksi ekowisata<\/span><\/b><b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Kawasan minapolitan memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi atraksi ekowisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan yang berkunjung. Potensi-potensi itu antara lain adalah:<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">1.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Kampung nelayan. Perkampungan nelayan dapat dijadikan atraksi wisata di mana wisatawan dapat melihat kegiatan nelayan yang dikunjunginya. Selain itu, perkampungan nelayan juga dapat dijadikan homestay. Homestay menggunakan rumah tempat tinggal pribadi sebagai tempat wisatawan menginap. Umumnya homestay memberikan pelayanan kamar beserta makanan dan minuman. Salah satu kelebihan homestay adalah wisatawan dapat kesempatan untuk mengenal keluarga pemilik rumah. Wisatawan juga dapat mengenal lebih jauh tentang alam dan budaya sekitar, terutama jika si pemilik rumah memiliki pengetahuan tentang itu.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">2.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Tambak. Kawasan minapolitan umumnya memiliki hamparan tambak ini dapat dijadikan kegiatan ekowisata tentang pengelolaan tambak.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">3.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Budidaya perikanan. Kegiatan budidaya perikanan juga dapat dijadikan ekowisata dengan mengajak wisatawan belajar tentang budidaya komoditas perikanan, seperti bandeng, vaname, atau rumput laut mulai dari proses pembenihan, pendederan, dan pembesaran. Kegiatan ini akan memberikan tambahan pengetahuan tentang proses budidaya dan pelestarian ikan, selain itu juga akan meningkatkan perasaan menghargai mereka kepada komoditas perikanan sehingga tidak membuang-buang makanan berbahan baku komoditas perikanan.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">4.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">&nbsp;Panen budidaya. Kegiatan panen budidaya juga dapat dijadikan atraksi ekowisata yang menarik bagi wisatawan dengan melibatkan mereka untuk turut serta memanen komoditas perikanan. Bagaimana serunya menangkap ikan bandeng yang beterbangan ketika dipanen, atau memanen udang di tambak. Panen rumput laut atau pun kerang hijau juga merupakan kegiatan ekowisata yang menarik dengan mengajak mereka memanen komoditas ini di lautan dengan menyelam,<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">5.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Pengolahan makanan berbahan baku ikan. Di kawasan minapolitan juga terdapat sentra pengolahan makanan berbahan ikan. Wisatawan dapat diajak untuk berkunjung ke lokasi pengolahan ini, belajar membuat makanan dari bahan baku ikan dan membawanya pulang sebagai buah tangan.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">6.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Jamuan makanan. Makanan juga dapat dijadikan kegiatan wisata. Makanan menjadi nilai tambah yang dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyak wisatwan yang tertarik untuk mencoba makanan local, bahkan ada yang datang ke daerah wisata hanya untuk mencicipi makanan khas tempat tersebut. Pada daerah minapolitan wisatawan diajak makan makanan hasil laut dan budidaya ikan, seperti ikan bakar atau dodol rumput laut.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l0 level1 lfo2; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">7.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Ekowisata di Hutan Bakau. Hutan bakau juga dapat dijadikan lokasi ekowisata dengan menawarkan kegiatan seperti trekking, menaiki sampan melihat burung-burung dan penanaman bakau sebagai bentuk pelestarian alam.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Tantangan Kawasan Minapolitan Sebagai Destinasi Ekowisata<\/span><\/b><b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Ada berbagai tantangan yang dihadapi dalam memajukan kawasan minapolitan sebagai destanasi ekowisata. Tantangan ini antara lain adalah:<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">1.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Kumuh. Kampung nelayan yang kumuh akan mempengaruhi wisatawan untuk datang karena tidak mendapatkan kenyamanan. Sehingga membuat semua komponen mulai dari pemerintah dan warga setempat untuk menciptakan lingkungan yang bersih.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">2.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Wc Komunal. Di mana sarana penting ini belum tersedia secara layak dari segi jumlah dan kebersihan. Sehingga perlu adanya upaya perbaikan infrastruktur oleh semua pemangku kepentingan.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">3.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Ketersediaan SDM belum tersedia untuk kegiatan ekowisata sehingga pemerintah harus mendidik warga setempat menjadi SDM yang siap pakai untuk kegiatan ekowisata.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">4.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Pengolahan makanan yang belum memenuhi <\/span><i><span style=\"font-size: 12pt;\">Good Manufacturing Practice<\/span><\/i><span style=\"font-size: 12pt;\">&nbsp;(GMP) yang membuat pengolahan makanan belum higienis. Hal ini membuat wisatawan enggan untuk memakan makanan yang dihasilkan oleh penduduk yang dikunjunginya. Sehingga perlu upaya dari pemerintah untuk memfasilitasi dan memberikan stimulus kepada pelaku UKM pengolahan makanan agar melakukan kegiatannya secara GMP.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<!--[if !supportLists]--><span style=\"font-size: 12pt;\">5.&nbsp;<\/span><!--[endif]--><span style=\"font-size: 12pt;\">Promosi yang kurang. Masyarakat setempat memiliki keterbatasan akses untuk mengenalkan wilayahnya sebagai destinasi ekowisata kepada khalayak. Untuk itu, peran promosi yang massif sebaiknya ditangani oleh pemerintah setempat.<\/span><span style=\"font-size: 12pt;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 36pt; mso-list: l2 level1 lfo3; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\"><span style=\"font-size: 12pt;\"><br \/><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Peran Serta Masyarakat<\/span><\/b><b><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/b><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Selain tantangan itu, kegiatan pariwisata di kawasan minapolitan juga memerlukan pra-syarat, yaitu timbulnya kesadaran bahwa kegiatan pariwisata hanya dapat dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak dengan posisi yang setara. Karena itu, Cahyadi dan Gunawijaya (2009: 17) mengatakan bahwa salah satu kunci keberhasilan pariwisata adalah pentingnya keterlibatan masyarakat setempat pada keseluruhan tahapan pelaksanaan kegiatan. Masyarakat setempat harus terlibat dan dilibatkan pada tahapan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan. Anggota masyarakat yang terlibat diharapkan akan mampu menyampaikan kepentingan bersama serta memberikan ide-ide bagi pengembangan kegiatan maupun bentuk peran serta warga.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Di kawasan minapolitan peran serta warga dalam kegiatan ekowisata meliputi penyedia akomodasi seperti mobil sampai perahu dan homestay, pemandu wisata, penyedia makanan dan minuman dan peran-peran lain yang dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan masyarakat sekitar. &nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<blockquote data-instgrm-captioned data-instgrm-permalink=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/ClIqXmlJn38\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" data-instgrm-version=\"14\" style=\" background:#FFF; border:0; border-radius:3px; box-shadow:0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width:540px; min-width:326px; padding:0; width:99.375%; width:-webkit-calc(100% - 2px); width:calc(100% - 2px);\">\n<div style=\"padding:16px;\"> <a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/ClIqXmlJn38\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" style=\" background:#FFFFFF; line-height:0; padding:0 0; text-align:center; text-decoration:none; width:100%;\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <\/p>\n<div style=\" display: flex; flex-direction: row; align-items: center;\">\n<div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;\">\n<div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;\"><\/div>\n<div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 19% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display:block; height:50px; margin:0 auto 12px; width:50px;\"><svg width=\"50px\" height=\"50px\" viewBox=\"0 0 60 60\" version=\"1.1\" xmlns=\"https:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" xmlns:xlink=\"https:\/\/www.w3.org\/1999\/xlink\"><g stroke=\"none\" stroke-width=\"1\" fill=\"none\" fill-rule=\"evenodd\"><g transform=\"translate(-511.000000, -20.000000)\" fill=\"#000000\"><g><path d=\"M556.869,30.41 C554.814,30.41 553.148,32.076 553.148,34.131 C553.148,36.186 554.814,37.852 556.869,37.852 C558.924,37.852 560.59,36.186 560.59,34.131 C560.59,32.076 558.924,30.41 556.869,30.41 M541,60.657 C535.114,60.657 530.342,55.887 530.342,50 C530.342,44.114 535.114,39.342 541,39.342 C546.887,39.342 551.658,44.114 551.658,50 C551.658,55.887 546.887,60.657 541,60.657 M541,33.886 C532.1,33.886 524.886,41.1 524.886,50 C524.886,58.899 532.1,66.113 541,66.113 C549.9,66.113 557.115,58.899 557.115,50 C557.115,41.1 549.9,33.886 541,33.886 M565.378,62.101 C565.244,65.022 564.756,66.606 564.346,67.663 C563.803,69.06 563.154,70.057 562.106,71.106 C561.058,72.155 560.06,72.803 558.662,73.347 C557.607,73.757 556.021,74.244 553.102,74.378 C549.944,74.521 548.997,74.552 541,74.552 C533.003,74.552 532.056,74.521 528.898,74.378 C525.979,74.244 524.393,73.757 523.338,73.347 C521.94,72.803 520.942,72.155 519.894,71.106 C518.846,70.057 518.197,69.06 517.654,67.663 C517.244,66.606 516.755,65.022 516.623,62.101 C516.479,58.943 516.448,57.996 516.448,50 C516.448,42.003 516.479,41.056 516.623,37.899 C516.755,34.978 517.244,33.391 517.654,32.338 C518.197,30.938 518.846,29.942 519.894,28.894 C520.942,27.846 521.94,27.196 523.338,26.654 C524.393,26.244 525.979,25.756 528.898,25.623 C532.057,25.479 533.004,25.448 541,25.448 C548.997,25.448 549.943,25.479 553.102,25.623 C556.021,25.756 557.607,26.244 558.662,26.654 C560.06,27.196 561.058,27.846 562.106,28.894 C563.154,29.942 563.803,30.938 564.346,32.338 C564.756,33.391 565.244,34.978 565.378,37.899 C565.522,41.056 565.552,42.003 565.552,50 C565.552,57.996 565.522,58.943 565.378,62.101 M570.82,37.631 C570.674,34.438 570.167,32.258 569.425,30.349 C568.659,28.377 567.633,26.702 565.965,25.035 C564.297,23.368 562.623,22.342 560.652,21.575 C558.743,20.834 556.562,20.326 553.369,20.18 C550.169,20.033 549.148,20 541,20 C532.853,20 531.831,20.033 528.631,20.18 C525.438,20.326 523.257,20.834 521.349,21.575 C519.376,22.342 517.703,23.368 516.035,25.035 C514.368,26.702 513.342,28.377 512.574,30.349 C511.834,32.258 511.326,34.438 511.181,37.631 C511.035,40.831 511,41.851 511,50 C511,58.147 511.035,59.17 511.181,62.369 C511.326,65.562 511.834,67.743 512.574,69.651 C513.342,71.625 514.368,73.296 516.035,74.965 C517.703,76.634 519.376,77.658 521.349,78.425 C523.257,79.167 525.438,79.673 528.631,79.82 C531.831,79.965 532.853,80.001 541,80.001 C549.148,80.001 550.169,79.965 553.369,79.82 C556.562,79.673 558.743,79.167 560.652,78.425 C562.623,77.658 564.297,76.634 565.965,74.965 C567.633,73.296 568.659,71.625 569.425,69.651 C570.167,67.743 570.674,65.562 570.82,62.369 C570.966,59.17 571,58.147 571,50 C571,41.851 570.966,40.831 570.82,37.631\"><\/path><\/g><\/g><\/g><\/svg><\/div>\n<div style=\"padding-top: 8px;\">\n<div style=\" color:#3897f0; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:550; line-height:18px;\">Lihat postingan ini di Instagram<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 12.5% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;\">\n<div>\n<div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #F4F4F4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: 8px;\">\n<div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;\"><\/div>\n<div style=\" width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg)\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: auto;\">\n<div style=\" width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);\"><\/div>\n<div style=\" background-color: #F4F4F4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);\"><\/div>\n<div style=\" width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;\">\n<div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;\"><\/div>\n<div style=\" background-color: #F4F4F4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;\"><\/div>\n<\/div>\n<p><\/a><\/p>\n<p style=\" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; line-height:17px; margin-bottom:0; margin-top:8px; overflow:hidden; padding:8px 0 7px; text-align:center; text-overflow:ellipsis; white-space:nowrap;\"><a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/p\/ClIqXmlJn38\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" style=\" color:#c9c8cd; font-family:Arial,sans-serif; font-size:14px; font-style:normal; font-weight:normal; line-height:17px; text-decoration:none;\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebuah kiriman dibagikan oleh Saefullah (@saefullah_14)<\/a><\/p>\n<\/div>\n<\/blockquote>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 18pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Daftar Pustaka<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Cahyadi, Rusli dan Jajang Gunawijaya. 2009. Pariwisata Pusaka: Masa Depan bagi Kita, Alam dan Warisan Budaya Bersama. Jakarta: UNESCO office Jakarta dan Program Vokasi Pariwisata Universitas Indonesia.<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n<div align=\"justify\" style=\"line-height: 150%; margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; text-justify: inter-ideograph;\">\n<span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\">Mahdayani, Wiwik. 2009. Ekowisata: Panduan Dasar Pelaksanaan. Jakarta: UNESCO office Jakarta dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Nias Selatan&nbsp;<\/span><span style=\"font-size: 12pt; line-height: 150%;\"><o:p><\/o:p><\/span><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daerah pantai sudah sejak lama menjadi tempat favorit wisata masyarakat. Sayangnya, sebagian besar daerah wisata saat ini berkembang kearah yang membuat satu sama lain semakin mirip. Atraksi-atraksi yang ditawarkan, bentuk pelayanan yang seragam, pengalaman yang diperoleh bahkan cinderamata yang dibawa pulang hamper tidak dapat dibedakan lagi. Kondisi semacam ini menurut [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[18],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=201"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/201\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=201"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=201"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=201"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}