{"id":77,"date":"2021-06-27T04:13:00","date_gmt":"2021-06-27T04:13:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2021\/06\/27\/kado-lebaran\/"},"modified":"2021-06-27T04:13:00","modified_gmt":"2021-06-27T04:13:00","slug":"kado-lebaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2021\/06\/27\/kado-lebaran\/","title":{"rendered":"Kado Lebaran"},"content":{"rendered":"<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\"><b>&nbsp;<\/b><\/p>\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><b><a href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-x9foRh64Dfo\/YNgbsZjX7aI\/AAAAAAAAE4U\/aPOUQLOzroADlSEdujIEn5JS-h5pZ1j0gCLcBGAsYHQ\/s400\/IMG_20210627_133255.JPG\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"400\" data-original-width=\"400\" height=\"320\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-x9foRh64Dfo\/YNgbsZjX7aI\/AAAAAAAAE4U\/aPOUQLOzroADlSEdujIEn5JS-h5pZ1j0gCLcBGAsYHQ\/s320\/IMG_20210627_133255.JPG\" \/><\/a><\/b><\/div>\n<p><b><br \/><\/b><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Deburan ombak pantai utara Jawa bergemuruh. Burung<br \/>\ncamar terbang melayang di langit biru. Kapal roro perlahan meninggalkan<br \/>\npelabuhan Merak. Memecah gelombang meniti selat sunda menuju pelabuhan<br \/>\nbakauheuni lampung.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Di atas geladak kapal, zaskia termenung memandang<br \/>\nlaut. Pelabuhan merak perlahan menghilang. Dari pandangn mata. Hanya gunung<br \/>\nkarang yang tampak berdiri tegak, melambaikan selamat jalan.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Tujuh tahun sudah, zaskia meninggalkan kampong<br \/>\nhalamannya. Keluarga, teman, dan para sahabat yang telah ia tinggalkan seperti<br \/>\nmemanggilnya untuk pulang. Hutan, sungai, pantai berpasir yang berpasir putih<br \/>\ntempat bermainnya di waktu kecil menarik dirinya untuk kembali kembali<br \/>\nkalianda.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Rindu yang memuncak di dada tak tertahankan. Dia<br \/>\ningin cepat sampai untuk menghirup udara bersih dan merangkai kembali cerita<br \/>\nlama.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Tanpa terasa waktu berlalu. Kapal roro merapat ke<br \/>\ndermaga pelabuhan bakauheuni. Setelah tujuh tahun menapak hidup di pulau Jawa,<br \/>\nzaskia mendaratkan kembali kakinya di tanah kelahirannya. <o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Langit gelap selepas isya. Zaskia tiba di depan pintu<br \/>\nrumah yang dulu pernah ia huni.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cAssalamu\u2019alaikum,\u201d salam Zaskia tertahan.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cWa\u2019alaikum salam, tunggu sebentar,\u201d jawab seorang<br \/>\nperempuan di dalam rumah.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cZaskian\u2026\u201d suara wanita itu tertahan, bergetar seakan<br \/>\ntidak percaya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cIbu,\u201d sambut Zaskian sambil melepaskan tas yang<br \/>\ndigenggamnya. Lalu memeluk tubuh perempuan itu, yang tak lain adalah ibunya.<br \/>\nMeluruhkan rindu menahun.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cKamu pulang juga, nak,\u201d kata sang ibu membiru haru<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cya bu, Zaskia pulang,\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cSiapa bu?\u201d Tanya seorang lelaki dari dalam rumah.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cini, pak. Zaskia. Anak kita sudah pulang,\u201d jawab ibu<br \/>\ndengan penuh semangat menjawab pertanyaan lelaki tadi yang tak lain adalah ayah<br \/>\nZaskia.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201coh! Zaskia. Pulang juga anak itu,\u201d ujar bapak zaskia<br \/>\ndingin sambil berlalu masuk kamar.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Zaskia hanya terdiam melihat sikap ayahnya itu.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cSudah jangan pikirkan sikap bapakmu. Memang dia<br \/>\nseperti itu. Kamu pasti capek. Sekarang masuk, istirahat!\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Zaskia memasuki rumah itu didampingi ibunya. Diantar<br \/>\nmenuju kamarnya, yang tujuh tahun sudah tidak ditempatinya. Zaskia tertegun<br \/>\nketika membuka kamarnya. Kamar yang sudah lama tak berpenghuni itu masih<br \/>\ntertata rapi, bersih dan tidak ada debu yang hinggap.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Zaskia melihat ibunya. Sang ibu menjawab dengan<br \/>\nsenyum penuh makna.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cibu, tahu suatu saat kamau pasti akan pulang ke<br \/>\nrumah ini.\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Di atas tempat tidur itu, Zaskia menitikan air mata.<br \/>\nSuara takbir yang membahana di langit kalianda seperti tak mampu menahan rasa<br \/>\nsakit atas sikap bapaknya tadi. Luka lama yang dulu pernah tergores kini tersibak<br \/>\nkembali. Luka yang membuat dirinya harus pergi meninggalkan kampong halaman<br \/>\ndengan rasa perih sakit hati. Isak tangisnya pecah. Air matanya mengalir. Ia<br \/>\nteringat peristiwa lama itu. Peristiwa yang bermula saat ia hendak lulus SMA.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Bapaknya yang seorang guru menginginkan zaskia<br \/>\nmengikuti jejaknya serta jejak ibu&nbsp; dan<br \/>\nkakak-kakaknya menjadi guru. Tapi zaskia tidak ingin. Dia lebih tertarik pada<br \/>\nbidang perhubungan. Hingga suatu malam, perbedaan pendapat itu meruncing.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cZaskia, sebentar lagi kamu lulus SMA. Kamu sudah<br \/>\nmemikirkan ke mana nanti akan menlanjutkan?\u201d Tanya bapak membuka dialog.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cSudah, pak\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cZaskia, bapak ingin kamu seperti bapak, ibu, dan<br \/>\nkakak-kakakmu. Menjadi seorang guru!\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cZaskia tidak berminat menjadi seorang guru,\u201d ujar<br \/>\nZaskia yang membuat bapaknya kaget<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cTerus kamu ingin jadi apa? Apalagi kamu anak<br \/>\nperempuan. Ayah ingin kamu sebagai anak terakhir membahagiakan bapak dengan<br \/>\njadi seorang guru,\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cTapi, Zaskia nggak mau. Zaskia lebih suka bidang<br \/>\nperhubungan,\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cPerhubungan apa? Kamu ingin jadi apa? Kenapa<br \/>\ntertarik pada perhubungan itu?\u201d cecar bapak.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cPerhubungan apa saja. Zaskia lebih milih perhubungan<br \/>\nkarena lebih menantang.\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Bapak tersentak atas jawaban Zaskia, dengan suara<br \/>\nmengeras marah bapak berkata \u201cHanya itu, kerena lebih menantang. Terus hidup<br \/>\nkamu nanti seperti apa? Masa depan kamu bagaimana?\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Zaskia hanya terdiam. Pertanyaan itu membuatnya<br \/>\ntergagap. Ia ingin melawan tapi mulutnya tertahan.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cpokoknya kamu harus jadi guru. Titik! Bapak gak mau<br \/>\ndengar alasan kamu lagi,\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Jiwa muda Zaskia panas. Ia memilih perhubungan kerena<br \/>\nluas dan besarnya negeri ini. Masih teramat banyak wilayah yang tertinggal dan<br \/>\nsulit dijangkau. Ia hanya ingin agar bermanfaat menghubungkan banyak daerah,<br \/>\nmenghubungkan orang-orang, dan tentu saja membuka akses pada kehidupan yang<br \/>\nlebih baik.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Lagi pula, menurut Zaskia, tugas seorang guru sangat<br \/>\nberat baginya. Dia ingin bapaknya tahu apa yang ia pikirkan. Tapi dia juga tahu<br \/>\nsikap bapaknya yang tegas akan sebuah keputusan. Hingga akhirnya amarah mudanya<br \/>\npecah jua, tak tertahankan lagi.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201czaskia juga gak mau jadi guru. Pokoknya kalau kuliah<br \/>\nzaskia milih perhubungan.\u201d Tegas zaskia sambil berlalu dengan derai air mata<br \/>\nyang tumpah dari kelompak matanya. Berlalu meninggalkan bapak, ibu, dan<br \/>\nkakak-kakaknya di ruang keluarga.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Di dalam kamarnya tumpah ruah semua perasaan. <o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Ibunya yang melihat zaskia menjadi tidak tega.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cZas, sudah jangan nangis,\u201d pinta ibu.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cIbu, zaskia nggak ingin jadi guru. Zaskia lebih suka<br \/>\nperhubungan,\u201d kata zaskia tersendat-sendat.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cYah, ibu tahu kamu nggak mau jadi guru.\u201d<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cIbu ngedekung kalau zaskia ngelanjutin ke<br \/>\nperhubungan?\u201d Tanya zaskia.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">\u201cIbu ngedukung kalau itu lebih baik buatmu dan buat<br \/>\nkamu bahagia.\u201d Ujar ibu dengan penuh kasih sayang.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Isak tangis zaskia mulai mereda. Kepalayang yang<br \/>\nditutupi kain kerudung dibelai mesra ibunya. Lukanya sedikit terobati<o:p><\/o:p><\/p>\n<p style=\"line-height: 150%; margin-bottom: 0cm; text-align: justify;\">Satu bulan kemudian zaskia pamit untuk melanjutkan<br \/>\npendidikannya di pulau, Jawa. Dengan berat hati ibu dan kakak-kakaknya melepas<br \/>\nzaskia. Zaskia pergi tanpa perpisahan dengan bapaknya.<o:p><\/o:p><\/p>\n<p><span face=\"&quot;Calibri&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 11pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: Arial; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-hansi-theme-font: minor-latin;\">*<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Deburan ombak pantai utara Jawa bergemuruh. Burung camar terbang melayang di langit biru. Kapal roro perlahan meninggalkan pelabuhan Merak. Memecah gelombang meniti selat sunda menuju pelabuhan bakauheuni lampung. Di atas geladak kapal, zaskia termenung memandang laut. Pelabuhan merak perlahan menghilang. Dari pandangn mata. Hanya gunung karang yang tampak berdiri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=77"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/77\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=77"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=77"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=77"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}