{"id":79,"date":"2021-06-20T04:10:00","date_gmt":"2021-06-20T04:10:00","guid":{"rendered":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2021\/06\/20\/di-persimpangan-cinta\/"},"modified":"2021-06-20T04:10:00","modified_gmt":"2021-06-20T04:10:00","slug":"di-persimpangan-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/2021\/06\/20\/di-persimpangan-cinta\/","title":{"rendered":"Di Persimpangan Cinta"},"content":{"rendered":"<\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: left; text-indent: 18pt;\">\n<div style=\"clear: both; text-align: center;\"><a href=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2MXEpKcptEc\/YNgaNrxmeaI\/AAAAAAAAE4M\/hhnsdQea6GQCD2GaE8wUHYff2SUit-YqgCLcBGAsYHQ\/s300\/IMG_20210627_132538.JPG\" style=\"margin-left: 1em; margin-right: 1em;\"><img decoding=\"async\" border=\"0\" data-original-height=\"180\" data-original-width=\"300\" src=\"https:\/\/1.bp.blogspot.com\/-2MXEpKcptEc\/YNgaNrxmeaI\/AAAAAAAAE4M\/hhnsdQea6GQCD2GaE8wUHYff2SUit-YqgCLcBGAsYHQ\/s0\/IMG_20210627_132538.JPG\" \/><\/a><\/div>\n<p><span face=\"Arial, sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><br \/><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: left; text-indent: 18pt;\"><span face=\"Arial, sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; text-align: justify; text-indent: 18pt;\">Sungguh<br \/>\naku bingung. Teramat bingung malah dengan kondisiku kini. Semua masalahku<br \/>\ndisebabkan oleh kedatangan Dion, cinta pertamaku saat kuliah dulu. Ah,<br \/>\nkehadirannya melemparkanku pada masa lalu.<\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Dion.<br \/>\nPertama kali aku kenal ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru. Mahasiswa baru<br \/>\ndengan pancaran pesona begitu rupa. Menghayutkan tiap gadis yang melihatnya.<br \/>\nHingga wajar ia menjadi idola dan rebutan mahasiswi baru. Termasuk juga aku.<br \/>\nDan alangkah bahagianya aku saat itu, karena akulah yang terpilih menjadi<br \/>\nbelahan hatinya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Bertahun-tahun<br \/>\nkami larungi hari dengan memadu kasih. Terlebih lagi ia sangat romatis dan<br \/>\nselalu membuatku berbunga-bunga. Hingga diujung masa kuliah. Tiba-tiba saja ia<br \/>\nharus pergi jauh dariku. Ia memilih pergi ke Amerika. Mengejar cita-citanya.<br \/>\nAku yang tak berdaya oleh pesonanya hanya bisa mengangguk pasrah.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cAku<br \/>\nberjanji akan pulang dan menemui cintaku lagi. Tunggu aku.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Ia<br \/>\npun pergi begitu saja. Merenggaskan rasa cinta. Menggugurkan kasih. Setahun aku<br \/>\nmenanti, ia tak memberikan kabar. Dua tahun aku tetap menanti, ia semakin<br \/>\nmenghilang tanpa jejak. Tahun ketiga penantianku, membuat aku kalut. Tahun<br \/>\nkeempat, aku hampa dan kehilangan gairah Hidup.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Dukaku<br \/>\nsemakin purna. Kedua orang tuaku memaksa aku menikah dengan orang yang tak<br \/>\npernah aku cintai. Tapi, tanpa daya aku tak bisa menolak. Pemaksaan dengan cara<br \/>\ntak pernah aku sanggup mengerti, memaksa dengan mengiba-ngiba membuat aku<br \/>\nmengangguk.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Tanpa<br \/>\ncinta aku lewati pernikahan. Sakitnya aku, ternyata Roby, orang yang menikahiku<br \/>\nsangat baik. Aku sungguh tersiksa dengan kebaikannya. Sementara aku hanya<br \/>\nberpura-pura. Apa daya, cinta tak bisa dipaksa datangnya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Sepertinya<br \/>\nTuhan berkendak lain, Sampai akhirnya di usia pernikahanku yang ke tiga, aku<br \/>\nmelahirkan anak. Dan limpahan kasih sayang dari Roby semakin melimpah. Dari<br \/>\nkasihanku timbullah secara perlahan rasa cinta. Namun tak pernah sepenuh<br \/>\nperasaanku pada Dion. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: 200%; text-align: center; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">*<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Entahlah,<br \/>\nsepuluh tahun berlalu tiba-tiba saja Dion kembali hadir. Ia ternyata masih<br \/>\nmengharapkanku menjadi pendampinya. Sikapnya yang romantis, terlebih rasa<br \/>\ncintaku padanya yang belum pudar membuat aku tergoda. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Rasa<br \/>\ncinta yang mulai tumbuh untuk Roby, seketika terterjang putting beliung bernama<br \/>\nDion. Akhirnya trnpa sepengetahuan Roby aku menjalin hubungan dengan Dion. Ah<br \/>\nsungguh aneh. Mungkin bagi sebagian orang sikapku ini salah. Tapi ini cinta.<br \/>\nSulit aku menapikan perasaanku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Ah,<br \/>\naku menulikan semua. Berdua dengan Dion membuatku sengat bahagia. Kata-kata dan<br \/>\nrayuan romantisnya selalu membuatku mabuk. Walau aku tahu itu cuma gombal, tapi<br \/>\naku tak bisa menolaknya. Apalagi Roby tak pernah mengucapkan kata-kata cinta.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cDina,<br \/>\naku tahu kau telah berkeluarga. Tapi masih kah kau menyimpan keinginan yang<br \/>\ndulu kita lambungkan. Maukah kau menjadi pendampingku?\u201d kata Dion di suatu<br \/>\nmalam. Aku kelu tak mampu menjawabnya. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: 200%; text-align: center; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">*<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Aku<br \/>\nbimbang. Aku tahu ucapan Dion sangat serius. Maka aku konsultasika masalahku<br \/>\npada Rita, karibku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cApa,<br \/>\nDion ngajak kamu Nikah. Kamu gila, Din. Roby dan Intan mau di kemanain?\u201d Respon<br \/>\nRita padaku. Ia menggeleng-geleng kepala, bingung melihat sikapku. \u201cRoby itu<br \/>\nsangat baik dan setia. Kau sungguh tega.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: 200%; text-align: center; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">*<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Dua<br \/>\nhari setelah aku curhat pada Rita. Roby mengajakku ketemuan. Sepertinya ada hal<br \/>\npenting yang ingin disampaikan Roby. Tidak biasanya ia memintaku ketemuan makan<br \/>\nsiang tak jauh dari kantorku. Aku menunggunya dengan perasaan tak menentu.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Sepuluh<br \/>\nmenit kemudian ia datang menghampiriku. Langsung duduk tepat di depanku. Wajahnya<br \/>\ndingin dan gerak tubuhnya kaku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cDik,<br \/>\nada hal serius yang harus kita bicarakan dan selesaikan.\u201d Katanya membuka<br \/>\nperbincangan.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cApa?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cAda<br \/>\nhal yang kau sembunyikan padaku selama ini. Rita sudah cerita semuanya. Tentang<br \/>\nDion dan masa depan rumah tangga kita!\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Deg.<br \/>\nJantungku berdedug kencang. Aku tak tahu harus berkata apa. Pias sudah. Kebohonganku<br \/>\ntersingkap sudah. Ah, Rita kenapa kau membeberkan jalinan hubunganku dengan<br \/>\nDion pada Roby?<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cDik,<br \/>\naku tak tahu mengapa semua ini terjadi pada hidupku. Kenapa kau\u2026\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Ia<br \/>\nhilang kata. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik.<br \/>\nHening. Aku bagai menunggu vonis darinya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cAku<br \/>\ningin mengatakan, bahwa kaulah cahaya hatiku.\u201d <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Wajahnya<br \/>\nmengeras. Lalu ia palingkan ke luar jendela. Menatap kosong. \u201cDulu aku<br \/>\nmemalingkan diri dari apa yang namanya cinta. Hingga kau hadir di sisiku.<br \/>\nMenjadi pendampingku. Merubah segalanya. Mengubah aku yang selama ini dingin.<br \/>\nAku mulai bisa merasakan cinta secara perlahan.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Ia<br \/>\nberhenti sejenak. Lalu dihirupnya udara begitu dalam. \u201cSelama hidup bersamamu,<br \/>\naku mencoba untuk menjaga kesetianku. Menjaga dengan perasaan tulus untukmu.<br \/>\nKarena bagaimanapun juga kaulah isteriku.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Gemuruh<br \/>\nhatiku mendengar ucapannya. Kulihat jelas wajahnya mengeras dan gigi<br \/>\nbergemerutuk. Lalu dengan terbata ia melanjutkan, \u201cTapi, kini semuanya telah<br \/>\nberbeda. Kau sudah berubah. Dan itu disebabkan orang yang dulu kau cintai datang<br \/>\nkembali. Aku tahu kau masih menyimpan rasa padanya. Dan aku tahu, aku sadar<br \/>\ndiri bahwa sejak pertama bertemu dan menikah kau tak mencintaiku setulus hati,<br \/>\ntapi lebih karena desakan orang tuamu.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\"><span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>Matanya memerah. Ada rembesan air mata yang<br \/>\nmembuatnya berkaca. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cAku<br \/>\nmencintaimu, dik. Sungguh mencintaimu! Tapi aku sadar. Cinta tidak bisa<br \/>\ndipaksakan. Sekarang dengan berat hati aku memberikan dua pilihan untukmu. Kau<br \/>\nmemilih tetap bersamaku dan melanjutkan bahtera kita atau memilih mengejar<br \/>\ncinta pertamamu? Apa pun itu aku ikhlas.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Tergugu<br \/>\naku mendengar pengakuan dan vonisnya. Lidahku yang sedari tadi kelu semakin<br \/>\nkaku. Hatiku pun bergemuruh hebat. Disusul hujan yang merembes dari kelopak<br \/>\nmata.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Sementara<br \/>\nia mencoba tegar dan melanjutkan kalimatnya. \u201cAku ikhlas apapun itu. Termasuk<br \/>\nmemilih cinta pertamamu itu. Tetapi, jika itu terjadi. Aku punya satu<br \/>\npermintaan\u2026 biarkan intan tetap bersamaku. Karena dialah permata hatiku,<br \/>\npelipur jiwaku.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Tak<br \/>\nkuasa aku menahan haru. Air mataku semakin deras mengalir. Sungguh aku bimbang.<br \/>\nTak tahu harus berbuat apa. Hanya isak yang tak tertahan membuncah.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: 200%; text-align: center; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">*<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Semenjak<br \/>\npertemuan di caf\u00e9 itu, Roby tidak lagi pulang ke rumah. Begitu juga Intan, Roby<br \/>\nmembawanya menginap di rumah neneknya Intan.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Seminggu<br \/>\nia bilang tidak akan pulang. Agar aku leluasa untuk berpikir jernih dan bis amengambil<br \/>\nkeputusan. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Huhf.<br \/>\nSituasi yang sangat rumit. Dan ini semua disebabkan olehku. Masalahku yang<br \/>\nmenyeret perkawinanku dengan Roby. Aku sendiri bimbang dan bingung harus memutuskan<br \/>\napa? Terlebih aku teringat janji manisnya Dion, lalu terbayang kebaikan dan<br \/>\nkesetiaan Roby serta Intan. Ah, entahlah.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Seminggu<br \/>\nberlalu. Belum juga aku bisa mengambil keputusan tegas. Aku terpenjara dalam<br \/>\nkelemahanku. Terpedaya perasaanku yang tak tentu arah. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Tiba-tiba<br \/>\nsaja pak Udin datang ke rumah. Menjemputku katanya. Dari mulut pak Udin keluar<br \/>\ncerita kalau dia diminta Roby menjeputku karena Intan jatuh sakit. Lemas<br \/>\npersendianku mendengar Intan, anakku jatuh sakit.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\"><span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>Setibanya di rumah sakit. Aku langsung<br \/>\ndisambut mertuaku. Lalu mereka mempersilahkanku menemui Intan.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Aih,<br \/>\nalangkah terkejutnya aku. Intan terbaring lemas. Ia mengigau memanggil-manggil<br \/>\nnamaku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cSudah<br \/>\ndua hari ia mengigau seperti itu. Kangen kamu sepertinya. Sampai kebawa demam\u201d<br \/>\nKata ibu mertuaku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Aku<br \/>\nmendekati Intan. Memeluknya erat, lalu kukecup keningnya. Wajahnya begitu<br \/>\npucat. Ia tak sadar aku didekatnya. Tapi, alangkah anehnya seakan ada koneksi<br \/>\nrasa. Aku bisa merasakan perasaannya. <o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Perasaan<br \/>\nsakit dan takut. Yah, wajahnya menggoreskan ketakutan. Ketakutan kalau aku akan<br \/>\nmeninggalkannya.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cIntan,<br \/>\npermata hatiku. Kau membuat hatiku luruh, nak. Pancaran wajahmu menguatkan,<br \/>\nmama. Kini mama bisa yakin akan pilihan mama.\u201d Tak terasa butiran-butiran<br \/>\nbening meleleh diujung mataku.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\"><span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>\u201cMasih ada yang bisa dipertahankan atas nama<br \/>\nkeluarga. Atas keutuhan hubungan kita, nak. Atas kasihku untukmu.\u201d Kupeluk<br \/>\nIntan sekali lagi. Sepenuh rasa kasih yang kumiliki.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Sudah<br \/>\nwaktunya keputusan terucap tegas. Aku pun minta izin sebentar pada ibu<br \/>\nmertuaku. Izin untuk ke toilet. Aku ingin menelepon Dion.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p align=\"center\" style=\"line-height: 200%; text-align: center; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">*<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\"><span style=\"mso-spacerun: yes;\">&nbsp;<\/span>Segera saja aku menelepon Dion,<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Di<br \/>\nujung sana suara gagah menyapa \u201cHalo, Dina sayang. Kangen yah?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Aku<br \/>\ntak mau menanggapi rayuannya. Keputusanku sudah tegas \u201cAda yang ingin aku<br \/>\nbicarakan serius. Soal keputusanku terhadapmu.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cOh<br \/>\nya, sudah sebulan ini aku menantikannya, Dina. Kau pasti memilihku\u201d katanya<br \/>\nbegitu antusias.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Aku<br \/>\nmenguatkan jiwaku. Wajah Intan menari-nari di pelupuk mataku. Aku bisa tegas,<br \/>\nkataku dalam hati. \u201cDion, maafkan aku. Aku tak bisa lagi melanjutkan hubungan<br \/>\nkita.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cApa?\u201d<br \/>\nsuara Dion nyaring di seberang sana. Ada rasa kaget di sana. \u201cTapi, bukankah<br \/>\nkau sayang padaku. Kau cinta padaku seperti aku mencintaimu?\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Aku<br \/>\ntak sanggup menahan rasa. Isak tangisku menyeriak. \u201cBenar. Benar aku masih<br \/>\nmenyimpan rasa cinta padamu.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cLantas<br \/>\nKenapa?\u201d Tanyanya lagi.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cTapi,<br \/>\nsemuanya sudah berakhir. Sudah berbeda. Aku sudah berkeluarga. Dan keluargaku<br \/>\nlayak aku pertahankan. Sudahlah sudahi ini semua. Carilah orang lain.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cKenapa?<br \/>\nKenapa kau bicara begitu. Aku tak pernah berpaling darimu.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">\u201cAku<br \/>\nmenunggumu. Tapi kau tak datang-datang. Sudahlah. Sekali lagi aku mohon sudahi<br \/>\nsemua ini. Sekarang bagiku kau hanya menjadi sahabatku. Persahabatan jauh lebih<br \/>\nberarti dari pada perasaan yang tak pasti.\u201d<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Aku<br \/>\nmenutup percakapan itu. Aku tak mau dengar lagi apapun sanggahannya. Sudah.<br \/>\nBerakhir sudah rasa cintaku padanya. Aku akan pulihkan lagi perasaan pada Roby<br \/>\nhingga cinta singgah di sana. Akan aku alihkan rasa cintaku pada Dion ke Intan,<br \/>\nseluruh rasa cintaku akan aku tumpahkan pada Intan\u2026<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p style=\"line-height: 200%; text-align: justify; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\"><o:p>&nbsp;<\/o:p><\/span><\/p>\n<p align=\"right\" style=\"line-height: 200%; text-align: right; text-indent: 18pt;\"><span face=\"&quot;Arial&quot;,sans-serif\" style=\"font-size: 12pt; line-height: 200%;\">Gintung, 9 September 2011.<o:p><\/o:p><\/span><\/p>\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sungguh aku bingung. Teramat bingung malah dengan kondisiku kini. Semua masalahku disebabkan oleh kedatangan Dion, cinta pertamaku saat kuliah dulu. Ah, kehadirannya melemparkanku pada masa lalu. Dion. Pertama kali aku kenal ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru. Mahasiswa baru dengan pancaran pesona begitu rupa. Menghayutkan tiap gadis yang melihatnya. Hingga wajar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"om_disable_all_campaigns":false,"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=79"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/79\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=79"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=79"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ahmadyunussukardi.my.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=79"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}