Inkubasi kepemimpinan muda lewat ekstrakurikuler
Ahmad Yunus,

Ada masalah sangat serius yang kita hadapi saat ini. Di tengah krisis multidimensi dan rendahnya kepercayaan publik pada penyelenggara Negara, kita malah mengalami kelangkaan akan pemimpin-pemimpin yang kredibel. Tentu kita sudah bosan denagn pra pemimpin kita saat ini yang banyak kasusnya, dan itu bisa kita saksikan setiap hari di layar kaca. Kelangkaan akan kepemimpinan ini, bisa membawa bangsa kita ke jurang kehancuran.

Mau tidak mau kita harus tetap bertahan melewati masa serba sulit ini sambil membina jiwa-jiwa kepemimpinan di generasi muda. Ibarat pepatah yang mengatakan bahwa kita memakan hasil dari benih yang ditanam oleh orang terdahulu dan orang dimasa datang yang akan memakan benih yang kita tanam hari ini.

Tidak perlu jauh-jauh mencari bibit-bibit muda, mereka yang saat ini masih duduk di bangku sekolah adalah bibit-bibit itu. Di masa datang, merekalah yang akan menjadi pemimpin menggantikan generasi yang saat ini memimpin negeri.

Kepemimpinan tak bisa lahir sendiri, tapi harus menempuh proses. Upaya untuk mencetak orang-orang besar yang punya jiwa kepemimpinan bisa dimulai dari langkah-langkah kecil. Salah satunya adalah pemaksimalan kegiatan ekstrakurikuler.

Sekolah selain kegiatan KBM, juga ada kegiatan ekstrakurikuler seperti Rohis, Pramuka, PMR,  dan lainnya. Namun, kegiatan ekstrakurikuler masih sepi peminat. Kebanyakan pelajar lebih cenderung fokus pada akademik yang bersifat kognitif, begitu  juga dengan kebanyakan guru yang memandang prestasi akademik sebagai segalanya. Padahal tujuan pendidikan kita seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor : 20 Tahun 2003 Bab II Pasal 3 yaitu : “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Ranah kognitif hanya dua dari delapan tujuan pendidikan nasional. Sedangkan, lima diantaranya adalah karater, yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Karakter inilah yang harus dimiliki untuk menjadi seorang pemimpin.

Kegiatan ekstrakurikuler mampu berperan cukup besar bagi penumbuhan lima karakter di atas. Dengan berorganisasi pelajar berlajar untuk manjadi dirinya dan berlajar hidup di lingkungannya, dimana karakter-karakter penting dipraktekkan secara langsung, bukan lagi di sampaikan secara teoritis di kelas.
Dinamika yang terjadi di dalam organisasi juga akan berperan signifikan dalam mengasah karakter kepemimpinan. Di mana, pelajar dituntut untuk kreatif dalam mencari jalan keluar bagi permasalahan yang dihadapi dalam organisasinya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kualitas pembinaan di kegiatan ekstrakurikuler. Materi harus lebih berbobot dan bervisi masa depan serta berpikiran global. Karena persaingan  bukan lagi antar-negara melainkan antar-kota, bahkan antar-pribadi berbeda bangsa. Kemajuan teknologi dan transportasi memaksa kita menyesuaikan diri tanpa terkucuali sama sekali. Siapa yang lambat akan tertinggal, dan siapa yang tak mampu berinovasi akan mati.
Kita sudah sampai pada globalisasi di mana persaingan semakin ketat, karena anak muda saat ini kompetitornya sedunia. Bukan lagi tetangga sebelah. Kita harus tunjukan kopetensi bangsa kita kepada dunia.

Masalahnya, ternyata masih ada sekolah dan guru yang kurang perhatian, bahkan sinis pada aktivis organisasi ekstrakurikuler. Serta masih ada keluhan dari orang tua, bahwa anaknya yang ikut organisasi seperti di anak tirikan oleh beberapa guru. Masalah ini harus segera diatasi, bagaimanpun tujuan pendidikan kita tidak hanya terpaku pada ranah kognitif saja, tapi jauh lebih luas dari itu.

Aktif di kegiatan ekstrakurikuler mampu menginkubasi pelajar untuk menjadi seorang pemimpin. Maka, kegiatan ekstrakurikuler harus mendapat sokongan dengan baik oleh berbagai pihak, baik para guru maupun orang tua serta lingkungan luarnya.

Selain itu, perlu juga diberikan reward bagi mereka yang aktif di ekstrakurikuler. Terlebih buku raport saat ini juga menampung prestasi non akademis seperti kegiatan  ekstrakurikuler.

Akhirnya saya mengutip puisi Jendral Douglas Mac Arthur, komandan perang AS pada waktu perang dunia II, yang sangat paham akan pentingnya menumbuhkan jiwa kepemimpinan pada anak,
Tuhanku/ aku mohon, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak/ namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan/ biarkan putraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senatiasabelajar/ untuk mengasihi mereka yng tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi/ sanggup memimpin dirinyasendiri/ sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain…

===
Catatan Ahmad Yunus. Tulisan pernah dimuat di koran Satelit News 16 Agustus 2011

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *