Belakangan ini kita disuguhkan sebuah pertunjukan atau lakon yang tidak terlalu nyaman untuk disaksikan. Bagaimana orang yang sudah jelas-jelas salah, tapi tidak mau meminta maaf.

Saya ingin cerita sedikit tentang obrolan santai dengan sopir angkot Balaraja – Sangiang. Di mobil angkot ini saya ketemu sopir yang agak sabaran juga, tidak ugal-ugalan lah.

Di tengah perjalanan sopir cerita, bahwa dia dulu pernah di tabrak ojol. Jadi saat dia lagi nurunin penumpang, tiba-tiba saja mobilnya  ditabrak dari belakang oleh ojol. Biasanya kalo bermasalah dengan ojol, ojol langsung rame-rame datang.

Si sopir agak kesal karena penumpangnya juga belum memberikan uang kepada dia, dan posisi mobil berhenti Kenapa ditabrak juga? Terus si ojol tidak langsung meminta maaf. Si ojol  malah ngeles kesana kemari seakan ingin lepas dari tanggung jawab atas kesalahan yang dibuat.

Ujung-ujungnya saja memberikan uang Rp100.000 untuk perbaikan mobil yang penyok.  Dan si sopir berkata kepada si Abang ojol tersebut, saya tidak munafik membutuhkan uang. Siapa sih yang tidak butuh uang? Masalahnya seratus ribu ini cukup tidak memperbaiki mobil yang yang penyok? Iya kalau lebih kalau kurang Siapa yang nombok?

Akhirnya si sopir angkot itu menurunkan semua penumpang mengajak si ojel ke bengkel mobil. Ternyata bengkel meminta 300.000 untuk perbaikan mobil.

Si sopir angkot itu berkata kepada saya. Yang bikin saya kesel itu kenapa si Ojol tidak langsung minta maaf mengatakan saya bertanggung jawab ayo kita selesaikan di bengkel. Dan tidak usahlah bikin alasan seperti ini itu  di jalan terus adu argumen, membuang energi bagi si sopir angkot. Harusnya minta maaf kalau kita salah kita, juga berani bertanggung jawab. Apa gunanya minta maaf, kalo tidak  mau bertanggung jawab, kalo seperti itu  anak kecil juga bisa sekedar minta maaf doang.

Kalau saya salah kepada anak saya, saya minta maaf. Begitu juga kalau saya salah kepada istri, saya juga akan minta maaf. Karena saya dididik seperti itu oleh orang tua saya.

Si sopir angkot kemudian cerita, saya pernah nabrak mobil dinasnya TNI. Bayangin Mobil dinasnya TNI. Tapi karena saya salah, Saya langsung keluar lari dari mobil. Saya sampai sujud sujud itu minta maaf ke Bapak TNI.

“Saya bilang ke bapak TNI nya. Bapak ayo keluar kita periksa kerusakannya di bagian mana. Biar saya bawa ke bengkel, nanti saya yang yang bayar biaya kerusakan.
Ternyata bapak tentaranya tersenyum. Keluar dari mobil terus menepuk punggung si sopir.

Tidak apa-apa, saya menghargai niat bapak sampai lari-lari seperti itu. Soalnya jarang sopir angkot yang seperti bapak mau mengakui kesalahan.

Si sopir angkot gak bingung, bagaimana Pak kerusakannya biar saya yang tanggung jawab?

Si bapak tentara menjawab, tidak usah, bapak hati-hati di jalan, kalau kerusakan mobil ini gampanglah nanti saya minta ke orang kantor untuk mengurusnya.

Selesai urusannya tidak perlu debat. Jadi kalau kita salah cukup mengakui kesalahan kita dan kita siap tanggung jawab. Selesai perkara! Tukas si Sopir angkot.
Saya setuju dengan pemikiran sopir angkot tersebut. Saya juga orang yang begitu simple, jadi kalau saya salah, saya minta maaf dan kalau emang ada yang kalau dipertanggungjawabkan, ya saya akan bertanggung jawab.

Dan Jumat kemarin tanpa saya sadari ternyata saya membuat sebuah kesalahan. Masalahnya sederhana tapi cukup fatal. Saya memproses dokumen bongkar muat untuk 2 mobil yang Aceh dan ke Puncak. Saya tergesa-gesa saat itu sehingga tidak teliti. Jumlah untuk ke Bogor harusnya 80 sak malah ditulis hanya 40 sak. 

Ketika sore saya baru menyadari kesalahan itu. Saat konsumen Saya yang dari puncak komplain, kan harusnya 80 sak yang dikirimkan kepada mereka namun yang terkirim hanya 40 sak. Dan ketika saya tanya ke transporternya juga bilang 40 sak sesuai dengan dokumen yang saya tanda tangani.

Hasil crosscek surat-suratnya ternyata memang itu kesalahan saya. Dan konsumen menginginkan agar sisanya dikirim  kembali namun tidak dikenakan biaya transportasi tambahan.

Well, akhirnya saya telepon balik meminta maaf dan saya bertanggung jawab untuk kesalahan saya tersebut. Saya sangat paham berbahaya mengabaikan pelanggan yang kecewa (bisa anda baca di tulisan Pelanggan kecewa dan pelajaran berharga dari Blibli). Saya pun Mengabulkan permintaan konsumen untuk dikirimkan kembali barangnya sesuai dengan yang dipesan dan biaya transportasinya digratiskan.

Sederhana seperti itu, jadi masalah langsung selesai dan konsumen nyaman. Meski ada pengorbanan yang harus dikeluarkan. Pengorbanan uang karena secara hitungan saya rugi materi. Namun itu menjadi tanggung jawab saya karena kesalahan dilakukan oleh saya.



0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *