Matahari pagi di awal bulan kemerdekaan begitu cerah menyinari. Sinarnya menerangi pekarangan dengan aneka tanaman sayur. Dengan keranjang kecil di tangan, saya memetik lembar daun katuk, bergeser sedikit untuk memetik cabai yang memerah, lalu mencabut daun bawang yang tumbuh subur di sela-sela pohon cabai. Hari itu, bahan pangan bergizi untuk keluarga sudah tersedia tanpa perlu melangkah ke pasar. Di pekarangan seluas kurang dari 10 meter persegi inilah, sebuah langkah kecil mencegah ancaman stunting dimulai.
Setiap tahun ada jutaan anak di Indonesia yang mengalami stunting. Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru tahun 2024, jumlah balita yang mengalami stunting di Indonesia tercatat sebanyak 4.482.340 anak. Angka tersebut setara dengan prevalensi sebesar 19,8% di tingkat nasional, turun 1,7 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 21,5 persen. Tingginya anak penderita stunting, membuat berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat sipil, memberikan fokus yang serius pada masalah ini.
Dalam buku “Kebun Pangan Keluarga Food, Health & Happiness” para ahli gizi mengatakan bahwa stunting bukanlah sekadar urusan kurang makan. Stunting merupakan manifestasi dari interaksi patologis antara faktor biologis, kegagalan pola asuh, dan determinan ekonomi. Penyebab utamanya mencakup perilaku terhadap makanan (budaya dan kepercayaan pemilihan pangan), buruknya sanitasi lingkungan, berat badan lahir rendah, serta pemberian ASI eksklusif yang tidak memadai.
Masih dalam buku yang sama, dipaparkan bahwa akar masalah yang paling menjerat keluarga miskin adalah “status sosial ekonomi” yang berkelindan dengan isu Fragmentasi Lahan. Di Indonesia, kepemilikan lahan pertanian per kapita sangat kecil dan terus menyusut akibat sistem pewarisan. Selain itu, alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman, pembangunan infrastruktur, kawasan industri dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan Keterbatasan dan menyusutnya lahan pertanian yang pada akhirnya menurunkan produktivitas pangan nasional.
Kondisi ini membuat keluarga berpenghasilan rendah kehilangan akses terhadap lahan produksi tradisional. Akibatnya, rumah tangga terjebak dalam parameter kerawanan pangan. Bayangkan saja, menurut data BPS terbaru tahun 2025, hampir separuh (49,4 persen) dari pengeluaran bulanan masyarakat Indonesia habis hanya untuk membeli makanan.
Solusi Mikro Pencegahan Stunting dari Pekarangan
Saya ingin mengajukan salah satu solusi skala mikro yang dapat dicoba dalam mencegah stunting yaitu mulai dari pekarangan. Dengan menjadikan pekarangan sebagai sumber gizi bagi keluarga. Hal ini sudah dilakukan saya sejak zaman pandemi COVID-19, yaitu mengubah pekarangan dari tanaman hias menjadi tanaman yang dapat dimakan.
Menjadikan pekarangan sebagai sumber penghasil pangan bagi keluarga adalah salah satu solusi pencegahan stunting. Penyediaan bahan pangan tidak melulu dilakukan secara intensif di sawah atau kebun yang luas. Keluarga dapat memanfaatkan ruang-ruang terbatas di sekitar rumah, seperti pekarangan, pagar, hingga ruang terbuka hijau untuk memproduksi bahan pangan sendiri secara mandiri.
Konsep menjadikan pekarangan sebagai kebun pangan dikenal sebagai edible landscaping. Secara harfiah, istilah ini menggabungkan kata “edible” (dapat dimakan) dan “landscaping” (mendesain lahan atau kebun). Konsep ini memanfaatkan ruang terbatas secara efektif dan efisien. Kebun pangan dirancang dengan memadupadankan tanaman sayuran, tanaman buah, kolam ikan dan unggas.
Bagi masyarakat perkotaan yang lahan rumahnya terbatas, dapat melakukan teknik vertical garden alias menanam keatas dengan memanfaatkan pagar atau dinding sebagai tempat menanam. Selain itu pot gantung dan rak dinding juga dapat digunakan sebagai tempat menanam. Jadi tak peduli seberapa sempit lahan yang dimiliki, selalu ada solusi untuk menjadi pekarangan sebagai sumber pangan keluarga.
Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa fokus pemanfaatan kebun pekarangan bersifat non komersial. Artinya lebih menitikberatkan pada penyediaan bahan pangan keluarga secara mandiri. Tidak bertujuan untuk mencari keuntungan ekonomi lewat penjualan hasil panen. Hasil panen cukup dinikmati untuk anggota keluarga.
Dua Model Kebun Pekarangan
Di Indonesia sendiri, setidaknya ada dua model pemanfaatan pekarangan sebagai sumber gizi. Pertama adalah program top-down dari pemerintah dengan nama Rumah Pangan Lestari (RPL). Kedua adalah bottom-up dari masyarakat, salah satu contohnya adalah inisiasi kebun warga ala Britania Sari.
Rumah Pangan Lestari merupakan program yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian. Program ini menitikberatkan pada penggunaan lahan pekarangan sebagai sumber pangan dan sumber gizi keluarga. Rumah Pangan Lestari menerapkan konsep backyard agriculture, yaitu mengintegrasikan kegiatan bercocok tanam dengan budidaya ikan atau ternak (seperti ayam) di area pekarangan.
Rumah Pangan Lestari sebagai program yang diturunkan oleh pemerintah memiliki pendekatan teknologi dan riset terukur dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP). Program ini memiliki pendanaan lewat anggaran belanja pemerintah, sehingga penerima manfaat lebih massif. Program ini juga memiliki Parameter Keberhasilan Teknis,yaitu tercapainya skor Pola Pangan Harapan sebesar 91,10 (mendekati ideal 100), yang mencerminkan keragaman konsumsi rumah tangga yang sangat baik.
Model kebun warga yang diinisiasi oleh Britania Sari di daerah Parung Panjang, Kabupaten Bogor, adalah model pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan lahan terbatas untuk menciptakan kemandirian pangan dan mencegah stunting. Konsep ini dimulai secara mandiri pada tahun 2020 melalui “Kebun Agya” di pekarangan belakang rumah Britania Sari seluas 200 meter persegi, yang kemudian dikembangkan menjadi proyek “Kebun Warga” untuk warga prasejahtera di sekitarnya. Tujuannya adalah membuktikan bahwa setiap rumah tangga dapat menanam kebutuhan pangannya sendiri meskipun lahan yang dimiliki sangat terbatas.
Pembangunan kebun warga tidak diberikan secara cuma-cuma kepada sembarang orang. Warga yang dipilih harus memenuhi kriteria utama, yaitu mau diajarkan dan mau merawat kebun tersebut. Britania Sari menyediakan biaya pembangunan dan media tanam sepenuhnya, sementara warga bertanggung jawab atas keberlangsungannya.
Inisiatif kebun warga secara spesifik menyasar ibu hamil dan balita untuk memastikan mereka mendapatkan nutrisi yang cukup sejak masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun guna mencegah gizi buruk.
Sebagai program bottom-up yang lahir dari masyarakat sipil, program kebun warga memiliki keterbatasan dana. Dana didapatkan dari urunan donatur, sehingga penerima manfaat pun terbatas. Namun memiliki keberlanjutan yang lebih baik bila dibandingkan program pemerintah, karena berfokus pada manajemen personal dan penyadaran (awareness) sebagai motor penggerak utama.
Pengalaman pribadi saya dalam memanfaatkan lahan pekarangan dimulai dari limbah rumah tangga. Kami mengompos limbah organik menjadi pupuk menggunakan komposter bag. Air cucian beras juga dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair. Sehingga ketersediaan pupuk selalu ada tanpa harus membeli.
Sebagai orang yang tinggal di wilayah urban dengan lahan terbatas, saya memanfaatkan pot sebagai wadah tanam. Media tanam yang digunakan minim tanah, komposisi lebih banyak serbuk gergaji dibandingkan tanah, tak lupa pupuk organik sebagai sumber nutrisinya.
Jenis tanaman yang dipilih adalah sayuran yang mudah tumbuh dan minim perawatan seperti bayam brazil, kangkung, bayam merah, ginseng Jawa, katuk, lengkuas. Tumpang sari juga dilakukan dengan menanam daun bawang di antara pohon cabai.
Memiliki sayuran di pekarangan seperti memiliki kulkas hidup. Sayuran dan buah yang dipanen selalu dalam kondisi segar. Biar tidak bosan, pemanenan diseling antara satu sayuran dengan sayuran yang lain.
Saya memadukan konsep Rumah Pangan Lestari dan Kebun warga ke dalam kebun pekarangan. Kedua model ini memiliki kekuatan unik. Rumah Pangan Lestari pada presisi data dan struktur teknologi, sementara Kebun warga pada fleksibilitas sosial dan pendekatan psikologis. Kedua model ini juga memberikan manfaat yang luas dan saling berkaitan dalam mendukung ketahanan pangan keluarga dan pencegahan stunting.
Manfaat ganda Kebun Pekarangan
Memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan memberikan dampak berantai yang jauh lebih besar dari sekadar rimbunnya dedaunan atau sekedar estetik. Ia hadir sebagai solusi yang menjawab banyak persoalan di tingkat akar rumput sekaligus.
Di atas meja makan, perubahannya sangat terasa. Menu harian yang mungkin tadinya monoton kini jauh lebih beragam dan kaya nutrisi. Beragamnya asupan ini sejalan dengan target ideal Skor Pola Pangan Harapan, sebuah indikator gizi nasional yang terus diperjuangkan pemerintah.
Namun, manfaatnya tidak berhenti di piring makan. Secara perlahan, kebun pekarangan ini menyelamatkan dompet ibu-ibu rumah tangga. Bayangkan saja, riset Dari Haryati dan Sukmaya tahun 2016 yang berjudul “Optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan dalam mendukung peningkatan gizi keluarga” menunjukkan bahwa keluarga yang memanen sayur dari pekarangan sendiri dapat memangkas uang belanja dapur hingga lebih dari 26 persen setiap harinya. Bagi keluarga prasejahtera, angka penghematan itu sangatlah berarti dan dapat dialihkan untuk kebutuhan yang lain.
Lebih dari urusan perut dan uang, ada nilai sosial yang diam-diam tumbuh bersama rimbunnya tanaman. Berkebun menjadi semacam sekolah alam tanpa biaya. Anak-anak dapat diajak belajar tentang darimana asal makanan mereka, sekaligus memahami arti pola makan sehat sejak dini. Bagi masyarakat marjinal, memiliki sumber makanan mandiri adalah sebuah bentuk kemerdekaan kecil. Mereka tidak lagi melulu bergantung pada uluran tangan atau bantuan sembako yang kadang tak menentu. Ada harga diri yang perlahan tegak kembali saat seorang kepala keluarga mampu menyerahkan hasil panen dari keringatnya sendiri di pekarangan rumah, memastikan istri dan anaknya terhindar dari jerat stunting.
Indonesia kuat dimulai dari masyarakatnya yang sehat, dan masyarakat sehat dimulai dari keluarga yang tumbuh baik tanpa stunting. Jadi jangan anggap remeh pekarangan! Memanfaatkan pekarangan dapat menjadi solusi pencegahan stunting langsung dari rumah tangga.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI