Setiap tahun kita disuguhkan berita bahwa ada pejabat yang kekayaannya melonjak. Sebuah fenomena yang tampak menjadi biasa di kalangan pejabat kita yang hartanya tiba-tiba naik drastis dari sebelum menjabat, menjadi berkali lipat saat menjabat. Dalihnya dari hasil usaha. Hal tersebut tidak akan kita temukan ketika era Khalifah Umar Bin Khattab karena ada larangan untuk berbisnis bagi para pejabat. Larangan yang sama juga berlaku di China lewat aturan bernama Shanghai Model. 



Larangan Berbisnis bagi Pejabat model Umar bin Khattab

Salah satu kebijakan yang ditetapkan oleh Umar bin Khattab saat menjabat sebagai khalifah adalah larangan berbisnis bagi pejabat pemerintahan. Kebijakan ini diambil demi menjaga integritas pemerintahan, mencegah konflik kepentingan, dan menghindari penyalahgunaan kekuasaan demi keuntungan pribadi. 

Setidaknya ada 3 alasan kenapa pejabat dilarang berbisnis:

  1. Penyalahgunaan Pengaruh: Pejabat memiliki kekuasaan besar. Jika mereka berbisnis, rakyat atau pedagang lain berpotensi merasa sungkan atau terpaksa mengalah. Hal ini membuat pejabat dapat dengan mudah menguasai pasar atau monopoli bisnis secara tidak sehat.
  2. Fokus Pelayanan Publik: Umar menginginkan para pembantunya fokus mengurus urusan rakyat, bukan membagi pikiran untuk mencari keuntungan materi pribadi.
  3. Pencegahan Korupsi: Pembatasan ini mempersempit ruang gerak penyuapan terselubung atau pencucian uang melalui kedok transaksi bisnis.

Kebijakan Ketat Pemeriksaan Harta (Audit) ala Umar bin Khattab

Sebelum seorang pejabat atau gubernur berangkat ke wilayah tugasnya, Umar bin Khattab menerapkan aturan yang sangat ketat: 
  • Pencatatan Harta Awal: Kekayaan awal pejabat dihitung dan dicatat secara detail.
  • Sidak dan Audit Berkala: Umar secara berkala memantau perkembangan harta para pejabatnya.
  • Penyitaan Harta: Jika saat selesai menjabat ditemukan lonjakan harta yang tidak wajar (meskipun diklaim hasil bisnis), Umar tidak segan menyita sebagian atau seluruh harta tersebut untuk dimasukkan ke kas negara (Baitul Mal). 

Contoh Kasus Ketegasan Umar dalam Kebijakan Pejabat dilarang berbisnis

  • Kasus Bisnis Unta Abdullah (Putra Umar)
Abdullah bin Umar membeli unta yang kurus lalu menggembalakannya di lahan fasilitas negara (hutan lindung/padang rumput milik Baitul Mal). Unta tersebut menjadi sangat gemuk dan bernilai mahal. Mengetahui hal itu, Umar menegur putranya karena dianggap memanfaatkan fasilitas jabatan ayahnya (keuntungan dari privilege). Umar menyuruh unta itu dijual, modal awalnya dikembalikan ke Abdullah, sedangkan seluruh keuntungan penjualannya disita untuk kas negara. 
  • Sidak Harta Abu Hurairah:
Saat Abu Hurairah menjabat sebagai gubernur di Bahrain, hartanya bertambah secara signifikan. Meskipun Abu Hurairah menjelaskan bahwa uang tersebut adalah hasil bisnis berkuda dan berternak yang sah, Umar tetap bersikap tegas. Demi menjaga prinsip kehati-hatian pejabat publik, harta yang berlebih tersebut disita dan dialihkan ke Baitul Mal. 

Shanghai Model, Pelarangan Berbisnis bagi pejabat yang lebih ekstrim ala Pemerintah China

Shanghai Model (Model Shanghai) adalah kebijakan regulasi anti-korupsi super ketat di China yang dirancang untuk memutus total hubungan antara kekuasaan politik (power) dan keuntungan bisnis pribadi (wealth).
Kebijakan ini pertama kali diluncurkan sebagai proyek percontohan (pilot project) di Shanghai pada Mei 2015 di bawah instruksi Presiden Xi Jinping, sebelum akhirnya diadopsi secara nasional karena terbukti efektif menutup celah korupsi terselubung. [
Hukum dasar China sebenarnya sudah melarang pegawai negeri berbisnis, tetapi Shanghai Model membawa aturan ini ke level ekstrem dengan menyasar lingkaran keluarga inti pejabat.

Poin-Poin Utama Aturan Shanghai Model

  1. Larangan Total untuk Pasangan (Suami/Istri): Istri atau suami dari pejabat senior tingkat menteri dan provinsi dilarang total mendirikan perusahaan swasta, terlibat dalam operasi bisnis apa pun, atau memegang posisi eksekutif puncak di perusahaan bermodal asing.
  2. Aturan Zonasi Ketat untuk Anak dan Menantu: Anak serta menantu dari pejabat publik dilarang keras menjalankan bisnis swasta atau berinvestasi di wilayah hukum (jurisdiction) tempat pejabat tersebut memegang kekuasaan. Mereka tidak boleh memanfaatkan pengaruh politik orang tuanya untuk memenangkan tender lokal.
  3. Blokir Investasi Non-Publik:Anggota keluarga inti pejabat dilarang keras membeli saham di perusahaan yang tidak terdaftar di bursa efek (non-listed enterprises), menjadi mitra dalam persekutuan komersial, atau mendirikan bisnis di luar negeri lalu membawanya kembali untuk beroperasi di China.
  4. Berlaku hingga Sektor Yudisial dan BUMN:Aturan ini tidak hanya berlaku bagi kepala daerah atau kader partai, melainkan mengikat ketat instansi kejaksaan, kepolisian, pengadilan, hingga para petinggi perusahaan BUMN (State-Owned Enterprises) yang berbasis di Shanghai.

Cara Kerja dan Mekanisme Penegakan Shanghai Model

Penjelasan mengenai cara kerja Sanghai model adalah dengan cara berikut: 
  • Deklarasi Kekayaan Wajib (Wealth Declaration): Pejabat wajib melaporkan secara tertulis seluruh aktivitas bisnis, kepemilikan saham, dan pekerjaan yang dilakukan oleh pasangan serta anak-anak mereka setiap tahun.
  • Sidak dan Verifikasi Acak (Spot Check): Pemerintah melakukan audit acak tahunan terhadap laporan tersebut. Jika ditemukan ketidaksesuaian data sipil dan perbankan, pejabat akan langsung diperiksa.
  • Sanksi Ultimatum Dua Pilihan: Jika keluarga pejabat terbukti memiliki bisnis yang melanggar aturan ini, pejabat tersebut diberikan ultimatum keras:Meminta keluarganya menutup/keluar dari bisnis tersebut sepenuhnya.Pejabat tersebut yang dipaksa mengundurkan diri (resign) dari jabatannya.

Contoh Kasus pejabat China yang dihukum mati versi Shanghai Model

Berikut adalah contoh-contoh pejabat tinggi di China yang dijatuhi hukuman mati akibat terbukti memanfaatkan jaringan bisnis keluarga atau pengaruh jabatan untuk menimbun kekayaan:

  • Lai Xiaomin (Mantan Ketua China Huarong Asset Management)
Status Kasus: Dieksekusi mati pada Januari 2021.

Modus Operasi Swasta & Keluarga: Lai Xiaomin memanfaatkan posisinya di BUMN keuangan terbesar China untuk menyalurkan investasi negara ke perusahaan swasta tertentu. Sebagai imbalannya, ia menerima suap tunai dan aset senilai total 1,79 miliar yuan (sekitar Rp3,8 triliun). Sebagian dari dana korupsi dan aset ini disamarkan melalui jaringan bisnis, real estat, dan diberikan kepada lingkaran keluarga dekat serta simpanannya.

Alasan Hukuman Mati Tanpa Penangguhan: Mahkamah Agung China menilai jumlah suap yang diterima Lai “sangat besar” dan tindakannya merusak keamanan finansial negara, sehingga ia tidak mendapatkan ampunan.
  • Tang Renjian (Mantan Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan)
Status Kasus: Dijatuhi hukuman mati dengan penangguhan dua tahun pada September 2025.

Modus Operasi Bisnis Keluarga: Tang Renjian terbukti menyalahgunakan wewenangnya sejak menjabat sebagai Gubernur Provinsi Gansu hingga menjadi menteri. Ia memanfaatkan posisinya untuk meloloskan proyek-proyek pemerintah, pengadaan lahan, dan perizinan bisnis kepada pihak swasta. Imbalan suap mengalir deras secara tidak langsung untuk memperkaya diri dan lingkaran keluarganya.

Putusan hukum: Sesuai sistem hukum China, jika ia berkelakuan baik selama masa penangguhan 2 tahun, hukumannya dapat diubah menjadi penjara seumur hidup tanpa pengurangan masa tahanan tambahan.
  • Bai Tianhui (Mantan Manajer Umum China Huarong International)
Status Kasus: Dieksekusi mati pada Desember 2025.
Modus Operasi: Menjadi kelanjutan dari pembersihan sektor keuangan pasca-kasus Lai Xiaomin. Bai Tianhui terbukti menerima suap komersial sebesar 1,1 miliar yuan (sekitar Rp2,4 triliun) dari korporasi swasta agar mereka mendapatkan akuisisi proyek dan pembiayaan korporat dari BUMN tempat ia memimpin.

Analisis Perbedaan model Umar bin Khattab dengan Shanghai Model

Model Umar bin Khattab dan Shanghai Model memiliki kesamaan visi yang sangat kuat dalam melarang pejabat publik berbisnis. Namun, keduanya memiliki perbedaan besar pada cakupan regulasi keluarga, mekanisme audit, dan landasan filosofisnya.
Perbandingan Komparatif: Model Umar vs  Shanghai Model
Fitur PembandingModel Umar bin Khattab (Klasik)Shanghai Model (Modern)
Subjek yang DilarangPejabat publik secara personal wajib berhenti berniaga.Pejabat publik (pns/kader), pasangan (suami/istri), hingga anak & menantu.
Konsep Larangan KeluargaBersifat situasional. Keluarga boleh berbisnis asalkan tidak menggunakan fasilitas atau pengaruh negara (kasus Abdullah bin Umar).Bersifat mutlak terikat zonasi. Keluarga inti dilarang total memiliki saham, menjadi direksi swasta, atau berbisnis di wilayah hukum pejabat tersebut.
Mekanisme TransparansiAudit fisik langsung secara berkala dan hitungan kekayaan riil di awal & akhir jabatan.Sistem pelaporan tahunan (Wealth Declaration) secara digital, ditambah sidak acak (spot check) terhadap 20% pejabat setiap tahun.
Sanksi PelanggaranPenyitaan harta surplus untuk dialihkan langsung menjadi aset negara (Baitul Mal).Ultimatum dua pilihan: Keluarga mundur dari bisnis, ATAU pejabat tersebut dipaksa mengundurkan diri (resign).
Landasan FilosofisTeosentris & Asketisme (Zuhd): Jabatan adalah amanah spiritual; pejabat harus hidup sederhana demi keadilan sosial.Meritokrasi Negara Ekonomi: Menjaga iklim pasar bebas yang sehat, mencegah nepotisme, dan menjaga stabilitas partai berkuasa.
Perbedaan Kunci antara Model Umar bin Khattab dengan Shanghai Model
Setidaknya ada 3 perbedaan kunci dalam penerapan larangan berbisnis bagi pejabat antara model Umar bin Khattab dengan Shanghai model, yaitu:
1. Perluasan Jerat Hukum ke Lingkaran Keluarga (Spouse & Children Ban)
  • Shanghai Model jauh lebih agresif dalam memblokir celah “nominee” (penggunaan nama orang lain). Shanghai menyadari korupsi modern sering kali disamarkan melalui bisnis istri atau anak. Pasangan pejabat senior di Shanghai dilarang total mengelola bisnis swasta atau memegang posisi puncak di perusahaan asing. 
  • Model Umar fokus pada perilaku personal pejabat, namun memberikan batasan ketat pada keluarga agar tidak mendapat keuntungan khusus (privilege) dari fasilitas negara.
2. Konsekuensi Hukum dan Penyelesaian
  • Jika terjadi pelanggaran, Model Umar langsung mengeksekusi tindakan penyitaan harta benda untuk negara tanpa kompromi.
  • Shanghai Model menggunakan pendekatan administratif birokratis terlebih dahulu: pejabat diberi pilihan untuk membersihkan bisnis keluarganya atau meletakkan jabatan publiknya. Namun, jika ditemukan unsur pidana suap, mereka akan menghadapi pengadilan korupsi yang sangat berat. 
3. Sistem Pengawasan Aktif vs Deklaratif
  • Model Umar mengandalkan intelijen negara (mata-mata khalifah) dan pengawasan massa secara fisik di lapangan ekonomi.
  • Shanghai Model memanfaatkan integrasi data sipil dan finansial modern yang mewajibkan pejabat mengisi formulir deklarasi bisnis keluarga secara berkala untuk di-audit secara sistematis.
Kedua model ini membuktikan bahwa baik di abad ke-7 maupun abad ke-21, penggabungan antara kekuasaan politik (regulator) dan motif keuntungan komersial (bisnis) selalu dipandang sebagai ancaman terbesar bagi keadilan sosial dan kebersihan birokrasi.

Referensi:

Firyalfatin. Terbukti Korupsi, Tiongkok Hukum Mati Eks-Menteri Pertanian dan Urusan Pedesaan. https://www.hukumonline.com/berita/a/terbukti-korupsi–tiongkok-hukum-mati-eks-menteri-pertanian-dan-urusan-pedesaan-lt68db5aa2c6fb7/

John Ruwitch. Shanghai bans leaders’ family members from business. https://www.reuters.com/article/world/shanghai-bans-leaders-family-members-from-business-idUSKBN0NQ0D2/

Laksmi Pradipta Amaranggana, Rizal Setyo Nugroho. China Hukum Mati Pejabat yang Terima Suap Rp 2,4 Triliun.  https://www.kompas.com/tren/read/2024/05/30/173000665/china-hukum-mati-pejabat-yang-terima-suap-rp-2-4-triliun?page=all.

Muhammad Hafil. Umar Bin Khattab Menyita Harta Pejabat yang Bertambah Kaya. https://republika.co.id/berita/islampedia/kisah/20/01/10/q3uo43430-umar-bin-khattab-menyita-harta-pejabat-yang-bertambah-kaya

M Alvin Nur ChoironiTiba-tiba Punya Banyak Uang Saat Menjabat, Umar Sidak Harta Abu Hurairahhttps://islami.co/tiba-tiba-punya-banyak-uang-saat-menjabat-umar-sidak-harta-abu-hurairah/

Narjih Al-Mujtahid. Cara Umar bin Khattab Mencegah Penyalahgunaan Jabatan. https://ibtimes.id/cara-umar-bin-khattab-mencegah-penyalahgunaan-jabatan/

Ratu Mustarsyiddah, et al. “Model Kepemimpinan Berkeadilan Umar Bin Khattab Sebagai Solusi Terhadap Krisis Integritas Pemimpin Masa Kini ”. Journal of Education, Cultural and Politics , vol. 5, no. 4, Dec. 2025, pp. 751-67, doi:10.24036/jecco.v5i4.891.

Shanghai bans top officials’ spouses from running businesses. https://www.businesstimes.com.sg/international/shanghai-bans-top-officials-spouses-running-businesses



Categories: Opini