Sungguh
aku bingung. Teramat bingung malah dengan kondisiku kini. Semua masalahku
disebabkan oleh kedatangan Dion, cinta pertamaku saat kuliah dulu. Ah,
kehadirannya melemparkanku pada masa lalu.

Dion.
Pertama kali aku kenal ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru. Mahasiswa baru
dengan pancaran pesona begitu rupa. Menghayutkan tiap gadis yang melihatnya.
Hingga wajar ia menjadi idola dan rebutan mahasiswi baru. Termasuk juga aku.
Dan alangkah bahagianya aku saat itu, karena akulah yang terpilih menjadi
belahan hatinya.

Bertahun-tahun
kami larungi hari dengan memadu kasih. Terlebih lagi ia sangat romatis dan
selalu membuatku berbunga-bunga. Hingga diujung masa kuliah. Tiba-tiba saja ia
harus pergi jauh dariku. Ia memilih pergi ke Amerika. Mengejar cita-citanya.
Aku yang tak berdaya oleh pesonanya hanya bisa mengangguk pasrah.

“Aku
berjanji akan pulang dan menemui cintaku lagi. Tunggu aku.”

Ia
pun pergi begitu saja. Merenggaskan rasa cinta. Menggugurkan kasih. Setahun aku
menanti, ia tak memberikan kabar. Dua tahun aku tetap menanti, ia semakin
menghilang tanpa jejak. Tahun ketiga penantianku, membuat aku kalut. Tahun
keempat, aku hampa dan kehilangan gairah Hidup.

Dukaku
semakin purna. Kedua orang tuaku memaksa aku menikah dengan orang yang tak
pernah aku cintai. Tapi, tanpa daya aku tak bisa menolak. Pemaksaan dengan cara
tak pernah aku sanggup mengerti, memaksa dengan mengiba-ngiba membuat aku
mengangguk.

Tanpa
cinta aku lewati pernikahan. Sakitnya aku, ternyata Roby, orang yang menikahiku
sangat baik. Aku sungguh tersiksa dengan kebaikannya. Sementara aku hanya
berpura-pura. Apa daya, cinta tak bisa dipaksa datangnya.

Sepertinya
Tuhan berkendak lain, Sampai akhirnya di usia pernikahanku yang ke tiga, aku
melahirkan anak. Dan limpahan kasih sayang dari Roby semakin melimpah. Dari
kasihanku timbullah secara perlahan rasa cinta. Namun tak pernah sepenuh
perasaanku pada Dion.

*

Entahlah,
sepuluh tahun berlalu tiba-tiba saja Dion kembali hadir. Ia ternyata masih
mengharapkanku menjadi pendampinya. Sikapnya yang romantis, terlebih rasa
cintaku padanya yang belum pudar membuat aku tergoda.

Rasa
cinta yang mulai tumbuh untuk Roby, seketika terterjang putting beliung bernama
Dion. Akhirnya trnpa sepengetahuan Roby aku menjalin hubungan dengan Dion. Ah
sungguh aneh. Mungkin bagi sebagian orang sikapku ini salah. Tapi ini cinta.
Sulit aku menapikan perasaanku.

Ah,
aku menulikan semua. Berdua dengan Dion membuatku sengat bahagia. Kata-kata dan
rayuan romantisnya selalu membuatku mabuk. Walau aku tahu itu cuma gombal, tapi
aku tak bisa menolaknya. Apalagi Roby tak pernah mengucapkan kata-kata cinta.

“Dina,
aku tahu kau telah berkeluarga. Tapi masih kah kau menyimpan keinginan yang
dulu kita lambungkan. Maukah kau menjadi pendampingku?” kata Dion di suatu
malam. Aku kelu tak mampu menjawabnya.

*

Aku
bimbang. Aku tahu ucapan Dion sangat serius. Maka aku konsultasika masalahku
pada Rita, karibku.

“Apa,
Dion ngajak kamu Nikah. Kamu gila, Din. Roby dan Intan mau di kemanain?” Respon
Rita padaku. Ia menggeleng-geleng kepala, bingung melihat sikapku. “Roby itu
sangat baik dan setia. Kau sungguh tega.”

*

Dua
hari setelah aku curhat pada Rita. Roby mengajakku ketemuan. Sepertinya ada hal
penting yang ingin disampaikan Roby. Tidak biasanya ia memintaku ketemuan makan
siang tak jauh dari kantorku. Aku menunggunya dengan perasaan tak menentu.

Sepuluh
menit kemudian ia datang menghampiriku. Langsung duduk tepat di depanku. Wajahnya
dingin dan gerak tubuhnya kaku.

“Dik,
ada hal serius yang harus kita bicarakan dan selesaikan.” Katanya membuka
perbincangan.

“Apa?”

“Ada
hal yang kau sembunyikan padaku selama ini. Rita sudah cerita semuanya. Tentang
Dion dan masa depan rumah tangga kita!”

Deg.
Jantungku berdedug kencang. Aku tak tahu harus berkata apa. Pias sudah. Kebohonganku
tersingkap sudah. Ah, Rita kenapa kau membeberkan jalinan hubunganku dengan
Dion pada Roby?

“Dik,
aku tak tahu mengapa semua ini terjadi pada hidupku. Kenapa kau…”

Ia
hilang kata. Satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik.
Hening. Aku bagai menunggu vonis darinya.

“Aku
ingin mengatakan, bahwa kaulah cahaya hatiku.”

Wajahnya
mengeras. Lalu ia palingkan ke luar jendela. Menatap kosong. “Dulu aku
memalingkan diri dari apa yang namanya cinta. Hingga kau hadir di sisiku.
Menjadi pendampingku. Merubah segalanya. Mengubah aku yang selama ini dingin.
Aku mulai bisa merasakan cinta secara perlahan.”

Ia
berhenti sejenak. Lalu dihirupnya udara begitu dalam. “Selama hidup bersamamu,
aku mencoba untuk menjaga kesetianku. Menjaga dengan perasaan tulus untukmu.
Karena bagaimanapun juga kaulah isteriku.”

Gemuruh
hatiku mendengar ucapannya. Kulihat jelas wajahnya mengeras dan gigi
bergemerutuk. Lalu dengan terbata ia melanjutkan, “Tapi, kini semuanya telah
berbeda. Kau sudah berubah. Dan itu disebabkan orang yang dulu kau cintai datang
kembali. Aku tahu kau masih menyimpan rasa padanya. Dan aku tahu, aku sadar
diri bahwa sejak pertama bertemu dan menikah kau tak mencintaiku setulus hati,
tapi lebih karena desakan orang tuamu.”

 Matanya memerah. Ada rembesan air mata yang
membuatnya berkaca.

“Aku
mencintaimu, dik. Sungguh mencintaimu! Tapi aku sadar. Cinta tidak bisa
dipaksakan. Sekarang dengan berat hati aku memberikan dua pilihan untukmu. Kau
memilih tetap bersamaku dan melanjutkan bahtera kita atau memilih mengejar
cinta pertamamu? Apa pun itu aku ikhlas.”

Tergugu
aku mendengar pengakuan dan vonisnya. Lidahku yang sedari tadi kelu semakin
kaku. Hatiku pun bergemuruh hebat. Disusul hujan yang merembes dari kelopak
mata.

Sementara
ia mencoba tegar dan melanjutkan kalimatnya. “Aku ikhlas apapun itu. Termasuk
memilih cinta pertamamu itu. Tetapi, jika itu terjadi. Aku punya satu
permintaan… biarkan intan tetap bersamaku. Karena dialah permata hatiku,
pelipur jiwaku.”

Tak
kuasa aku menahan haru. Air mataku semakin deras mengalir. Sungguh aku bimbang.
Tak tahu harus berbuat apa. Hanya isak yang tak tertahan membuncah.

*

Semenjak
pertemuan di café itu, Roby tidak lagi pulang ke rumah. Begitu juga Intan, Roby
membawanya menginap di rumah neneknya Intan.

Seminggu
ia bilang tidak akan pulang. Agar aku leluasa untuk berpikir jernih dan bis amengambil
keputusan.

Huhf.
Situasi yang sangat rumit. Dan ini semua disebabkan olehku. Masalahku yang
menyeret perkawinanku dengan Roby. Aku sendiri bimbang dan bingung harus memutuskan
apa? Terlebih aku teringat janji manisnya Dion, lalu terbayang kebaikan dan
kesetiaan Roby serta Intan. Ah, entahlah.

Seminggu
berlalu. Belum juga aku bisa mengambil keputusan tegas. Aku terpenjara dalam
kelemahanku. Terpedaya perasaanku yang tak tentu arah.

Tiba-tiba
saja pak Udin datang ke rumah. Menjemputku katanya. Dari mulut pak Udin keluar
cerita kalau dia diminta Roby menjeputku karena Intan jatuh sakit. Lemas
persendianku mendengar Intan, anakku jatuh sakit.

 Setibanya di rumah sakit. Aku langsung
disambut mertuaku. Lalu mereka mempersilahkanku menemui Intan.

Aih,
alangkah terkejutnya aku. Intan terbaring lemas. Ia mengigau memanggil-manggil
namaku.

“Sudah
dua hari ia mengigau seperti itu. Kangen kamu sepertinya. Sampai kebawa demam”
Kata ibu mertuaku.

Aku
mendekati Intan. Memeluknya erat, lalu kukecup keningnya. Wajahnya begitu
pucat. Ia tak sadar aku didekatnya. Tapi, alangkah anehnya seakan ada koneksi
rasa. Aku bisa merasakan perasaannya.

Perasaan
sakit dan takut. Yah, wajahnya menggoreskan ketakutan. Ketakutan kalau aku akan
meninggalkannya.

“Intan,
permata hatiku. Kau membuat hatiku luruh, nak. Pancaran wajahmu menguatkan,
mama. Kini mama bisa yakin akan pilihan mama.” Tak terasa butiran-butiran
bening meleleh diujung mataku.

 “Masih ada yang bisa dipertahankan atas nama
keluarga. Atas keutuhan hubungan kita, nak. Atas kasihku untukmu.” Kupeluk
Intan sekali lagi. Sepenuh rasa kasih yang kumiliki.

Sudah
waktunya keputusan terucap tegas. Aku pun minta izin sebentar pada ibu
mertuaku. Izin untuk ke toilet. Aku ingin menelepon Dion.

*

 Segera saja aku menelepon Dion,

Di
ujung sana suara gagah menyapa “Halo, Dina sayang. Kangen yah?”

Aku
tak mau menanggapi rayuannya. Keputusanku sudah tegas “Ada yang ingin aku
bicarakan serius. Soal keputusanku terhadapmu.”

“Oh
ya, sudah sebulan ini aku menantikannya, Dina. Kau pasti memilihku” katanya
begitu antusias.

Aku
menguatkan jiwaku. Wajah Intan menari-nari di pelupuk mataku. Aku bisa tegas,
kataku dalam hati. “Dion, maafkan aku. Aku tak bisa lagi melanjutkan hubungan
kita.”

“Apa?”
suara Dion nyaring di seberang sana. Ada rasa kaget di sana. “Tapi, bukankah
kau sayang padaku. Kau cinta padaku seperti aku mencintaimu?”

Aku
tak sanggup menahan rasa. Isak tangisku menyeriak. “Benar. Benar aku masih
menyimpan rasa cinta padamu.”

“Lantas
Kenapa?” Tanyanya lagi.

“Tapi,
semuanya sudah berakhir. Sudah berbeda. Aku sudah berkeluarga. Dan keluargaku
layak aku pertahankan. Sudahlah sudahi ini semua. Carilah orang lain.”

“Kenapa?
Kenapa kau bicara begitu. Aku tak pernah berpaling darimu.”

“Aku
menunggumu. Tapi kau tak datang-datang. Sudahlah. Sekali lagi aku mohon sudahi
semua ini. Sekarang bagiku kau hanya menjadi sahabatku. Persahabatan jauh lebih
berarti dari pada perasaan yang tak pasti.”

Aku
menutup percakapan itu. Aku tak mau dengar lagi apapun sanggahannya. Sudah.
Berakhir sudah rasa cintaku padanya. Aku akan pulihkan lagi perasaan pada Roby
hingga cinta singgah di sana. Akan aku alihkan rasa cintaku pada Dion ke Intan,
seluruh rasa cintaku akan aku tumpahkan pada Intan…

 

Gintung, 9 September 2011.

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *