Begitu risau. Tubuhku bergetar panik. Harap, galau, cemas, dan beraneka
rasa bercampur aduk. Tak pernah aku mengalami hal ini sebelumnya. Seakan
menanti sebuah vonis. Sementara di balik pintu kamar operasi ini, isteriku
tengah berjuang.

Harap – harap cemas menelimutiku. Terlebih kejadian tadi yang membuatku
resah. Masihkah ada harapan itu…

*

Pagi belum sempurna. Matahari belum penuh sinarnya.

Darah!

Aku terbelalak saat mebuka pintu kamar mandi. Kemerahan itu jelas nampak
pada keputihan baju yang dikenakan isteriku.

“Kang… uuhhh… “ lirih isteriku merintih kesakitan. Ia masih terjerembab
tak berdaya.

Terkesiap aku. Respon segera aku angkat dan papah ia keluar kamar mandi.
Tapi, darah terus menetes. Membuat aku resah. Begitu panik aku dibuatnya.

“Mang Parmin…” teriakku panik memanggil sopirku.

Mang Parmin yang mendatangiku langsung istighfar mengetahui apa yang
terjadi dengan isteriku.

“Siapkan mobil, Mang! Kita ke rumah sakit sekarang,”

“Siap, Pak,” sahut Mang Parmin yang langsung bergegas menyiapkan mobil.

Sementara keadaan istriku semakin mengkhawatirkan.

“Kang… aduh, kang… sakit… aahhh… sakit…” isteriku merintih perih. Jelas
rasa sakit yang mendera itu dapat kutangkap dari raut wajahnya.

 “Iya neng. Sabar yah. Kita
sekarang mau ke rumah sakit.

Mobil sudah siap. Dibantu mang Parmin aku memasukkan tubuh isteriku ke
dalam mobil. Kusediakan tubuhku untuk bersandarnya. Begitu kasih aku
melihatnya. Isteriku yang seorang wanita tegar dan kuat kini merintih
kesakitan. Dan aku tak mampu berbuat banyak sekarang. Ah, terlebih ia sudah
memasuki masa untuk melahirkan.

Aku takut. Aku takut akan keselematannya. Aku juga takut akan keselamatan
bayi yang ada dalam semerbak wangi rahimnya. Aku sangat takut kalau – kalau
keduanya…

Ah, segela kutepis bayang kecemasan itu. Aku harus  cepat sampai rumah sakit. Harus segera. Masih
ada secercah harapan yang bakal menjadi penyinar kemilau hatiku.

Mang Parmin memacu mobil begitu kencang. Ia tahu kondisi isteriku sangat
darurat. Dan aku pun berharap cepat sampai di rumah sakit.

Aku tak kuat lagi mendengar rintihan isteriku. Semakin pilu merintih.
Mengadu – ngadu kesakitan. Genggaman tangannya pun makin erat. Aku hanya bisa
membalas genggamannya. Membelasinya mesra seraya mengautkan hati.

“Cepat. Cepatlah sampai. Aku ingin isteriku selamat. Aku ingin calon
anakku selamat. Aku ingin kedua – duanya selamat. Hanya itu. Hanya itu inginku
saat ini.”

Pintaku dalam hati. Bercampur lebur semua rasa dalam hati. Kacau balau
dibuatnya aku.

Tapi…

Tiiiit… tiiit…

Klakson mobil bersahutan memekakkan telinga. Macet sangat parah. Parah
sekali. Perempatan Cadas yang menjadi akses utama menuju kota Tangerang itu memang biasa macet. Tapi
tidak pernah sampai separah ini.

Ah paling juga macet gara-gara pa ogah yang hanya mendahulukan kendaraan
yang membayar jasanya.

“Mang, teken klaksonnya. Biar cepat lewat,”

“Tapi, Pak. Macetnya parah,”

Aku menatap wajah isteriku. Merintih perih penuh kesakitan. Suami mana
yang tega jika kekasih hatinya dalam kondisi seperti isteriku saat ini?

“Udah Mang klakson aja,”

Kalson mobil ditekan berkali – kali oleh mang Parmin. memekik ditengah
kemacetan parah.

“Hei! Berisik!” serapah terlontar dari sopir truk berwajah garang yang
berada tepat di depan mobil kami. “Enggak tahu lagi macet ya. Jangan klokson
melulu. Berisik!  Emang ini jalan nenek
moyang elu? Sabar dong!” lanjutnya mencaci maki.

“Bang, kamu mau lewat. Darurat,” Mang Parmin angkat suara.

Kernet mobil truk itu turun menjambangi mobil kami. Ia langsung teriak
sepontan ketika melongok ke mobil kami dan melihat keadaan isteriku.

Ada
orang mau lahiran. Keluar darah. Cepat kasih lewat,”

Klason mobil kembali bersahutan. Disusul teriakan orang – orang. “Ada orang mau lahiran.
Keluar darah. Cepet kasih lewat…. Ada
orang mau lahiran. Keluar darah. Cepat kasih lewat….” 

Aku sedikit lega. Semoga kami segera dikasih jalan.

Tapi, teriakan – teriakan itu langsung reda. Entah apa yang terjadi? Di
tengah kegalauanku, tiba – tiba saja kernet truk itu menghampiri lagi mobil
kami. Raut mukanya pias membiaskan rasa kecewa.

“Tetep enggak boleh lewat. Polisi yang jaga di depan tadi marah – marah
dan mukulin mobil di depan…”

“Kenapa tidak boleh lewat, Bang?” tanyaku memotong pembicaraannya.

“Kata polisi, sekarang ini lagi sterilisasi jalan. Karena sebentar lagi
rombongan pejabat  negera mau lewat…”

Bagai petir penjelasan kernet truk itu meluruhkan pendengaranku. Lemas
tak kuasa aku terenggut daya. Ini benar – benar mimpi buruk. Bagaimana dengan
keadaan darurat istriku jika keadaannya seperti ini?

Ah, aku hilang akal. Tapi, begitu marah. Marah teramat sangat. Ingin
sekali aku lampiaskan amarahku.

  Terpaksa aku turun. Melangkah
kesal ke arah muasal kemacetan. Dan alangkah herannya aku, arah dari kota
Tangerang malah kosong melompong. Kenapa kami tidak dikasih jalan lewat.

Seorang polisi berwajah kusam hasil terpaan matahari berdiri menutup
jalan.

“Pak, kenapa kami tidak boleh lewat. Istri saya lagi darurat. Sudah
pendarahan” sosorku gusar.

Wajah dihadapanku sedikit gamang namun tak menghilangkan ketegasannya,
“mohon maaf, pak. Tidak bisa”

“Saya mohon pak polisi, hanya satu mobil saja boleh lewat. Darurat. Soal
nyawa orang ini pak. Saya mohon,” pintaku mengetuk nuraninya.

Wajah dihadapanku bimbang.

“Pak polisi, coba bayangkan kalau bapak di posisi saya.”

Polisi itu tetap diam.

“pak, saya mohon hanya kami saja yang diizinkan lewat dulu. Darurat!”

Polisi berwajah kusam itu menggelengkan kepala, “maaf, pak. Tetap tidak
bisa. Ini prosedur jalan harus steril sebelum rombongan presiden lewat. Bapak
tidak bisa melewati jalan ini. Sekali lagi mohon maaf. Keselamatan presiden
adalah prioritas.”

Masygul aku melangkah menjauh dari polisi tersebut.

Di tengah kecamukan rasa khawatir. Ekor mata ini menangkap sebaris
kalimat di papan berwarna putih. Bidan.

Langkahku tiba-tiba saja secepat kilat ke arah bangunan berwarna hijau.
Kesetanan memanggil-manggil bidan.

Seorang wanita paruh baya kutarik agar mendekati mobilku. Melihat dan
memeriksa kondisi istriku yang telah mengalami pendarahan.

Sesampainya di mobil. Wanita paruh baya itu beristigfar berkali-kali.
Langan keibuannya menyentuh tubuh isteriku yang lemas dan parau.

Sakit seperti apa yang dirasakan istriku. Aku tak sanggup
membayangkannya. Wajahnya sungguh menyiksa batinku.

“cepat bawa wanita hamil ini ke rumah sakit. Kondisnya lemah. Kalau
terlambat wanita dan kandungannya bisa mati. Cepat. Cepat putar arah pokoknya
bagaimanapun caranya secepatnya wanita ini dibawa ke rumah sakit!” seru ibu
paruh baya.

Tak perlu dibentak dua kali. Aku langsung masuk dan meminta mang Parmin
putar arah.

Lupa bilang terima kasih

Mobil berputar dengan cepat. Ngebut. Hampir menyerempet pedang siomay di
tepi jalan.

Benar putar arah dan cari jalan lain. Tak peduli harus memutar. Tak
peduli lebih jauh. Pokoknya harus secepatnya sampai di rumah sakit.

Mang Parmin gesit membawa mobil ke jalan alternatif. Setidaknya ada
harapan.

Sungguh kesal. Kenyataan lain, setiba kea rah jalan utama. Lagi-lagi ada
polisi yang memalang jalan. Tidak boleh lewat.

Aku mengumpat. Menyuruhnya minggir.

Plutuk.

Pentongan polisi menyentuh depan mobil dengan keras. Kasar menyuruh mobil
berhenti.

Tak kalah marah aku bentak lagi ia. Mengatakan kondisi darurat dengan
keadaan istriku.

Sang polisi melongok ke mobil. Wajah marahnya padam berubah kegamangan.

“Pak, mohon maaf. Kalau kondisi biasa bapak saya beri jalan lawat. Tapi
kondisinya sekarang beda. Sebentar lagi rombongan bapak presiden lewat. Jalan
harus steril.” Ujarnya prihatin sekaligus serba salah.

Aku mendengus kesal. Kenapa rombongan itu lewatnya menyiksa sekali.

Lima menit berharga terbuang percuma. Istriku antara sadar dan tidak.
Kondisinya mengenaskan sekali. Amis darah menyeruak peciuman.

Aku menghela nafas panjang. Sial, rombongan ini itu lewat dengan angkuh.
Sirine motor besar. Tidak boleh ada yang mengganggu rombongan. Semua mobil
harus menepi, termasuk yang kondisi darurat sepertiku. Dan lebih sialnya,
rombongan ini banyak sekali. Lama.

Sepuluh menit berlalu. Akhirnya rombongan penuh keangkuhan itu berlalu.

Polisi yang tadi mengatur lalu lintas langsung mengambil peran.
Sepertinya dengan rasa bersalah ia langsung membukakan jalan untuk mobil kami.

Mang Parmin langsung tancap gas. Memburu sisa waktu yang ada menuju rumah
sakit.

*

Baru tiga puluh menit yang lalu kami tiba di rumah sakit. Membuat rusuh
dengan menabrak tong sampah. Lalu berteriak-teriak histeris minta tolong. Sungguh
kacau. Di hari paling kacau.

Sekacau perasaanku sekarang. Entahlah bagaimana kondisi isteriku di ruang
operasi.

Rasanya detik begitu pelan. Jangtungku detakkannya dapat ku dengar.
Seberdetak suara resah jiwaku.

Hingga akhirnya keluarlah sosok berjubah putih.

“Pak, manusia hanya berusaha. Tuhannlah yang menentukan. Kondisi istri
bapak sudah sangat kritis ketika di bawa ke rumah sakit. Terlambat. Mohon maaf,
kami tidak bisa menyelamatkan nyawanya. Juga nyawa kandungannya,”

Demi mendengar kalimat itu aku meraung-raung histeris. Memanggil-manggil
nama istriku. Usahaku sungguh terlambat.

Dan langitpun tiba-tiba menggelap di pandanganku.

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *