Menjengkelkan  bila 
di  saat  weekend yang semestinya  bisa 
nyantai  malah  harus 
tetap  bekerja.

Seperti
sabtu pagi ini yang terasa lain bagiku. Aku tidak bisa  menghabiskan 
waktu  bersama  keluarga 
seperti biasanya.  Ada  tugas 
untuk  mendampingi  kunjungan bapak Bupati yang akan meninjau
sebuah sekolah.

Mobil
terasa terbang membelah jalanan. Aku harus datang  lebih 
cepat  dari  rombongan 
Bupati. Kupacu semakin kencang mobil yang kutumpangi sampai ujung jalan
raya. Setelah melewati erempatan, jalan yang ditempuh lumayan  ancur. Tapi mobil terus berpacu. Meliuk –
liuk di tengah persawahan yang hijau dengan sungai di samping jalannya.
Berjalan ke daerah yang dulu pernah kujejaki. Tempat di mana aku pernah hidup
dan tumbuh besar. 


Kunjungan
bapak Bupati kali ini adalah ke sebuah kampung yang masih menjadi bagian dari
desa tempat kedua  orang  tuaku 
tinggal.  Letak  kampungnya 
di belakang desa kami. Tapi, sudah sangat lama aku tidak menginjakkan
kaki ke sana.

Rombongan
Bupati datang jam sebelas. Kunjungan Bapak 
Bupati  kali  ini 
adalah  meninjau  proses pembangunan sekolah dasar di kampung
itu. Kunjungan beliau terbilang singkat. Setelah melakukan peninjauan dan  melakukan 
audiensi  dengan  masyarakat 
sekitar, beliau beranjak pergi untuk kunjungan kerja ke daerah lainnya.

Aku
meninggalkan kampung itu sekitar jam satu siang. Mobil bergoyang menempuh jalan
pulang. Jalan yang tersusun dari tanah merah dan batu – batu cadas.
Melewati  Tempat  Pembuangan 
Akhir  sampah  yang menyerbakkan bau busuknya ke mana –
mana.

Aku
memang paling malas untuk pergi ke daerah itu. 
Dari  aku  yang 
masih  kecil  sampai 
sekarang. Walaupun  kampung  itu 
masih  satu  desa 
denganku. Karena semerbak wangi TPA itu yang menyesakkan dadaku. Apalagi
dulu kalau mau sampai ke sana harus melewati dua jembatan bambu di dua sungai
yang cukup besar dan dalam.

Mobilku  berjalan 
perlahan  melewati  TPA. 
Tak sengaja ekor mataku menangkap sosok lelaki yang baru keluar dari TPA
itu. Lelaki itu memakai topi rimba dengan pakaian yang lusuh. Memanggul
keranjang yang penuh dengan sampah dan tangannya menggenggam sebuah tongkat
untuk mengambil sampah. Aku seperti mengenal lelaki itu dari perawakannya.
Tapi, siapa dia?

Aku
menghentikan laju mobilku. Kemudian keluar mendekati lelaki tadi. Kali ini
dengan jelas aku dapat

melihat
wajahnya. Ternyata…

“Pak
Imral!!” Ucapku spontan mengetahui siapa lelaki tadi. Aku tak pecaya dengan apa
yang kulihat. Pak Imral adalah guruku sewaktu sekolah dasar dulu. Dialah
orang  yang  telah 
mengajariku  menghitung  dan membaca. Dan sekarang aku melihat dia
sebagai seorang pemulung. Inalillahi.

“Kamu
siapa?” Tanyanya.

“Saya,
Yadi. Ahmad Jayadi, murid bapak waktu di SD.” Kataku mencoba untuk
mengingatkannya.

“Yadi.
Ahmad Jayadi, anaknya haji Sobari!” Terka pak Imral.

“Betul,
pak. Itu saya.”

“Masya
Allah, sudah sukses kamu sekarang.”

“Enggak
juga. Hanya pegawai pemda. Bapak kok ada di sini. Bukannya bapak seorang guru,
harusnya kan

ngajar?”

“Kalau
pagi saya memang seorang guru. Tapi, kalau siang, ya… beginilah kerjaan saya,
nyambi jadi  pemulung.”

“Oo..Gitu!
bapak mau pulang? Biar saya antar saja.” Tawarku.

“Apakah  enggak merepotkan kamu? Lagi pula badan bapak
kotor. Belum lagi keranjang ini penuh 
dengan sampah.”

“Enggak
apa – apa kok, pak.”

Mobil  melaju 
perlahan  meninggalkan  gerbang TPA. 
Mengitari  jalan  di 
samping  TPA  itu. 
Untuk  kemudian sampai depan
sebuah rumah yang letaknya tepat di belakang. Sebuah rumah bilik yang terbuat
dari bambu dan kayu sebagai tiangnya.

“Selamat
datang di rumah saya. Seperti inilah keadaanya. Maklumlah, rumahnya orang
miskin.” Ujar  pak Imral ketika turun
dari mobil.

Aku
hanya diam, tercenung mengetahui rumah pak 
Imral. Memang baru kali ini aku mampir ke rumahnya. Di halaman rumah itu
terdapat banyak para – para bambu 
untuk  menjemur  plastik. 
Juga  ada  untuk menjemur beras,  lebih 
tepatnya  adalah  beras 
aking.

Aroma
bau busuk TPA juga santer tercium. Belum lagi 
kumpulan  pasukan  lalat 
hijau  yang  menyerbu 
dan menggerubuti  beras  aking 
yang  dijemur,  sungguh pemandangan yang tak sedap dipandang.

Kata
pak Imral, plastik – plastik itu dibersihkan dulu baru dijemur, setelah kering
nantinya di jual ke pengumpul.  Tiap  satu 
kilonya  dihargai  dua 
ribu. Sedangkan botol plastik dan gelas plastik dibersihkan untuk
kemudian dijual kepada pengumpul. Botol dan gelas plastik itu nantinya akan
digunakan untuk tempat minuman. 

“Ayo
masuk!” Seru pak Imral.

Aku
pun memasuki rumah yang boleh dibilang sangat sederhana itu. Dan duduk di kursi
bambu ruang tamu  rumah pak Imral yang
beralaskan tanah. Aku membayangkan bila aku yang harus tinggal di sini. Rasanya
aku tak sanggup untuk bertahan lama. Apalagi 
harus tinggal menetap.     

“Kamu
pasti habis menemani kunjungan bupati, ya?” Tanyanya yang hanya aku jawab
dengan anggukkan kepala.

“Kamu
pasti heran dengan apa yang kamu lihat. Kamu bingungkan ada seorang guru yang
nyambi jadi pemulung?”

Aku
mendesah berat. “Iya.”

“Ya,  beginilah 
orang  miskin  yang 
memiliki tanggungan.  Gaji  sebagai 
guru  tak  cukup 
untuk memenuhi biaya hidup yang semakin mencekik. Jadi, harus ada
penghasilan tambahan. Ya, dari profesi sebagai pemulung  itulah 
saya  dapat  duit 
buat  tambahan penghasilan.”

Aku
agak kaget juga mendengar penuturan pak Imral. 
“Bukannya  pegawai  negeri 
itu  sudah  ada tunjangannya, pak?” Tanyaku.

“Pegawai  negeri?” 
Pak  Imral  mengernyitkan dahinya. “Siapa yang pegawai
negeri? Saya? Saya bukan pegawai negeri, saya hanya guru honerer!” Ungkap pak
Imral.

Hah,
pegawai honorer? Aku tercenung tak percaya.

“Jadi
selama ini bapak guru honorer?” Tanyaku setengah tak percaya.

“Ya,
kamu tak salah dengar! Saya memang guru honorer dari tahun 1987 sampai
sekarang. Makanya saya punya profesi lain selain menjadi guru. Kamu tahu kan
berapa sih gaji honorer guru SD? Sudah habis hanya untuk beli beras saja!”

“Bukannya  ada 
penerimaan  CPNS?”  Aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Memang
ada. Tiap kali ada pengumuman itu saya selalu mendaftar. Bahkan direkomendsikan
oleh kepala sekolah. Ikut tes dan lainnya. Tetapi tetap saja, tidak keterima
juga. Padahal saya sudah yakin bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Katanya
kalau mau jadi PNS harus ada pelicinnya, ya?”

“Kalau
yang itu saya tidak tahu!” Jawabku datar.

Memang
aku tak tahu akan hal itu. Meski desas desusnya sampai ke telinga. Aku juga
heran kenapa pak Imral yang sudah lama mengabdi menjadi pendidik  masih 
belum  diangkat  menjadi 
PNS. Sedangkan aku yang baru selesai kuliah saat penerimaan CPNS
langsung diterima jadi PNS. Di usianya yang telah melampaui angka 30 mustahil
bisa diangkat PNS.

“Yang
memberatkan buat saya adalah jiwa saya sebagai seorang guru. Saya tidak bisa
diam berpangku tangan menyaksikan anak – anak tetangga saya tidak bisa mengecap
pendidikan. Itulah yang paling berat buat saya sebagai seroang pendidik.” Kata
pak Imral yang membuyarkan lamunanku.

 “Saya juga menyisihkan penghasilan saya untuk
membelikan alat tulis buat mereka. Setiap sore saya mengajari mereka menulis
berhitung dan membaca di rumah ini. Ya, anak – anak sini tidak sekolah karena
orang tuanya tak sanggup  membiayai
mereka. Saya hanya tak ingin mereka menjadi bodoh karena tidak bisa baca dan nulis.
Untuk itulah saya mengajari mereka. Setelah 
mereka  selesai  memunguti 
sampah  di  TPA, menggembala kambing dan kerbau, atau
setelah mereka pulang dari sawah.“ lanjut pak Imral.

***

Pagi
ini aku sudah memilah buku – buku tak terpakai yang masih layak untuk
digunakan. Rencananya  siang ini buku –
buku itu akan aku berikan pada pak Imral untuk anak – anak di kampungnya. Aku
memang memiliki banyak kumpulan buku. Karena hobi membacaku yang menjadikan aku
sangat suka pada buku. Aku mengoleksi buku saat masih SMP sampai sekarang. Dan
isteriku juga punya hobi yang sama. 
Kumpulan  buku  kami 
sudah  bisa  membuat perpustakaan kecil di rumah. Dari
hobi membaca itulah aku dan isteriku membuka toko buku, yang lajunya diawasi
oleh isteriku sendiri.

“Akang  teh lagi ngapain?” Suara lembut dengan logat
Sunda milik isteriku menyapa telinga di pagi ini. 

“Lagi
ngebungkus buku – buku bekas.” Jawabku singkat.

“Buat
siapa?”

“Buat
pak Imral.”

“Pak
Imral? Saha eta pak Imral?” Tanyanya lagi.

Aku
pun menjelaskan siapa itu pak Imral dan peristiwa kemarin di rumah pak Imral
kepada isteriku.

“Kasihannya
pak Imral teh. Puluhan tahun ngabdi jadi guru, tapi statusnya tetap honorer.”

Aku
hanya bisa mendesah panjang menanggapi perkataan  isteriku 
itu.  “Memang  seperti 
itulah

kenyataannya,
dik.”   

“Coba
kalau pemimpin negeri ini kayak pemimpin Jepang. Pasti peradaban bangsa ini
lebih maju.” Katanya yang  membuatku  sedikit 
heran.  Emangnya  kenapa dengan pemimpin kita?

“Saat
Jepang dibuat lumpuh oleh bom Atom di Hirosima dan Nagasiki, ada satu hal yang
membuat Kaisar Hirohito tetap wae bersemangat. Adalah karena masih aya guru –
guru yang tetap hidup. Guru – guru itulah yang mendidik orang – orang Jepang
untuk bangkit dari keterpurukannya. Dan seperti apa yang kita lihat sekarang,
harapan Kaisar Hirohito telah menjadi kenyataan.  Jepang 
menjadi  Negara  yang  maju.”
Lanjutnya.

“Dan
ternyata, penghargaan yang tidak memadai terhadap guru, seperti yang terjadi di
negeri kita ini, berbanding lurus dengan kualitas sumber daya manusia yang  ada. 
Begitu  maksud,  Adik?” 
Tukasku  atas pernyataan Istriku
itu.

“Iya.
Seperti itulah maksud Adik.” Tandasnya.

Aku  menghela nafas  panjang. 
Memang seperti itulah kenyataan yang ada di negeri yang kaya dengan
sumber daya alamnya ini. Namun kekayaan alamnya tak terolah dengan maksimal
karena kualitas sumber daya manusianya yang minim.

“Terus
Akang mau ngasih buku – buku bekas itu?”

Aku  menggakukkan 
kepalaku.  Membenarkan
pertanyaannya.

 “Kenapa enggak buku yang baru aja. Itu buku
bacaan buat anak SD kan masih banyak di toko. Enggak apa – apa kok ngasih buku
baru juga.”

Aku
menghentikan aktivitasku membungkus buku – buku bekas itu. Aku menoleh ke arah
isteriku. “Yang

bener,
Dik?”

“Iya.
Kan buku baru buat SD itu masih banyak. Enggak apalah rugi saeutik mah. Itung –
itung amal.”

Sahutnya
mantap.

Dibantu
oleh isteriku aku membungkus buku – buku itu. Setelah selesai kami membawanya
ke dalam mobil. Isteriku melepas kepergianku pagi ini dengan senyum. Mobil
kustarter untuk melaju. Mobil melaju dengan tenang. Sesekali kulihat buku –
buku di belakang  tempat dudukku.

Sekilas
terbayang wajah pak Imral tersenyum haru melihat kedatanganku. Semuanya terasa
indah. Di saat seperti itulah aku bisa membahagiankan orang yang telah membuka
cakrawala ilmu padaku.

Dari
jalan perempatan jalan menuju TPA, aku melihat asap tebal hitam membumbung ke
angkasa. Mungkin  itu  akibat 
dari  pembakaran  sampah 
yang dilakukan di TPA.

Semakin
dekat perjalanan, semakin hitam dan tebal pula asap yang terlihat. Dari jauh
kulihat kobaran api di TPA. Dan aku sempat tak percaya saat tiba di depan TPA.

 Aku melihat api berkobar tinggi di TPA dan
sekitarnya. Orang – orang berteriak histeris dan berlarian menyelamatkan diri.
Api menjilati semua bangunan yang ada di sekitar TPA itu. Menghanguskan seisi TPA
dan beberapa rumah di sekitarnya. Memberangus mimpi dan cita. Tak ada yang
dapat diselamatkan dari kebakaran itu. Termasuk rumah pak Imral…

Negeri
yang Merintih. 120212.

Untuk
guru – guruku yang telah membukakan gerbang pengetahuan.

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *