Deburan ombak pantai utara Jawa bergemuruh. Burung
camar terbang melayang di langit biru. Kapal roro perlahan meninggalkan
pelabuhan Merak. Memecah gelombang meniti selat sunda menuju pelabuhan
bakauheuni lampung.

Di atas geladak kapal, zaskia termenung memandang
laut. Pelabuhan merak perlahan menghilang. Dari pandangn mata. Hanya gunung
karang yang tampak berdiri tegak, melambaikan selamat jalan.

Tujuh tahun sudah, zaskia meninggalkan kampong
halamannya. Keluarga, teman, dan para sahabat yang telah ia tinggalkan seperti
memanggilnya untuk pulang. Hutan, sungai, pantai berpasir yang berpasir putih
tempat bermainnya di waktu kecil menarik dirinya untuk kembali kembali
kalianda.

Rindu yang memuncak di dada tak tertahankan. Dia
ingin cepat sampai untuk menghirup udara bersih dan merangkai kembali cerita
lama.

Tanpa terasa waktu berlalu. Kapal roro merapat ke
dermaga pelabuhan bakauheuni. Setelah tujuh tahun menapak hidup di pulau Jawa,
zaskia mendaratkan kembali kakinya di tanah kelahirannya.

Langit gelap selepas isya. Zaskia tiba di depan pintu
rumah yang dulu pernah ia huni.

“Assalamu’alaikum,” salam Zaskia tertahan.

“Wa’alaikum salam, tunggu sebentar,” jawab seorang
perempuan di dalam rumah.

“Zaskian…” suara wanita itu tertahan, bergetar seakan
tidak percaya.

“Ibu,” sambut Zaskian sambil melepaskan tas yang
digenggamnya. Lalu memeluk tubuh perempuan itu, yang tak lain adalah ibunya.
Meluruhkan rindu menahun.

“Kamu pulang juga, nak,” kata sang ibu membiru haru

“ya bu, Zaskia pulang,”

“Siapa bu?” Tanya seorang lelaki dari dalam rumah.

“ini, pak. Zaskia. Anak kita sudah pulang,” jawab ibu
dengan penuh semangat menjawab pertanyaan lelaki tadi yang tak lain adalah ayah
Zaskia.

“oh! Zaskia. Pulang juga anak itu,” ujar bapak zaskia
dingin sambil berlalu masuk kamar.

Zaskia hanya terdiam melihat sikap ayahnya itu.

“Sudah jangan pikirkan sikap bapakmu. Memang dia
seperti itu. Kamu pasti capek. Sekarang masuk, istirahat!”

Zaskia memasuki rumah itu didampingi ibunya. Diantar
menuju kamarnya, yang tujuh tahun sudah tidak ditempatinya. Zaskia tertegun
ketika membuka kamarnya. Kamar yang sudah lama tak berpenghuni itu masih
tertata rapi, bersih dan tidak ada debu yang hinggap.

Zaskia melihat ibunya. Sang ibu menjawab dengan
senyum penuh makna.

“ibu, tahu suatu saat kamau pasti akan pulang ke
rumah ini.”

Di atas tempat tidur itu, Zaskia menitikan air mata.
Suara takbir yang membahana di langit kalianda seperti tak mampu menahan rasa
sakit atas sikap bapaknya tadi. Luka lama yang dulu pernah tergores kini tersibak
kembali. Luka yang membuat dirinya harus pergi meninggalkan kampong halaman
dengan rasa perih sakit hati. Isak tangisnya pecah. Air matanya mengalir. Ia
teringat peristiwa lama itu. Peristiwa yang bermula saat ia hendak lulus SMA.

Bapaknya yang seorang guru menginginkan zaskia
mengikuti jejaknya serta jejak ibu  dan
kakak-kakaknya menjadi guru. Tapi zaskia tidak ingin. Dia lebih tertarik pada
bidang perhubungan. Hingga suatu malam, perbedaan pendapat itu meruncing.

“Zaskia, sebentar lagi kamu lulus SMA. Kamu sudah
memikirkan ke mana nanti akan menlanjutkan?” Tanya bapak membuka dialog.

“Sudah, pak”

“Zaskia, bapak ingin kamu seperti bapak, ibu, dan
kakak-kakakmu. Menjadi seorang guru!”

“Zaskia tidak berminat menjadi seorang guru,” ujar
Zaskia yang membuat bapaknya kaget

“Terus kamu ingin jadi apa? Apalagi kamu anak
perempuan. Ayah ingin kamu sebagai anak terakhir membahagiakan bapak dengan
jadi seorang guru,”

“Tapi, Zaskia nggak mau. Zaskia lebih suka bidang
perhubungan,”

“Perhubungan apa? Kamu ingin jadi apa? Kenapa
tertarik pada perhubungan itu?” cecar bapak.

“Perhubungan apa saja. Zaskia lebih milih perhubungan
karena lebih menantang.”

Bapak tersentak atas jawaban Zaskia, dengan suara
mengeras marah bapak berkata “Hanya itu, kerena lebih menantang. Terus hidup
kamu nanti seperti apa? Masa depan kamu bagaimana?”

Zaskia hanya terdiam. Pertanyaan itu membuatnya
tergagap. Ia ingin melawan tapi mulutnya tertahan.

“pokoknya kamu harus jadi guru. Titik! Bapak gak mau
dengar alasan kamu lagi,”

Jiwa muda Zaskia panas. Ia memilih perhubungan kerena
luas dan besarnya negeri ini. Masih teramat banyak wilayah yang tertinggal dan
sulit dijangkau. Ia hanya ingin agar bermanfaat menghubungkan banyak daerah,
menghubungkan orang-orang, dan tentu saja membuka akses pada kehidupan yang
lebih baik.

Lagi pula, menurut Zaskia, tugas seorang guru sangat
berat baginya. Dia ingin bapaknya tahu apa yang ia pikirkan. Tapi dia juga tahu
sikap bapaknya yang tegas akan sebuah keputusan. Hingga akhirnya amarah mudanya
pecah jua, tak tertahankan lagi.

“zaskia juga gak mau jadi guru. Pokoknya kalau kuliah
zaskia milih perhubungan.” Tegas zaskia sambil berlalu dengan derai air mata
yang tumpah dari kelompak matanya. Berlalu meninggalkan bapak, ibu, dan
kakak-kakaknya di ruang keluarga.

Di dalam kamarnya tumpah ruah semua perasaan.

Ibunya yang melihat zaskia menjadi tidak tega.

“Zas, sudah jangan nangis,” pinta ibu.

“Ibu, zaskia nggak ingin jadi guru. Zaskia lebih suka
perhubungan,” kata zaskia tersendat-sendat.

“Yah, ibu tahu kamu nggak mau jadi guru.”

“Ibu ngedekung kalau zaskia ngelanjutin ke
perhubungan?” Tanya zaskia.

“Ibu ngedukung kalau itu lebih baik buatmu dan buat
kamu bahagia.” Ujar ibu dengan penuh kasih sayang.

Isak tangis zaskia mulai mereda. Kepalayang yang
ditutupi kain kerudung dibelai mesra ibunya. Lukanya sedikit terobati

Satu bulan kemudian zaskia pamit untuk melanjutkan
pendidikannya di pulau, Jawa. Dengan berat hati ibu dan kakak-kakaknya melepas
zaskia. Zaskia pergi tanpa perpisahan dengan bapaknya.

*

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *