Urusan ini kok tiba-tiba menjadi kapiran begini. Berita dari kotak ajaib itu cepat nian menyebar ke seluruh negeri. Hanya peristiwa penangkapan. Tapi menggemparkan tatar Wanten Girang. Kerajaan di ujung Jawadwipa ini heboh. Salah satu keluarga trah penguasanya diciduk Penegak Anti Ruswah.

Ah, ini membuat runyam pikiran.
Kyai Anom menggeleng-gelengkan kepala. Pening.

Bagaimana pun juga kyai Anom
memiliki hubungan yang dekat dengan trah penguasa Wanten Girang. Ini yang
membuatnya resah. Ia adalah penasehat sekaligus guru spiritual dari Nyi Kanjeng
sang Ratu Wanten Girang.

Sehari berselang. Banyak sekali
kabar-kabar mengenai trah penguasa Wanten Girang. Buruknya, semua adalah kabar
kejelakan keluarga itu. Dan paling hebaoh tak lain adalah hilangnya sang Ratu
dari astana kepemimpinannya. Benar-benar buruk.

Kyai Anom mendesah berat. Ia tetap
harus menemui keluarga itu.

***

Nyi Kanjeng mencium  lengan kyai Anom penuh takjim.

Kyai Anom melihat wajah gelisah
dan bingung di wajah Nyi Kanjeng. Urusan ini membuat sang Ratu benar-benar
goyah, terlebih ia baru saja menjanda. Benar-benar situasi yang buruk
baginya.Jelas sekali ia menghindari tampil di khalayak umum. Tak peduli berapa
banyak kuli carik berita mengejarnya.

“Yang sabar, Ratu. Ini semua
ujian” ujar kyai Anom.

Yang diberikan nasehat menangis
terisak. Menjelaskan bahwa keadaan sekarang adalah rencana jahat untuk
menghancurkan dirinya dan keluarganya. Banyak pihak yang iri pada keluarganya
karena kepemimpinan di tatar Wanten Girang. Keberhasilan usaha keluarganya yang
merajai pembangunan di Wanten Girang.

Sang ratu butuh dukungan kyai
Anom. Setidaknya kebesaran dan pengaruh Kyai Anom dapat mengurangi gejolak
rakyat Wanten Girang.

Sehari kemudian. Setelah
seminggun sang Ratu menghilang dari khalayak. Untuk pertama kalinya setalah
sang rayi diciduk gara-gara sengketa sayembara pemimpin kadipaten Girang, sang
Ratu penguasa Wanten Girang tampil. Ia hadir acara istigosah yang digagas kyai
Anom. Rasa percaya dirinya hadir kembali.

Turunnya
kyai Anom memimpin istigosah itu mendapat pemberitaan luas. Untuk sementara
sang Ratu dapat bernafas lega. Begitu juga kyai Anom.

Kyai
Anom memang memiliki hubungan khusus dengan trah penguasa Wanten Girang. Ketika
Nyi Kanjeng bertarung dalam sayembara mencari pemimpin tatar Wanten Girang,
Kyai Anom mendukung penuh Nyi Kanjeng, bahkan Kyai Anom mengumpulkan para
santri untuk mendoakan dan mendukung Nyi Kanjeng. Tak sampai di situ, Kyai Anom
juga mengumpulkan seluruh kyai sepuh pemimpin pesantren se Wanten Girang,
lagi-lagi untuk mendoakan dan mendukung Nyi Kanjeng. Hasilnya luar biasa, Nyi
Kanjeng dengan seluruh bala pendukungnya menang telak atas lawan-lawan
politiknya.

Nyi
Kanjeng yang kemudian menjadi sang Ratu di tatar Wanten Girang pun tak menutup
mata atas jasa-jasa Kyai Anom. Pondokan di pesantren kyai Anom pun diperluas
oleh Nyi Kanjeng. Kyai Anom pun diangkat jadi pimpinan para kyai sepuh di
Wanten Girang, diberi gedong juga alat transportasinya.

***

Ternyata urusan belum selesai
hanya dengan istigosah. Masalah pencidukan adik Nyi Kanjeng baru tahap awal.
Baru memasuki magrib, belum sampai ke pekatnya tengah malam.

Kasus-kasus berikutnya muncul.
Bukan lagi soal penyumpatan ketua Mahkamah Hakim dengan upeti yang membuat sang
rayi diciduk. Juga muncul kasus-kasus memperkaya diri sendiri dengan jabatan
dan kekuasaan.

Kasus sunatan kas Negara di
kadipaten Citangger yang dipimpin ipar sang Ratu lah yang membuat Nyi Kanjeng
tersungkur di jeratan hukum. Tanpa ampun, Penegak Anti Ruswah, menyeretnya ke
penyidikan.

Ramai lagilah bumi tatar Wanten
Girang. Berita-berita heboh sang Ratu Wanten Girang hilir mudik di kotak ajaib,
di lembaran kata. Lebih ramai lagi memberikatan kebobrokan trah keluarga
penguasa Wanten Girang.

Di beberapa kadipaten muncul
aksi pandit-pandit menentang kekuasaan Nyi Kanjeng sebagai Ratu Wanten Girang.
Begitu juga di Bale Rakyat semakin keras mengkritik kepemimpinan Ratu Wanten
Girang.

Kyai Anom mengelus dada. Semakin
berat dan runyam urusan ini.

***

Nyi Kanjeng bersimpuh penuh air
mata di hadapan Kyai Anom.

“Abah Yayi, doakan saya lepas
dari semua maasalah ini” pinta Nyi Kanjeng mengiba.

Kyai Anom yang turut bersedih
atas musibah yang menimpa trah Nyi Kanjeng mengabulkan permohonan Nyi Kanjeng
itu.

Malam itu juga ia berpesan
kepada istrinya jika mengisi pengajian ibu-ibu di pondokan agar jangan lupa
mendoakan Nyi Kanjeng.

Esoknya sungguh tak diduga.
Istri Kyai Anom mengadu, bahwa ibu-ibu diam saja ketika diminta mendoakan
keselamatan Nyi Kanjeng sang Ratu Wanten Girang.

Kyai Anom mendelik kaget. Berani
sekali ibu-ibu tidak meneruti perkataan istrinya.

Ia ingat kalau hari ini mengisi
tablig di alun-alun kadipaten. Ini kesempatan untuk mendoakan Nyi Kanjeng di
hadapan banyak orang.

Kyai Anom pun tampil penuh
karisma di acara tablig itu. Alun-alun yang dipenuhi lautan manusia terpesona
olah ceramah kyai Anom.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, mari
kita doakan Hajah Nyi Kanjeng, pemimpin kita agar selamat dan segera lepas dari
musibah yang menimpa keluarganya.”

Hadirin terdiam. Tak ada satupun
yang ikut mengamini doa Kyai Anom.

Kyai Anom berdehem. Mengulangi
doa untuk keselamatan Nyi Kanjeng sang Ratu Wanten Girang. Lagi-lagi hadirin
diam seribu bahasa. Tidak ada satu pun yang mengamini.

Wajah Kyai Anom memerah. Ia
mencoba untuk yang ketiga kalinya memimpin jamaah yang hadir untuk sama-sama
mendoakan Nyi Kanjeng. Dan lagi-lagi hadirin membeku. Tak ada satu kata Amin
pun yang keluar dari lautan manusia itu.

Kyai Anom masygul.

***

Penyidikan atas Ratu Wanten
Girang terus meningkat.

Pada satu jumat kramat di Gedong
Penegak Anti Ruswah. Ketika matarahi mulai membesar di ufuk barat. Sebuah
pengumuman resmi terluncurkan bahwa Nyi Kanjeng sang Ratu Wanten Girang di
tahan. Bagai kecepatan cahaya, kabar ini menjalar ke seluruh negeri, termasuk tatar
Wanten Girang.

Tak berselang lama, sebelum
pekatnya malam menyergap, di rumah Kyai Anom, Nyi Hajah istri dari Kyai Anom
mengadu.

“Banyak ibu-ibu yang tidak
datang ke pengajian”

Kyai Anom yang gelisah atas
musibah yang menimpa Nyi Kanjeng hanya menjawab ringan aduan istrinya itu,
“mungkin kelelahan habis panen di sawah”

Sampai esok harinya ia sedikit
gamang. Banyak wali santri yang mengambil kembali anaknya untuk pulang. Lebih
dari separuh. Pesantren terbesar di Wanten Girang besok bisa jadi lumbung kosong.

Begitu juga dengan undangan
tablig, semuanya dibatalkan. Kharismanya seperti memudar. Entah karena apa,

“Ya, Allah ada apa dengan semua
ini.” Desahnya dalam hati.

Sampai ia disadarkan oleh
kehadiran Asep, lurah pondok, yang tergesa-gesa menemuainya. Mengabarkan banyak
desas-desus akan sikapnya yang tidak pro rakyat karena mendukung Nyi Kanjeng.

Kyai Anom pias.

Hanya butuh satu minggu untuk
membuat pesantren yang susah payah di rintis kakeknya menjadi sepi dan hilang
pengaruh.

***

Di bawah tiang soko guru gedong
Penegak Anti Ruswah. Diantara lingkaran penuh juru carik berita. Pusat semua
pandangan  mata. Untuk pertama kalinya
ada istigosah yang mendoakan pimpinan Penegak Anti Ruswah agar terlindung dari
guna-guna serta segala macam ilmu hitam keluarga trah penguasa Wanten Girang.
Rombongan pendukung Penegak Anti Ruswah untuk memberantas kejahatan di Wanten
Girang.

Berkilau-kilau cahaya kotak
ajaib menangkap sosok pemimpin istigosah yang datang langsung dari tatar Wanten
Girang. Kyai penuh kharismatik dan berwibawa. Sang kyai pemimpin pesantren
terbesar di Wanten Girang: Kyai Anom.

 

Mandala Wangi, 20-12-2013

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *