Dentang bel sekolah berbunyi
melengking. Andi, siswa kelas enam SD, segera berlari menuju gerbang. Berharap
penjaga mau baik hati memberikan jalan.

Tergoboh badan besarnya melaju.
Peluh mengucur di tubuhnya. Harapannya menjadi nyata, penjaga sekolah berbaik
hati membukakan pagar. Ia pun melesat menuju kelas.

Berhasil masuk kelas hanya
berselang beberapa detik dengan bu Luna. tidak ada yang boleh terlembat di
kelasnya bu Luna. terlembat sedetik saja, hukumannya di keluarkan dari kelas.

Di kursinya, Andi duduk dengan
gelisah. Mengibas-ngibaskan bukunya kearah badan. Mengusir gerah dengan nafas
tersenggal. Sialnya noda berwarna merah di bajunya tak mau pergi.

Pelajaran kali ini adalah
pelajaran bercerita di depan kelas. Dan bu Luna langsung memulai pelajaran.
Setiap siswa diminta bercerita tentang pengalaman hari kemarin atau hari ini di
depan kelas.

Satu persatu siswa kelas enam SD
itu maju ke muka kelas, bercerita kisahnya masing-masing. Lalu tibalah giliran
Andi untuk maju ke muka kelas.

Andi memulai ceritanya.

***

Hari ini aku hampir terlambat
sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi
sekali.

Diantar ibu ke jalan raya.
Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke
rumah. Angkot ini adalah angkot biru langgananku. Disopiri oleh mang Acim,
tetangga rumah.

Jalanan ramai. Banyak macetnya.
Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara
mobil-mobil.

Sampailah angkot yang kami
tumpangi di depan sebuah sekolah TK tak jauh dari rumah. Ada seorang ibu yang
mengantar anak TK berkepang dua di rambutnya meminta turun dari Angkot.

Si ibu itu pun turun duluan, ia hendak
memapah anak TK itu untuk ikut turun. Tapi sebelum tangannya meraih anak TK.
Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm
kuning melaju cepat di samping kiri angkot. Tanpa ampun menerjang tubuh ibu itu
sampai terbang jauh.

Darah muncrat ke sana-kemari.
Termasuk ke bajuku. Aku menunjuk noda merah di dekat kantong bajuku.

Aku teriak histeris. Penumpang
angkot juga teriak histeris. Si anak TK menangis meraung-raung.

Tubuh ibu itu tersungkur ke
tanah. Sementara si penumpang motor melaju dengan cepat meninggalkan tubuh
wanita itu. Berlari secepat mungkin dengan motornya. Lari tak bertanggung
jawab.

Warga di sekitar sekolah TK
berlarian kearah ibu yang tertabrak itu. Seruan-seruan ramai.

Aku melihat tubuh ibu itu.
Kepalanya pecah terbentur aspal. Matanya melotot. Baju putihnya kotor sekali.
Merah di sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si anak TK
meraung-raung memanggil ibunya yang sudah menjadi mayat.

Jalanan pun macet. Polisi datang
memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan. Lama
sekali.

Aku mendesah apakah hari ini
akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

Andi selesai bercerita di depan
kelas.

Satu kelas terdiam. Bu Luna
terbengong. Murid-murid lelaki mulutnya terbuka, menggantung seperti huruf O. Beberapa
anak perempuan berhimpitan duduknya dengan wajah ngeri.

Tak ada tepuk tangan seperti
anak-anak lain yang selesai bercerita. Yang ada hanya bunyi bel berdentang
tanda istirahat.

Bu Luna bergegas mengambil alih
kelas. Mengatakan bahwa cerita Andi hanyalah sebuah cerita yang belum tentu
benar. Kemudian membubarkan kelas untuk istirahat sekolah.

Andi hanya terdiam.

***

Seminggu kemudian di kelas bercerita
yang diampu oleh Bu Luna. Anak -anak kelas enam kembali di minta bercerita di
depan kelas. Satu perssatu murid maju ke muka kelas membawakan ceritanya
masing-masing. Ada cerita tentang liburan ke pantai, mengunjungi kakek, dan
cerita kanak-kanak lainnya.

Tibalah giliran Andi maju ke
muka kelas. Semua penghuni kelas terdiam untuk mendengarkan ceritanya.

***

Hari ini aku hampir terlambat
sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi
sekali.

Diantar ibu ke jalan raya.
Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke
rumah. Seperti biasa, angkot langgananku. Angkot berwarna biru yang disopiri
oleh mang Acim.

Jalanan ramai. Banyak macetnya.
Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara
mobil-mobil.

Di dalam angkot aku melihat anak
TK berkepang dua di rambutnya duduk persis di depanku. Anak TK yang minggu lalu
ibunya ditabrak mati oleh motor. Ia diantar ke sekolah oleh seorang lelaki
paruh baya. Mungkin itu ayahnya yang menggantikan ibunya mengantar anak itu ke
sekolah.

Wajah anak itu begitu murung.
Tak tampak raut gembira sama sekali dari wajahnya.

Tibalah mobil angkot yang kami
tumpangi ke depan sebuah sekolah TK yang tak terlalu jauh dari rumahku. Bapak
paruh baya yang mengantar anak TK itu meminta berhenti.

Ia pun turun dari mobil. Lalu
berdiri dari luar untuk memapah anak TK berkepang dua di rambutnya.

Anak TK itu berdiri di pintu
angkot hendak meloncat keluar. Seperti angsa yang akan terbang ke pangkuan
induknya. Tapi tiba-tiba saja. Kejadiannya begitu cepat.

Sebuah motor berwarna merah yang
ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri
angkot. Tanpa ampun menerjang tubuh anak TK itu sampai terbang jauh.

Lelaki paruh baya berteriak
histeris. Aku pun berteriak histeris kaget. Begitu juga penumpang angkot.

Semua mata tertuju pada kejadian
itu. Sedangkan Sebuah motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru
dan helm kuning melaju cepat meninggalkan lokasi kejadian. Tanpa merasa
berdosa. Kecepatannya tidak bisa di kejar oleh lelaki paruh baya yang mengantar
anak TK.

Lokasi itu ramai seperti minggu
lalu.

Aku melihat tubuh anak TK
berkepang dua di kepalanya itu. Kepalanya pecah terbentur aspal. Kepangnya
berantakan tak berbentuk. Matanya melotot. Baju putihnya kotor sekali. Merah di
sekujur tubuhnya. Mengerikan sekali.

Sedangkan si bapak separuh baya
yang mengatar anak TK berkepang dua di kepalanya itu meraung-raung seperti
bocah yang kehilangan mainan. Ia histeris bagai kesurupan memanggil-manggil nama
anak TK berkepang dua di keplanya yang sudah menjadi mayat.

Jalanan pun macet. Polisi datang
memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan. Lama
sekali.

Aku mendesah apakah hari ini
akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

Andi selesai menceritakan
kejadian yang dialaminya pagi hari ini.

Satu kelas terdiam. Bu Luna
terbengong. Murid-murid lelaki mulutnya terbuka, menggantung seperti huruf O.
Beberapa anak perempuan berhimpitan duduknya dengan wajah ngeri.

Tak ada tepuk tangan seperti
anak-anak lain yang selesai bercerita. Yang ada hanya bunyi bel berdentang
tanda istirahat.

Bu Luna bergegas mengambil alih
kelas. Mengatakan bahwa cerita Andi hanyalah sebuah cerita yang belum tentu
benar. Bahkan menuding Andi hanyalah berkhayal.

“Cerita Andi hanyalah khayalan
anak-anak. Jadi jangan terlalu dipercaya. Bisa jadi cerita tadi hanyalah
bohong,’ ujar bu Luna

Kelas pun riuh. Menuding Andi
berbohong. Andi mencoba mengatakan bahwa kejadian itu sungguh terjadi.

Bu Luna dengan keras membentak
meja. Satu kelas terdiam. Menyuruh murid-murid terdiam. Kemudian bu Luna
membubarkan kelas untuk istirahat sekolah.

Andi hanya terdiam.

***

Minggu ketiga bulan Januari.
Awan hitam menggulung-gulung di langit.

Seperti minggu-minggu
sebelumnya. Hari ini adalah kelas bu Luna. kelas bercerita. Anak-anak  kelas enam kembali di minta bercerita di
depan kelas. Satu perssatu murid maju ke muka kelas membawakan ceritanya
masing-masing. Ada cerita tentang liburan ke pantai, mengunjungi kakek, cerita
bermain ketika hujan dan cerita kanak-kanak lainnya.

Tibalah giliran Andi maju ke
muka kelas. Semua penghuni kelas terdiam untuk mendengarkan ceritanya.

Bu Luna mendelik ke arah Andi,

“Jangan cerita khayalan tentang
motor dan kecelakaan lagi, Andi” ujar bu Luna

Seluruh kelas riuh setuju.

Andi termenung ia teringat
kejadian pagi hari tadi.

***

Hari ini aku hampir terlambat
sekolah. Padahal aku bangun pagi. Sarapan dan berangkat ke sekolah. Pagi-pagi
sekali.

Diantar ibu ke jalan raya.
Katanya biar tidak terjadi apa-apa. Setelah naik angkot, ibu pun pulang ke
rumah. Seperti biasa, angkot langgananku. Angkot berwarna biru yang disopiri
oleh mang Acim.

Jalanan ramai. Banyak macetnya.
Tapi, banyak sekali motor di jalan kejar-kejaran. Berliuk-liuk di antara
mobil-mobil.

Di dalam angkot aku melihat
bapak paruh bayah yang minggu lalu mengantar anak TK berkepang dua di
rambutnya. Lelaki paruh baya itu duduk persis di sebelah mang Acim. Bapak paruh
baya yang minggu lalu Anak TK berkepang dua di rambutnya ditabrak mati oleh
motor.

Aku tidak tahu mau kemana lelaki
paruh baya itu.

Wajah lelaki paruh baya itu
begitu murung. Tak tampak raut gembira sama sekali dari wajahnya.

Tibalah mobil angkot yang kami
tumpangi ke depan sebuah sekolah TK yang tak terlalu jauh dari rumahku. Jalan
sedikit tersendat. Bapak paruh baya yang berwajah murung itu meminta berhenti.

Ia pun membayar beberapa rupiah
kepada mang Acim. Beriap mau turun dari mobil. Tangannya sudah memegang pintu
mobil, bersiap untuk membukanya.

Tapi tiba-tiba saja. Kejadiannya
begitu cepat.

Sebuah motor berwarna merah yang
ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning melaju cepat di samping kiri
angkot. Tepat dengan dibukanya pintu mobil oleh lelaki paruh baya.

Tanpa ampun motor berwarna merah
yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm kuning yang melaju cepat
menerjang pintu angkot.

Pintu berdebam terbang jauh.
Sedangkan motor berwarna merah yang ditumpangi lelaki berjaket biru dan helm
kuning ringsek tak berbentuk menerjang tiang listrik. Sementara lelaki berjaket
biru dan helm kuning mendarat tepat di got pinggir jalan.

Aku pun berteriak histeris
kaget. Begitu juga penumpang angkot.

Semua mata tertuju pada kejadian
itu. Lokasi itu ramai seperti minggu lalu dan lalunya lagi .

Aku melihat tubuh lelaki
berjaket biru dan helm kuning. Helm di kepalanya pecah terbentur batu kali yang
menjadi tembok got. Isi kepalany tak berbentuk. Matanya hancur terkena kaca
helm. Jaket birunya kotor sekali. Merah dan hitam di sekujur tubuhnya.
Mengerikan sekali.

Sedangkan si bapak separuh baya
yang hendak turun tadi mendekati pinggir got. Ia menatap tajam dan mengeluarkan
sumpah serapah kepada lelaki berjaket biru dan helm kuning sang pengendara
motor berwarna merah yang sudah menjadi mayat.

“Mampus luh!”

Puas sekali lelaki separuh baya
itu meluapkan kesenangan.

Jalanan pun macet. Polisi datang
memeriksa. Mang Acin, sopir mobil angkot yang kunaiki dimintai keterangan,
disamping angkotnya yang kini rusak. Lama sekali.

Aku mendesah apakah hari ini
akan terlambat. Ternyata, hanya hampir terlambat.

***

“Andi, kenapa kamu diam saja di
situ!” bentak Bu Luna

Andi tersadar. Ia belum
mengeluarkan sepatah kata pun di kelas bercerita hari ini. Ia ingin
menceritakan kejadian pagi hari ini. Tapi, sudahlah ia memutuskan lain.

“Aku tidak punya cerita hari
ini.”

 

 

#Di sebuah angkot menuju
3 Raksa

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *