Facebook
merupakan jejaring sosial yang paling banyak digunakan di indonesia.
Banyak kalangan mulai dari rakyat melarat sampai pejabat. Dari yang tua
sampai yang muda, termasuk juga anak-anak yang sebenarnya dari segi usia
belum layak memiliki account facebook, namun mereka mengakali umur
mereka ketika melakukan registrasi.

Mac Prensky membagi umat manusia
menjadi 2, yakni generasi digital immigrant dan digital native. Digital
native adalah kelompok yang saat mulai belajar menulis sudah mengenal
internet atau yang saat ini berada di bawah 24 tahun. Sedangkan digital
immigrant adalah generasi yang mengenal dunia internet setelah mereka
dewasa.
Digital native memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya
dengan generasi sebelumnya, setidaknya dalam hal identitas dan privasi.
Digital native cenderung ribut soal identitas. Mereka begitu peduli
dengan ke”ada”an diri mereka. Karena itulah mereka ramai-ramai membuat
akun di Facebook, Twitter, Youtube, dan lain-lain untuk membuktikan
kepada dunia bahwa mereka ada. Kenarsisan ini menjadi wajar karena
mereka memang menemukan media yang bisa memuaskan hasrat mereka untuk
eksis.
Soal privasi, Generasi digital native cenderung lebih terbuka,
blak-blakan, dan open minded. Jika mereka bilang suka, mereka bilang
suka, dan jika tidak suka, mereka akan bilang tidak suka. Mereka juga
merasa tidak masalah “membuka” apa yang disebut oleh generasi sebelum
mereka sebagai privasi. Mereka malah berlomba-lomba membuka kehidupan
privasi mereka di status Facebook dengan menulis “@ mall X bareng
temen”, “sedih baru putus”, “mau tidur”, dan lain-lain.
Ciri ini
bukan tidak memiliki persoalan. Kenarsisan dan privasi yang terbuka juga
membawa dampak negatif. Khususnya remaja puteri. Bukan tidak sedikit
kasus remaja puteri usia sekolah yang hilang diculik teman facebook.
Mereka mudah percaya dan terlalu polos sehingga mudah sekali menjaid
korban penipuan.
Penculikan terhadap remaja puteri akhir-akhir in, seperti kasus bunga (tangerangnews.com 11
Juni 2013) bukan serta-merta kesalahan anak, namun bisa saja karena
kontrol sosial dan kontrol orang tua yang kurang. Remaja puteri mudah
dipengaruhi, sehingga perlu pendampingan.
Facebook sendiri hanya
sebagai media untuk komunikasi dan tidak lebih. Bisa diibaratkan seperti
pisau kalau kita gunakan untuk yang positif ya akan positif tapi kalau
negatif ya hasilnya negatif. Penculikan menggunkan facebook akan terus
terjadi, sebab sekat sosial di dunia maya tidak bisa dibendung. Untuk
itu, harus ada langkah yang dilakukan berbagai pihak.
Pertama, orang
tua harus mengawasi anaknya dalam menggunakan facebook atau internet,
kedua lingkungan sosial misalkan sekolah juga aktif dalam memberikan
infomasi perkembangan perilaku siswa, ketiga untuk anak-anak sebaiknya
menampilkan data diri seperlunya saja dan foto yang wajar, selektif
dalam pertemanan dengan memastikan semua pertemanan adalah orang yang
dikenal dengan baik dalam keseharian, dan menghindari pertemuan dengan
orang yang baru dikenal.


Ahmad Yunus
tulisan ini dimuat di Tangerangnews.com 27 Juni 2013

http://www.tangerangnews.com/baca/2013/06/27/10124/jejaring-sosial–generasi-digital-dan-penculikan


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *