”Cerita sangat bertenaga dan
penelitiantelah membuktikan bahwa cerita berperan amat signifikan, bukan hanya
dalam perkembangan bahasa anak, tetapi juga perkembangan emosional dan
psikologisnya.” (Mary Walsh)

Zaman terus berubah. Kemajuan teknologi
sangat deras. Lalu muncul dalam benak kita. Di zaman modern ini masih perlukah
kita melakukan kegiatan yang sifatnya kuno, seperti mendongeng?

Ternyata, di saat perkembangan
teknologi audio-visual kian maju dan maraknya ’dongeng – dongeng’ modern di
layar televisi, serta kian membanjirnya buku–buku cerita impor, kegiatan mendongeng
bukan tidak diperlukan lagi. Anak–anak tetap membutuhkan dongeng dalam hidup mereka.

Anggapan anggapan miring bahwa mendongeng
atau membacakan cerita anak bagi kebanyakan orang tua atau pendidik merupakan
pekerjaan buang – buang waktu dan membosankan harus disingkirkan. Karena kebanyakan
dari kita tidak menyadari bahwa dengan mendongeng atau membacakan cerita anak
akan mendapatkan banyak manfaat, baik bagi anak maupun bagi pendongengnya
sendiri.

Tidak percaya, kita buktikan!
Saya akan memberikan fakta dan data dari manfaat dongeng yang akan membuka
lebar cakrawala pandangan anda. Berikut ini adalah manfaat dari dongeng:

 

1. Menumbuhkan Kebersamaan dengan
Anak

Pada usia pertumbuhan, anak
selain memerlukan kebutuhan jasmani, seperti makan, minum, dan sarana lahiriah
lainnya, anak juga memerlukan kebutuhan perkembangan jiwa, termasuk rasa aman
dan kebersamaan dengan orang tua. Dan di sekolah pun, anak – anak emerlukan
perhatian dan hubungan yang baik dengan gurunya.

Kegiatan mendongeng menjadikan hubungan
anak dan orang tua atau pendidik semakin dekat. Baik secara fisik maupun psikologis.
Anak akan merasa diperhatikan, merasakan kenyamanan, dan merasa dicintai. Hal
ini diperkuat dengan hasil penelitian  ang
menunjukkan bahwa orang tua yang suka mendongeng menjelang tidur, cenderung
lebih akrab dengan anak–anak dibandingkan dengan yang tidak melakukan aktivitas
mendongeng.

Menurut Supriyanto (2002),
setidaknya ada tiga alasan mengapa mendongeng dapat menumbuhkan kebersamaan
dengan anak: Pertama. Dengan mendongeng anak akan ikut menyimak sehingga
terjadi kontak mata antara pendongeng dengan anak. Kedua, Adanya kontak mata
juga akan diikuti dengan kontak fisik antara pendongeng dengan anak. Ketiga, Setelah
terjadi kontak mata dan sentuhan fisik, maka proses lain yang akan terjadi
adalah kontak pembicaraan.

Manakala anak merespon isi
cerita, misalnya dengan cara menyakan atau berkomentar atas cerita itu. Maka
kontak mata, sentuhan, dan pembicaraan akan terjalin. Selain itu, kegiatan
mendongeng juga dapat dijadikan sebagai sumber umpan balik dari anak. Orang tua
atau pendidik dapat mengenal lebih dekat aspirasi, kepekaan perasaan, ketajaman
intuisi, kedalam jiwa, bahkan kearifan sosial dan keluasan wawasan hidup anak.

 

2. Melatih Tingkat Emosi Anak

Melalui dongeng, orang tua atau
pendidik sebagai pendongeng dapat melatih tingkat emosi anak. Menurut
Supriyanto (2002), anak memerlukan pengalaman batin untuk memperkaya aneka
emosinya yang salah satunya melalui dongeng.

Supriyanto memaparkan lebih jauh
bahwa, kebanyakan anak yang mendengarkan dongeng dengan baik, menunjukkan
reaksi emosional. Seperti ingin bertindak sesuai dengan konflik tokoh yang
didengarnya. Tingkat emosi anak dalam menyimak dongeng dapat juga ditunjukkan
dengan gerak tangan, mimik bibir, dan mimik muka. Bahkan tidak jarang anak – anak
langsung melontarkan kata – kata sebagai reaksi emosinya menanggapi konflik
yang terjadi dalam dongeng.

Selain itu, ternyata EQ (emotional
quotient) anak akan bekerja dengan baik bila anak menemui ilmu – ilmu baru,
kemudian mereka akan mengaitkannya dengan pengalamannya sendiri. Inilah inti
dari pembelajaran EQ. Tanpa disuruh anak akan membandingkan tokoh dalam dongeng
dengan dirinya sendiri, sehingga dongeng bisa menjadi cermin untuk anak.

Bukankah dongeng yang berkesan
adalah dongeng yang banyak kaitan dan berhubungan dengan pengalaman batin anak?

 

3. Mencerdaskan Spiritual
Quotient Anak

Menanamkan akidah Islam dalam
dada anak – anak, lalu membiasakan mereka untuk beribadah tanpa ada rasa
paksaan, dan menjadikan anak berakhlak mulia bukanlah hal gampang. Apalagi di
masa sekarang. Dan ternyata kegiatan mendongeng bisa jadi solusi alternatif
untuk masalah itu.

Al Quran yang diwahyukan kepada
Nabi Muhammad saw, ternyata di dalamnya juga menggunakan metode bercerita yang
tidak hanya membuat kita, para orang dewasa, dan anak – anak berpikir, tetapi
juga merupakan nikmat peneguh dan penentram iman.

”Dan semua dari rasul – rasul
yang kami ceritakan kepadamu ialah kisah – kisah yang dengannya Kami teguhkan
hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pelajaran dan
peringatan bagi orang – orang yang beriman.” (QS.11: 120).

Lalu dalam ayat lain Allah SWT
berfirman,

“Kami menceritakan kepadamu kisah
yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu dan sesungguhnya kamu
sebelum (kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang – orang yang belum
mengetahu.” (QS. 12:3).

Maka saat kita mendongeng, unsur
akidah tidak boleh ditinggalkan. Mendongeng yang juga sebagai salah satu nikmat
dari Allah yang mempertemukan antara pendongeng dengan yang didongenginya dalam
suasana silaturahmi dan kasih sayang, mampu menyemaikan nilai – nilai Islam
dengan aktivitas yang menyenangkan.

Dengan demikian, membuat kita
tidak perlu memberikan nasihat terlalu banyak pada anak. Dalam dongeng kita
bisa memberikan gambaran kekuasaan dan kebesaran Allah, sehingga lewat dongeng
anak – anak dapat mengenal Tuhannya. Kita juga bias menggambarkan betapa mulianya
akhlak Rasulullah saw dan juga kisah para Nabi dan Rasul utusan Allah.

 

4. Mengembangkan Daya Imajinasi
Anak

Imajinasi lebih kuat daripada
pengetahuan; Impian lebih kuat daripada fakta. Itu adalah kata – kata terkenal
dari Robert Fulghum. Fulghum ingin menunjukkan kepada kita, betapa pentingnya
menghadirkan dunia imajinasi yang sehat bagi anak-anak. Apalagi di saat
sekarang, di mana dunia imajinasi anak semakin mengalami polusi. Imajinasi anak
dicengkram kuku tajam kemajuan teknologi audio-visual. Di sinilah peran dongeng
tak tergantikanoleh teknologi. Teknologi tidak mampu menciptakan hubungan
dialogis. Dan gambar – gambar yang ready made (sudah jadi) di televisi, video,
dan komik menjadikan anak – anak pasif. Karena anak-anak tidak diberikan kesempatan
berkomentar dan berimajinasi bebas.

Dongeng merupakan sarana ideal
untuk mengembangkan daya imajinasi anak Melalui dongeng, anak dapat diajak mengembangkan
daya imajinasinya yang kaya raya dan tanpa terjajah. Misalnya, membayangkan
gajah bisa terbang, Kancil yang cerdik, atau Bidadari.

Seperti yang diungkapkan oleh Kak
Seto, bahwa dalam dongeng, imajinasi anak terkontrol, dia pun bisa menyampaikan
ide atau gagasan dalam memecahkan masalah. Dengan demikian lahirlah ide – ide
orisinal dari anak dalam suasana yang penuh kasih sayang.

 

5. Meningkatkan Daya Ingat Anak

Ada uraian menarik dari Nobuo
Masataka, seorang peneliti anak – anak dari Jepang, ia mengatakan bahwa anak –
anak di bawah usia tiga tahun pada umunya belum dapat mengembangkan secara
penuh kemampuannya untuk memanipulasi bahasa, sementara kata – kata diasumsikan
memegang peranan sangat penting dalam penyimpanan informasi pengalaman –
pengalaman individu. Anak – anak pada usianya yang sangat muda itu harus memiliki
kemapuan untuk “bercerita” pada saat mereka ingin mengingat segala sesuatu yang
mereka ingin dengar atau mereka lihat. Seorang anak yang mendengarkan ibunya
berkata,”Hari ini kita akan pergi ke kebun bintang, bukan?” anak akan mencoba
menirukannya, lalu terbata–bata ia akan mencoba “bercerita” tentang kata – kata
yang baru dipelajarinya dengan cara serupa. Dengan cara itulah pengalaman
tersebut akan terekan dalam memorinya.

Ketika anak – anak telah dapat
mengikuti alur kisah, telah dapat membuat sistematika, dan menghubungkan apa
yang telah dilihat dan didengarnya, maka pada saat itulah ia telah dapat
menyimpan informasi untuk pertama kalinya.

Lebih lanjut Nobuo mengatakan
bahwa, kunci pengembangan memori anak–anak adalah dengan mendorong mereka untuk
menyusun sebuah kisah dengan merangkai sejumlah terbatas kata – kata yang
mereka miliki. Peran terpenting orang dewasa dalam hal ini adalah berbicara
tentang berbagai hal berbeda kepada anak–anak itu; sebuah tugas sederhana dan
biasa.

Dari hasil penelitian yang
dilakukan Nobuo menunjukkan bahwa membaca buku cerita bergambar merupakan cara
paling efektif untuk membentuk kebiasaan “bercerita” antara anak dan orang
dewasa.

 

6. Memberikan Kesenangan di masa
Kecil Anak

Salah satu tujuan dongeng adalah memberikan
enjoyment (kesenangan) bagi anak di masa kecilnya. Sebagai pengisi waktu senggang
dongeng merupakan hiburan, yang bukan saja menciptakan suasana santai bagi anak,
melainkan juga memberikan kesenangan bagi si anak, yang sama nilainya dengan kenikmatan
waktu bermain.

Perhatikanlah kebahagiaan yang
terpancar dari anak ketika mereka didongengi, bagaimana mereka menjadi bagian
dari pendongengnya, bagaimana mereka dipeluk dalam cerita, dan bagaimana mereka
menjadi hangat bersama pendongengnya, apakah itu orang tuanya, kakaknya, guru,
atau orang dewasa lainnya. Karena pada dasarnya anak-anak menyukai dongeng.

 

7. Menanamkan Nilai – Nilai
Kehidupan pada Anak Tanpa Menggurui

Tak dapat disangkal, dongeng
adalah sarana yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan pada
anak tanpa menggurui. Dongeng yang berkesan akan tetap tersimpan dalam memori
anak.

Dengan dongeng, kita bisa
mengajari anak nilai–nilai kehidupan dan ketuhanan dengan cara yang
menyenangkan. Tanpa disadari oleh anak, kita telah mengajarkan beribu, bahkan berjutakisah
hikmah yang akan menjadi bekal kehidupan mereka.

Dongeng sebagai karya sastra juga
mencerminkan jati diri bangsa. salah satu unsur penting dari jati diri bangsa
itu adalah nilai – nilai budaya. Nilai – nilai budaya yang dapat kita semai
antara lain, suka menolong, bersyukur, bekerja keras, kebijaksanaan,
musyawarah, kewaspadaan, gotong royong, kesetiaan dan kepatuhan, tidak iri
hati, kejujuran, keadilan, keberanian, kasih sayang, dan masih banyak lagi
nilai – nilai budaya yang dapat kita semai pada anak melalui dongeng.

 

8. Mempersiapkan Apresiasi Sastra

Menurut Taufiq Ismail, cerita
anak – anak, seperti dongeng dan hikayat, merupakan saripati pengalaman batin
bangsa. Di dalam cerita itu sesunggguhnya terekam berbagai aspek dari
perjalanan hidup suatu bangsa. Di sana dituturkan suka duka, pencapaian dan kegagalan,
keberanian dan kepengecutan, kejujuran dan pengkhianatan, dan catatan sejarah
yang dilalui bangsa itu bisa ditemukan dalam bentuk yang indah serta menyentuh perasaan.

Wimanjaya K. Liotohe (1991),
menuliskan bahwa salah satu manfaat dongeng adalah sampai kepada kehalusan rasa
terhadap seni sastra dan bahan bacaan yang baik dapat dibina dalam diri seorang
anak dengan cara banyak membaca cerita anak – anak.

 

9. Mengembangkan Daya pikir Anak

Banyak sekali manfaat dongeng.
Percaya atau tidak, salah satunya adalah mengembangkan daya pikir anak.
Mengutip hasil penelitian tentang pengaruh dongeng terhadap intelegensi anak,
Psikolog Cici Kaloh mengatakan, bahwa intelegensi anak – anak yang kurang
didongengi ternyata lebih rendah dibandingkan dengan anak – anak yang lebih banyak
didongengi oleh orang tuanya.

Masih menurut Cici, semakin
banyak rangsangan yang diterima seorang anak, semakin banyak analisis yang bisa
mereka lakukan. Perkembangan daya pikir, menurut Cici, sangat dipengaruhi oleh
rangsangan lingkungan, yang salah satunya adalah lewat pemberian dongeng.

Prof. Riris menguatkan pendapat
di atas, menurutnya, karena untuk anak, dongeng menawarkan kesempatan
menginterpretasi dan mengenali kehidupan di luar pengalaman mereka.

 

10. Menumbuhkan Minat Baca pada
Anak

Menurut Suroso (2007), orang yang
tidak memiliki minat baca dapat diubah menjadi peminat baca jika kita mampu
mengkondisikan orang tersebut menyukai bacaan, dimotivasi dengan bertahap
dengan menyenangi bacaanbacaan ringan menuju bacaan yang lebih berat. Salah
satu solusinya adalah dongeng.

Dengan dongeng anak – anak akan
terangsang untuk mengetahui dari mana sumber dongeng tersebut. Kemudian anak
akan mencari dan menemukan bahan lebih jauh serta membaca lebih banyak. Pendongeng
memang tidak pernah bawa – bawa buku saat mendongeng. Akan tetapi alangkah
lebih baiknya kalau si pendongeng menunjukkan buku yang dipakai sebagai sumber
dongengnya. Dengan menunjukkan buku tersebut, anak bias melihat sumber imajinasi
pendongeng. Sehingga anak tahu ke mana mereka harus mencari inspirasi.

Seorang pakar di bidang
penumbuhan minat baca, Mary Leonhardt, mengatakan bahwa membacakan dongeng dari
buku adalah latihan yang baik bagi anak agar ia suka membaca. Bagi anak yang
belum bisa membaca, kegiatan mendongeng merupakan asaran ideal untuk merangsang
minat baca. Jika akan sudah mampu untuk membaca, mereka tidak akan tergantung
kepada orang tuanya untuk mendapatkan dongeng.

 

11.Meningkatkan Perkembangan
Bahasa Anak

Tahun 2004 ketika indeks
kelulusan anak SMA dinaikkan, banyak siswa SMA yang tidak lulus. UNESCO membuat
riset, ternyata keterbacaan anak Indonesia hanya 0,9%. Artinya kalau mereka
membaca 100 kata, hanya 9 kata yang mereka kuasai.

Jauh sebelumnya pada tahun 1990,
temuan Indra Ardiana menunjukkan bahwa siswa sekolah menengah belum dapat
berbahasa tulis dengan baik. Semua itu berhubungan dengan kemampuan berbahasa.
Menurut Sumarti M Thohir, direktur Pustaka Hati Center, mengatakan bahwa
belajar berbahasa bukan hanya membaca, tapi mulai dari menyimak, berbicara,
menulis, dan terakhir membaca.

Dongeng mampu meningkatkan perkembangan
bahasa anak. Dengan dongeng anak diajak untuk menyimak apa yang diceritakan.
Dongeng juga memberikan kesempatan dialogis pada anak untuk menyempaikan
gagasannya atau menanggapi cerita.

Sedangkan Jim Trelease
menyebutkan manfaat dongeng diantaranya adalah mengembangkan kosa kata,
memperkenalkan susunan dan nuasa bahasa. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa
dibacakan buku cerita akan terbiasa pula mendengar bahasa baku, meskipun mereka
belum bersekolah.

 

12. Menumbuhkan Rasa Humor pada
Anak

Semua anak menyukai humor. Humor
dalam  dongeng sekaligus improvisasi yang
menyenangkan bagi mereka. Banyak ide humor yang bisa disisipkan ke dalam
cerita. Dengan demikian rasa humor akan tumbuh dengan sendirinya dalam diri
anak.

Tulisan kedua dari ketiga tentang dongeng. Tulisan sebelumnya sekilas tetang dongeng, tulisan selanjutnya 9 ide untuk mendongeng

 

Referensi

Afra, Afifah (2007). How To Be A
Smart Writer. Solo: Indiva Media Kreasi

Annida. (2004). Buku Sakti
Menulis Fiksi. Jakarta: Pustaka Annida

Danandjaja, James (1973, Mei).
Kertas Kerja Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia. Jakarta: Panitia
Inventarisasi dan Dokumentasi Folklore Indonesia (makalah tidak diterbitkan)

Iper, Dunis, Halimah Jumiati, dan
Dagai L. Limin (1998). Legenda dan Dongeng dalam Sastra Dayak Ngaju. Jakarta:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa

Jennings, Paul (2006). Agar Anak
Tertular ‘Virus’ membaca. Bandung: Mizan Learning Center

Liotohe, Wimanjaya K. (1991).
Petunjuk Praktis Mengarang Cerita Anak – Anak. Jakarta: Balai Pustaka

Nur’aini, Farida. (2007). Ma, Dongengin
Aku Yuk!. Solo: Indiva Media Kreasi

Ratnawati, Sinta (ed) (2002).
‘Sekolah’ Alternatif Untuk Anak. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Sarumpaet, Riris K Toha. (2003, September).
Cerita, Anak, Kita, dan Ke mana kita? Pidato pada Upacara Pengukuhan Sebagai
Guru Besar Tetap FIB UI. Depok: FIB UI

Septianingsih, Lustantini, Lukman
Hakim, dan Nurweni Saptawuryandari. (1998). Memahami Cerita Anak – Anak: Studi
Kasus Majalah Bobo, Ananda, dan Amanah. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa

Seokanto SA (1998). Seni
Bercerita Islami. Depok: Bina Mitra Press

Suroso (2007). Panduan Menulis
Artikel dan Jurnal. Yogyakarta: Pararaton Publishing

Widiastuti, Maria (2002).
(Skripsi). Analisis Fungsi Dongeng Rakyat dan Cerita Khayal Modern Sebagai Alat
Pendidikan: Suatu Penelitian Awal Berdasarkan pada Dongeng Binatang Modern dan
Dongeng Grimm Bersaudara. Depok: FIB UI

Media Massa

Masataka, Nobou (Desember 2002)
Majalah Matabaca Vol. 1 No. 5 Edisi Desember 2002.

Supriyanto (2002, Agustus).
Membina Kebersamaan Melalui Cerita Anak. Warta, hal 21 – 24

Syahrezade, Ryan (2002, Agustus).
Teknik Bercerita untuk Anak. Warta, hal 19 – 20

 

Internet

Armando, Nina M. Membacakan Buku Dongeng:
Bangsaku.com

Yudisia,Sinta. 2009. Sumber
Cerita Fiksi. http://sintayudisia.wordpress.com/2009/01/31/sumber-cerita-fiksi

Kategori: literasi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *