Pagi itu, Dini sudah bersiap – siap untuk ke sekolah. Maklum hari ini adalah hari pengumuman kelulusan yang dinanti – nantinya. Langkahnya bersemangat untuk menyongsong kelulusan. Ia yakin kalau hasil pengumuman menyatakan dirinya adalah siswi yang dinyatakan lulus.

Hatinya berdebar – debar menatap amplop putih hasil pengumuman. Tangannya bergetar menyobek amplop itu dan mengambil secarik kertas di dalamnya. Dengan teliti dia membaca pengumuman itu sampai matanya terhenti pada sepuluh huruf yang tercetak tebal. Langit hatinya runtuh membaca sepuluh huruf itu, ia tak percaya dan mengulang kembali membaca “TIDAK LULUS”. Ia kecewa berat, ia tak kuasa menahan tangisnya hingga ia pingsan.
Semua orang pasti pernah mengalami kekecewaan. Tapi, apakah hal itu bisa membuat seseorang kapok atau bahkan frustasi.
Kekecewaan datang karena adanya ketidaksesuaian antara harapan atau keinginan dengan kenyataan. Hal ini bisa dialami siapa saja, kapan saja, di mana saja, sehingga terkadang seseorang tidak siap menghadapinya.
Dan itu dapat menyebabkan kesedihan, kemurungan, kapok bahkan frustasi. Kekecewaan yang sampai frustasi biasanya muncul karena seseorang terlalu memupuk harapan yang begitu tinggi pada suatu hal, sehingga ketika harapan itu tidak tercapai atau gagal, ia seperti terbanting dan terjatuh dari lantai lima puluh.
  • Husnudzon pada Allah

Sebagai seorang yang beriman, kita harus tetap berhusnudzon pada Allah. Mungkin kegagalan adalah takdir yang telah ditetapkan olehNya, agar kita semakin dewasa dan memperbaiki diri untuk bisa lebih baik lagi.
  • Realistislah

Berpikir realistislah, apakah kita sudah berusaha dan bekerja keras. Dengan berpikiran realistis kita juga mampu menerima kegagalan atau keberhasilan dengan sama baiknya.
  • Tawakal

Walaupun kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tetap semua ktita serahkan kepada Yang Maha Kuasa. Mengutip perkataan Dr. Zulkifliemansyah “ada wilayah kekuasaan Illahi, tempat di mana hamba – hambanya yang telah letih berikhtiar untuk bertawakal. Dari situ kita belajar makna hakiki sebuah perjuangan. Yang kata – katanya tersusun dari sebait do’a manis seorang yatim Ummi di gua Tsur ‘La tahzan, Innallaha ma’ana’.”
  • Siapkan mental

Siapkan mental kita untuk bias menerima kenyataan buruk yang mungkin bias menerima kita. Jadi dengan menyiapkan mental setidaknya kita tidak terlalu terpukul saat mengalami kegagalan.
  • Usaha

Usaha akan membuat rasa kecewa tidak berkepanjangan dan juga menunjukkan seberapa jauh seseorang berjuang untuk tercapainya suatu keinginan atau harapan. Usaha juga yang membedakan siapa yang berjiwa tangguh dengan orang yang berjiwa kerdil.
  • Sabar

Segala sesuatu bisa diwujudkan dengan usaha, kerja keras dan tentunya berdo’a. tapi, itu saja tidak cukup. Diperlukan juga kesabaran. Hal inilah yang dilupakan, padahal dengan kesabaran, kegagalan dan kekecewaan akan diterima sebagai mata rantai proses keberhasilan.
So, buat yang lagi pada kecoa, eh maaf kecewa, “ La Tahzan, ayo bangkit lagi”
Catatan penulis: tulisan ini pernah dimuat di Majalah Sabili edisi 1 TH XV 26 Juli 2007

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *