Belum juga kelar kasus penistaan surat Al Maidah ayat 51 yang membuat ahok menjadi pesakitan di pengadilan. Tetiba saja sang mantan bupati Belitung Timur itu kembali membuat khalayak tersentak, sikapnya yang kurang beradab kepada sosok Kyai besar NU yang juga ketua umum MUI, KH Ma’ruf Amin. Sontak saja adegan di ruang pengadilan itu menjadi hingar bingar hingga banyak reaksi keras dari berbagai elemen ummat Islam beraksi keras kepada Ahok.
Saya sendiri hanya mengelus dada dalam-dalam. Tapi alangkah bijaknya kita memetik pelajaran dari rangkaian kejadian tersebut. Dan saya pun teringat pada satu tulisan Karim Asy Syadzily di buku Ide Kecil untuk Perubahan besar.
Di ceritakan dalam buku tersebut ada dua orang teman yang terlibat perdebatan sengit hingga salah satu diantaranya mengeluarkan kata-kata kasar sebagai luapan emosi kepada temannya.  Kata-kata yang benar-benar pedas, penuh luapan emosi, jengkel, dan dongkol.
Kedua sahabat itu pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Orang yang terpancing emosinya pun sudah tenang dan sadar akan apa yang telah diucapkannya. Sementara itu, orang  yang terkena luapan emosi dari temannya hanya bisa bersedih dan tak percaya kalau temannya bisa melukai  hatinya dengan ucapan-ucapan kasar serta pedas. 
Akhirnya orang yang telah megeluarkan kata-kata kasar memutuskan untuk meminta maaf kepada temannya. Keesokakn harinya dia pergi untuk bertemu dan meminta maaf serta mengungkapkan penyesalan, mungkin rekannya berkenan memaafkan dan melupakan kesalahannya. Seperti yang diharapkan, temannya itu juga memaafkan, melupakan kata-kata yang sangat pedes dan menyakiti perasaannya.
Di pihak lain, meski sudah meminta maaf dan sudah dimaafkan. Orang yang meminta maaf itu justru tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dirinya merasa ada sesuatu yang telah merenggangkan tali persahabatannya dengan temannya. Sejak saat itu, pikirannya kacau dan pusing bagaimana cara mengarahkan air ke aliran sebagaimana lazimnya, sekaligus menghapus lemabaran hitam yang sempat mewarnai hubungan keduanya.
Dalam buku tersebut diceritakan kalau orang itu pergi menemui orang yang ilmunya tinggi dan yang bijak guna diminta pendapat dan arahannya. Sang guru yang memiliki ilmu tinggi dan bijak berkata kepadanya,

Lakukan apa saja yang aku perintahkan dengan senang hati, aku akan menasihatimu dengan ikhlas pula!

Tanpa berpikir panjang, orang itu menerima syarat tersebut. Beberapa saat kemudian, sang guru yang bijak itu berkata kembali, 

Ambilah kantong kecil ini! Di dalamnya, ada dua puluh bulu ayam jago. Letakkan satu bulu di setiap pintu rumah kampong kita ini, lalu kemablilah.

Orang itu tidak banyak bertanya mengenai permintaan sanga guru. Akhirnya,ia membawa kantong kecil tersebut dan melaksanakan tugas yang diserahkan kepadanya. Setelah tugas tersebut selesai dilaksanakan, sang guru berkata,

Sekarang, ambil lagi bulu-bulu yang kau letakkan di setiap rumah dan bawalah kemari lagi!

Seketika itu juga, orang itu beranjak dan pergi untuk mengumpulkan kembali bulu-bulu ayam yang telah disapu angin dan beterbangan ke mana-mana.
Di sisi lain sang guru hanya bisa tersenyum geli sambil berkata,

Begitulah gambaran kata-kata yang kita ucapkan, keluar dari mulut, lalu terbang ke segala penjuru lebih juah dari yang bisa kita sangka. Selain itu, kita juga tidak bisa mengembalikannya lagi atau bahkan mengendalikannya lagi selama telah terlepas dari mulut kita.

Begitulah, saya mengkaitkan kejadian belakangan ini yang dimulai dari lisan Ahok dengan bulu ayam dari tulisan Karim Asy Syadzily. Adalah hal yang sangat mudah bagi kita untuk menyebarkan bulu-bulu ayam kemana pun arahnya, sebagaiman sangat mudah untuk mengucapkan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang sangat pedas kepada siapa pun, terlebih dengan sosial media yang menjadi alat pengipas super kencang berita. Padahal, ketika ingin mncabut kembali satu huruf pun, sungguh hal yang sangat sukar dilakukan.
Menurut Karim Asy Syadzily, hikmah yang ingin disampaikan oleh sang guru bijak tersebut adalah mengontrol sikap saat mengalami tekanan atau kesulitan merupakan cara yang paling ringan untuk mencabut kembali kata-kata yang pedas ataupun sifat temperamental.
Perlu kita ingat selalu bahwa lisan manusia bsia saja melukai hati orang lain, sebagaimana belati yang bisa melukai tubuhnya. Di samping itu, bukanlah hal yang aneh jika luka kulit seseorang bisa pulih kembali. Demikian pula luka hati bisa juga pulih, khususnya jika disertai dengan permintaan maaf, uluran tangan, dan sambutan yang sama-sama ikhlas. Walaupun smeua jenis luka, baik fisik maupun perasaan dan bahkan sakit yang telah smebuh tetap akan membekas hingga mati.
Setidaknya begitulah pelajaran yang saya petik dari rangkaian kejadian belakangan ini, kejadian yang menguras energy sangat besar. Sebuah pelajaran berharga; jangalah mengeluarkan kata-kata atau melakukan sesuatu yang bisa membuat menyesal dan harus mencabutnya kembali!
Untuk pengingat diri sendiri
@penayunus

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *