Dongeng. Bila mendengar kata itu
mungkin yang ada dalam benak kita adalah kenangan masa kecil di saat malam
sebelum tidur diceritakan kisah – kisah oleh orang tua. Atau ketika duduk di bangku sekolah, bapak dan ibu guru yang bercerita.

Orang tua zaman dulu biasa
melakukan dongeng menjelang anak – anak berangkat tidur. Dongeng yang dibawakan
bisa bermacam – macam, mulai dari cerita rakyat, dongeng tentang binatang,
hingga dongeng tentang kehidupan sehari–hari yang dapat ditemui oleh anak.

Apakah anda punya kenangan yang membekas
dengan dongeng? Saya masih bisa mengingat dongeng yang pernah diberikan oleh guru
sekolah dasar saya di kelas enam. Tentang keluarganya dan tentang kisah hidupnya.
Tapi apakah dongeng itu hanya kita temui di masa kecil? Tidak juga. Di bangku
SMP sampai duduk di bangku kuliahan pun saya masih mendapatkan dongeng yang
diceritakan oleh para guru atau para dosen saya. Mereka memang tidak
menyebutnya sebagai dongeng. Tapi bukankah mendongeng itu sama juga dengan
kegiatan bercerita?

Dongeng bisa diidentikan dengan
kegiatan berbagi cerita untuk menciptakan pengalaman bersama. Baik itu cerita
orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, ataupun pendongeng kepada
pendengarnya.

Menurut pandangan Soekanto,
dongeng juga merupakan suatu kegiatan yang bersifat seni karena erat kaitannya
dengan keindahan dan bersandar kepada kekuatan kata – kata. Kekuatan kata –
kata inilah yang dipergunakan untuk mencapai tujuan bercerita.

Dongeng yang biasa kita kenal
sebenarnya hanya sebagian kecil dari sebuah lingkup besar kebudayaan kolektif
yang dalam Antropologi disebut sebagai foklor. Karena kita adalah bangsa
Indonesia, kita mempunyai foklor Indonesia. Menurut James Danandjaja (1973)
foklor Indonesia adalah sebagian dari kebuadayaan Indonesia yang tersebar dan
diwariskan secara turun menurun secara tradisional melalui media lisan maupun contoh
yang disertai dengan perbuatan, di antara anggota–anggota dari kelompok apa
saja di Indonesia, dalam versi yang berbeda–beda, dalam bentuk lisan, setengah
lisan, maupun bukan lisan.

Danandjaja kemudian membagi
foklor ke dalam tiga katagori besar, yaitu:

1. Folklor Lisan

Yang termasuk folklore lisan
antara lain adalah: bahasa rakyat, teka – teki rakyat, pribahasa, cerita
rakyat, puisi rakyat, nyanyian rakyat, dsb.

2. Folklor Setengah Lisan

Yang termasuk folklore setengah
lisan antara lain adalah: kepercayaan rakyat, permainan serta hiburan rakyat,
teater rakyat, tari rakyat, adat kebiasaan, upacara, pesta rakyat, dsb.

3. Folklor Bukan Lisan

Folklor jenis ini dapat dibagi
dua ke dalam dua subbagian, yaitu:

  • Folklor
    Bukan Lisan Material

Yang termasuk folklor bukan lisan
material adalah: arsitektur rakyat, seni kerajinan rakyat, pakaian serta
perhiasan tubuh, dsb.

  • Folklor
    Bukan Lisan Non Material

Yang termasuk folklor bukan lisan
non material adalah: bahasa isyarat dan music tradisional. Dongeng, legenda,
dan mite masuk ke dalam jenis cerita rakyat.

Dongeng apa sih?

Kata pepatah sih tak kenal maka
tak sayang. Ada baiknya kalau kita kenalan dulu dengan dongeng yuk! Menurut
Danadjaja (1984), dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap tidak benar
– benar terjadi. Dan cerita ini tidak terikat pada waktu dan tempat.

Pada tahun 1910, ahli folklor
dari Finlandia, Antti Aarne, menulis buku yang menguraikan jenis – jenis
folklor. Karyanya itu kemudian diterjemahkan dan diperkaya oleh Smith Thompson
dari Indiana University pada tahun 1928 dan tahun 1961.

Aarne membagi jenis dongeng
menjadi empat jenis, yaitu:

1. Dongeng Binatang

Dalam doneng jenis ini yang menjadi
tokoh dalam ceritanya adalah binatang. Cerita tentang si Kancil yang cerdik dan
licik adalah contoh dongeng binatang paling terkenal di Indonesia.

2. Dongeng Biasa

Jenis dongeng ini adalah dongeng
yang ditokohi manusia dengan suka–dukanya. Cinderella mungkin jenis paling
terkenal dalam katagori ini. Beberapa dongeng Indonesia yang setipe dengan
Cinderella adalah Ande – Ande Lumut dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bawang
Merah dan Bawang Putih, si Melati dan si Kecubung dari Jakarta, I Kesuna lan I Bawang
dari Bali. Lalu ada Timun Emas, Batu Batungkup dan banyak lagi kisah sejenis lainnya.

3. Lelucon dan Anekdot

Dongeng jenis ini melimpah ruah
jenisnya. Ada yang tentang agama, suku, seks, politik, orang sinting, dan
sebagainya.

4. Dongeng Berumus

Dongeng jenis ini mempunyai tiga
bentuk, yaitu; dongeng bertimbun banyak (berantai), dongeng untuk mempermainkan
orang, dan dongeng yang tidak memiliki akhir.

Tulisan pertama dari ketiga tentang dongeng. tulisan selanjutnya 12 manfaat mendongeng dan  9 ide untuk mendongeng 

Referensi:

James Danandjaja, (1973, Mei). Kertas Kerja Inventarisasi
dan Dokumentasi Folklore Indonesia
. Jakarta: Panitia Inventarisasi danDokumentasi
Folklore Indonesia (makalah tidak diterbitkan)

Seokanto SA (1998). Seni Bercerita Islami. Depok: Bina Mitra
Press

Kategori: literasi

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *