Luit di Salah satu kampung adat kesepuhan Banten Kidul (sumber gambar: id.wikipedia.org )
Masyarakat global dewasa ini dihantui
oleh masalah kerawanan pangan.Data FAO menunjukkan bawah 1 milyar orang
di dunia ini mengalami kelaparan.Sehingga tidak salah kalau tujuan
pertama yang ingin dicapai dalam MDGs adalah menanggulangi kemiskinan
dan kelaparan.
Kita boleh saja menarik nafas lega
karena ketika terjadi masalah krisis pangan dunia beberapa tahun lalu,
kita mampu melewatinya bahkan mampu swasembada beras.Tapi, ancaman
kelaparan selalu datang mengancam.
Setidaknya ada tiga isu besar yang
dihadapi terkait isu pangan.Isu pertama adalah jumlah penduduk yang
meningkat, tentu saja menyebabkan kebutuhan pangan yang meningkat
juga.Isu kedua adalah perubahan iklim, Perubahan iklim menjadi lebih
ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada terganggunya produksi
pangan.Isu ketiga adalah alih fungsi lahan baik untuk perumahan maupun
industry juga menyebabkan berkurangnya lahan untuk produksi pangan.
Memang kita dapat membeli beras dari
luar negeri, namun, Pasar beras dunia juga terbatas sehingga memaksa
kita harus swasembada beras berkelanjutan dan memiliki dengan cadangan
beras yang memadai.Terlebih beras masih sebagai kontributor utama
terhadap inflasi sehingga harga beras harus terkendali.
Belajar Ketahanan Pangan Pada Masyarakat Adat di Banten Selatan
Baduy Selatan, khususnya Kabupaten
Lebak, memiliki kekayaan akan masyarakat adat, Kasepuhan adat Banten
Kidul. Wilayah Kasepuhan adat Banten Kidul ini secara kasat mata dan
data versi pemerintah termasuk daerah tertinggal.Tetapi, di daerah ini
tidak pernah ada kasus kerawanan pangan.Di wilayah ini berdiri
lumbung-lumbung padi besar seperti di Citorek, Cisitu, dan Cisungsang.
Berbanding terbalik dengan kota yang masih saja menyisahkan masalah
pelik kerawanan pangan. Tidak ada salahnya kalau kita menggali kearifan
masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul dalam masalah ketahanan pangan
Ada komitmen adat turun temurun,
masyarakat di Kasepuhan adat Banten Kidul yang menanam padi, hasilnya
tidak diperbolehkan menjual hasil bumi yang berbentuk gabah atau beras
karena, perbuatan itu tabu untuk dilakukan istilah orang sana disebut ”
pamali ” sebab tanam padi diwilayah tersebut hanya diperkenankan setiap
satu tahun hanya satu kali.
Selain itu, terdapat hokum adat di
Kasepuhan adat Banten Kidul, bahwa setiap hasil panen padi masyarakat
diwajibkan untuk mengisi lumbung induk, lumbung padi ini cukup besar
yang berfungsi sebagai bahan pokok cadangan apabila masyarakatnya sedang
mengalami kekurangan pangan, selain itu setiap masyarakat yang sudah
berkeluarga diharuskan memiliki lumbung masing-masing.
“Leuit” dan kearifan
Lumbung padi disebut leuit oleh
masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul.Leuit merupakan simbul ketahanan
pangan bagi masyarakat Kasepuhan adat Banten Kidul.Padi yang dihasilkan
dari huma merupakan sumber utama bahan pangan bagi masyarakat Kasepuhan
adat Banten Kidul.
Leuit punya peran vital sebagai gudang
menyimpan gabah atau beras hasil panen.Pada saat musim paceklik
simpanan gabah itu ditumbuk untuk kemudian dijadikan pemenuhan kebutuhan
makanan sehari-hari. Setiap lima bulan ditanam padi siap dipanen dan
kemudian disimpan di lumbung/leuit.
Kepemilikan Leuit rata-rata 1 KK
mempunyai 1 leuit.Tapi tergantung jumlah lahan dan hasil panen
menjadikan 1 KK memiliki lebih dari 1 leuit.Letak leuit di lahan kosong
sekitar rumah warga.Penentuan tempat bersifat bebas, Padi yang tersimpan
bisa bertahan puluhan tahun.Dari sisi filosofi, leuit megadung makna
sebuah kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun temurun dari
generasi ke generasi melalui bahasa yang mudah dipahami. Artinya adalah
bersama akan keharusan “ngeureut jeung neundeun keur jaga ning isuk”
(menyisihkan untuk hari depan), inilah wujud tabungan yang sesungguhnya
yang telah dipraktekkan dalam waktu yang sangat lama.
Kearifan Penggunaan Lahan
Penggunanan lahan untuk menanam padi
di Kasepuhan adat Banten Kidul hanya sekali dalam setahun.Selanjutnya
lahan tersebut dipergunakan untuk menanam ikan atau sayuran, kehidupan
masyarakat ini sudah berlangsung sampai dengan saat ini, penanaman padi
yang dilakukan hanya satu kali sesuai intruksi dari tokoh masyarakat
sebagai panutan. Penanaman padi yang dilakukan ternyata sangat sinergi
dengan Program Pengendalian Hama Terpadu dimana pergiliran tanam yang
dilakukan masyarakat lebak selatan yaitu untuk memutus siklus hama yang
akan menyerang pada tanaman padi. Sehingga di Kasepuhan adat Banten
Kidul nyaris tidak pernah gagal dalam panen padi.
Kasepuhan adat Banten Kidul dimasukan
katagori daerah tertinggal.Namun demikian, mereka menyimpan kearifan dan
kazanah kekayaan ilmu pengetahuan dalam pengelolaan pertanian dan
penanganan hasil panennya, tersimbolisasi dengan leuit lumbung padi
pengamanan dan kerawanan pangan.Untuk itu kehidupan sosial masyarakat
Kasepuhan adat Banten Kidul masih patut untuk dipelajari dan dijadikan
contoh dalam mengantisipasi kekurangan dan kerawanan pangan.
Ahmad Yunus. tulisan ini dimuat di koran Satelit News, Kamis 4 April 2013

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *