Hari Minggu saya kebetulan ada janji di grand wisata Tambun Bekasi. Berangkat lah dari Tangerang jam 6 pagi menumpang commuter Line. Sampai di tambun jam 9.45 wib. Lancar jaya. Terhitung cepat daripada pakai mobil sendiri.
Sesuai janji yang disepakati jam 11 kami mulai berbincang. Dan jebret aduh duh duh. Listrik padam. Ternyata kata orang Karawang yang saya temui sehari sebelumnya juga sudah ada pemadaman listrik di daerahnya. Pizza HUT yang jadi tempat ketemuan juga tidak bisa diproduksi… Sinyal HP ikut nyungsep…
Sinyal baru ada jam 12.30, itu pun megap-megap. Beruntung dapat ojol meski harus menunggu 10 menitan bisa komunikasi. Saya pun mau pulang rencana nya numpang commuter Line lagi. Di luar stasiun tambun penumpang numpuk di loket. Saya sih masuk aja nempel e-money. 
“Pak mohon maaf commuter Line tidak bisa beroperasi. ada gangguan di aliran listrik atas. kami belum tahu sampai kapan gangguan berakhir. mungkin 1 sampai 6 jam. Kalau bapak mau nunggu silahkan. kalau mau ganti moda transportasi lain juga silahkan,” kata penjaga loket.
Gubrak! Beberapa penumpang balik badan nuker balik tiket dengan uang. 
Stasiun Tambun 
Lah saya yang terlalu santai dan ingin rebahan. Pilih rebahan dulu di musolah sampai jam 3 sore.
Ditungguin tuh gerbong commuter Line masih diam saja. Akhirnya saya pilih ganti moda transportasi lain. Menurut petugas kereta bus Transjabodetabek ada di Bekasi Timur tepatnya di bulak kapal. 
Dari stasiun numpang elf. Sampai di halte busway penumpang sudah dempet-dempetan. Sebagian besar orang dari stasiun kereta pindah moda transportasi seperti saya. Dan perjuangan pun dimulai.
Bus yang ditumpangi tipe single bukan gandeng. Kapasitas terbatas tapi dipaksa mengakut penumpang over kapasitas. Kayak ikan asin tumpuk. AC gak kerasa. Panas banget dan sesak nafas. Tubuh gak bisa bergerak saking penuhnya. Gak nyaman banget dah. Anak kecil yang gak kuat mulai nangis.
Sampai Halte Cawang UKI. Kondisinya juga padat. Beruntung busway menuju Grogolnya gak sepadat dan Setega dari Bekasi Timur. AC juga lebih terasa. Meski gak dapat tempat duduk.
Walah dampak listrik padam ini dan matinya commuter Line baru nampak jelas pas sampai Halte Grogol. Pas turun dari busway, halte sudah penuh. Turun saja sulit. Sisi kiri dan kanan sudah numpuk penumpang yang mau naik busway. Kami yang turun hanya bisa satu baris ditengah. Antri mau pindah ke arah kali deres. Pas lihat penuhnya antrian di depan Trisakti. Saya pesimis masih mau lanjut numpang busway ke kalideres. Sudah gelap penuh sesak lagi.
Halte Grogol penuh sesak dan gelap

Keluarlah dari halte. Nyari minimarket pada tutup. Lanjut nyebrang ke masjid Muhammadiyah. Shalat magrib gelap-gelapan.
Lumayan 30 menit rebahan. Kemudian saya memilih lanjut pulang naik grab sajalah. Sampai juga di rumah jam 9 malam ditengah kondisi gelap gulita. Luar biasa.
Dari perjalanan ini saya merenungkan hikmah listrik padam total dan rata seperti itu. Di masjid Muhammadiyah saya berpikir bahwa sudah selayaknya ke depan masjid-masjid tidak usah berkubah besar. Sebaiknya atap masjid diganti saja dengan panel surya. Kita perlu alternatif energi selain fosil, baik batubara maupun BBM. Setidaknya dengan cadangan energi untuk kondisi darurat dan bisa jual listrik ke PLN.
Saran yang sama saya ajukan untuk Transjakarta. Sebaiknya atap semua halte dipasang panel Surya sebagai sumber energi cadangan. Yang membuat saya tidak mau melanjutkan perjalanan dengan busway adalah kondisi halte yang gelap gulita. Tiket juga kembali manual. Nah adanya energi cadangan ini, setidaknya lampu di setiap halte bisa nyala meski listrik padam…
Categories: Jurnal

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *