Kalau Anda ke taman kupu-kupu Sukardi halaman depannya rumput dibiarkan tumbuh. Dulu ada yang menawarkan untuk pemasangan rumput sintetis tapi kami tolak. Tentu ada alasannya.

Dalam sebuah perjalanan ke Majalengka menemui salah satu konsumen saya yaitu PT Sumber hijau Farm. Di sana saya melihat peternakan sapinya, namun ada salah satu momen yang terekam cukup kuat di memori saya ketika Pak Rudi, penanggung jawab peternakan  di sana bercerita tentang awal mula kandang sapi di situ.

Beliau bercerita bahwa dulunya sebelum dibangun kandang sapi, lahan itu adalah lahan tandus bekas percetakan bata secara tradisional. Ada sumur dulunya tapi airnya kering. Lambat-laun dibangunlah peternakan, terus halaman dekat mess karyawan dan ruang tunggu tamu ditanami rumput jepang. Pengakuan beliau setelah ditanami rumput itu ternyata menyerap air hujan dan itu berdampak positif pada sumur yang dulunya kering sekarang  airnya selalu tersedia dan tidak pernah kering lagi.

Dilansir dari kompas.com rumput merupakan salah satu tanaman penyerap air. Philip Mahalu dari lembaga penelitian internasional bidang kehutanan, Cifor, mengatakan rumput bisa tumbuh di segala jenis tanah, kata Philip. Hebatnya rumput ini memiliki akar tiga meter yang memiliki daya serap tinggi. Rasanya tak sulit menyisakan lahan di rumah untuk menanam rumput untuk meningkatkan debit air di rumah.

Saya juga merasakan tahun ini meski panasnya full, sumur kami tidak pernah kekeringan meski banyak rumah yang ambil airnya di situ. Belum lagi kolam ikan lele juga mengambil air di situ. Jadi ada guna tersembunyi dari rerumputan di taman, selain sangat tertolong tanaman ficus benjamina yang tumbuh kokoh di seberang jalan. Inilah penyerap air utama dan konservasi air paling mantap.

Saat hujan rumput ini tidak becek. Meski butuh waktu untuk menyerap air hujan, tapi tidak lama. Saya sadar betul bahwa di depan taman ada banyak tetangga yang menaruh pipa sumber airnya. Ke depan akan kami tanaman rumput wangi sedangkan seberang jalan alangkah bagusnya jika ficus benjamina yang ditanam.

Begitulah cerita hari kesembilan #30harimenulismarathon jangan anggap hina rerumputan yang bergoyang paman.

Categories: Jurnal

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *