Kedua tangan hitam yang berbulu lebat itu mencekik kuat Rusdi. Kuku – kuku tajam dari makhluk itu membuat Rusdi semakin sesak. Mata peset berwarna kuning makhluk itu buas menatap Rusdi, sementara dari mulutnya menetes mitraliur. Pemandangan yang menjijikan di mata Rusdi.

Dengan santainya makhluk itu mencekik Rusdi yang sudah sesak nafas. Separuh nafas Rusdi terasa telah terbang. Jiwa Rusdi terasa dicabut paksa tinggalkan raga. Sebentar lagi Rusdi akan tamat.

Rusdi coba berontak. Dengan sekuat tenaga yang tersisa Rusdi berteriak minta tolong.

“Mas… Mas…” Satu suara terdengar di telinga Rusdi.

Rusdi membuka mata. Gelap. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling. Tak ada tangan hitam berbulu yang mencekiknya tadi. Makhluk aneh itu pun sirna dari hadapannya.

“Mas… Mas kenapa?” Tanya Mirnah, isteri Rusdi heran menyaksikan suaminya yang linglung.

“Engh…” Desah Rusdi , ia masih linglung, kekagetan begitu tergambar dari romannya, nafasnya pun memburu, peluh membasahi seluruh tubuhnya.

“Kenapa? Mas, mimpi buruk lagi?” Tanya Mirna lagi.

“Iya. Mimpi buruk lagi.” Jawab Rusdi dengan suara bergetar. Ia masih shock dengan mimpi tadi. “Makhluk itu datang lagi. Ia seperti mau mencabut nyawaku.” Lanjut Rusdi dengan suara memburu. Ketakutan begitu kentara dari mimik wajahnya.

“Enggak usah dipikirin. Toh itu Cuma mimpi. Cuma bunga tidur.” Tukas Mirnah sambil menutupi tubuhnya kembali dengan selimut.

Rusdi masih duduk termenung. Lamunannya masih melekat pada mimpi tadi. Ia jadi tak bisa lagi memejamkan mata. Ada ketakutan yang menyelinap dalam benaknya, kalau ia tidur bakal jumpa lagi dengan makhluk anah itu.

***

Pagi ini muka rusdi tampak pucat. Kelelahan dan mata merah sayu kurang tidur tampak dari wajahnya. Mimpi semalam memang membuatnya ketakutan. Sudah berkali – kali ia mimpi buruk seperti itu, mimpi didatangi makhluk aneh yang ingin mengeksekusinya.

Kerja hari ini kurang semangat. Sudah berkali – kali Rusdi menguap. Dengan sekuat tenaga ia mencoba untuk tidak tidur. Ia takut kalau ketiduran makhluk aneh itu akan datang lagi menerornya.

Namun, sepertinya ia menghadapi tembok kokoh tak tertembus. Usahanya sia – sia belaka. Rasa kantuknya tak tertahankan lagi. Matanya terpejam membuka pintu dunia mimpi.

Rusdi membuka mata. Ia nyaris tak percaya, di mana kini ia? Saat ini ia sudah berdiri di atap sebuah gedung pencakar langit.

“Hey Rusdi, mau lari ke mana kau?” Sapa makhluk aneh itu yang telah terbang di udara menyambut kedatangan Rusdi.

Mata Rusdi terbelalak menyaksikan makhluk aneh itu sudah ada di atas kepalanya, makhluk yang bagian perutnya bersinar seperti kunang – kunang. Sekejap, ketakutan langsung menjalar ke seluruh tubuh Rusdi.

“Kau… “ Kata Rusdi tercekat. “Kenapa kau selalu menerorku? Apa salahku padamu?” Tanya Rusdi dengan suara bergetar.

“Kau Tanya kenapa aku selalu menerormu? Kau Tanya apa salahmu padaku? Makhluk macam apa kau ini? Kau telah memfitnahku dengan sangat kejam, dan kau merasa tak bersalah?” Ujar makhluk itu sambil menusukkan tangannya ke tubuh Rusdi.

“Jangaaaaaaaaaaaan…” Teriak Rusdi histeris.

Tok… Tok… Suara ketukan pintu terdengar di telinga Rusdi. Rusdi terjaga dari tidurnya. Segera ia membuka mata, ia kembali ke dunia.

Seorang lelaki masuk keruangan kerja Rusdi. “Bapak, kenapa tadi teriak sangat keras?” Tanya lelaki itu.

“Tidak apa – apa, hanya mimpi!” Tukas Rusdi. “ Ada apa kau kemari?”

Lelaki tadi tersenyum. “Begini, Pak. Saya kan kemarin habis kunjungan dinas ke Makassar . Ini bagian bapak. Biasa.” Kata lelaki tadi sambil menyodorkan amplop.

“Bagus. Begitulah seharusnya. Kau sudah mengerti.” Ujar Rusdi senang denga apa yang dilakukan bawahannya itu.

Di tempat kerja Rusdi itu memang sudah jadi tradisi merekayasa perjalanan dinas. Mereka biasanya merekayasa dengan tiket pesawat, bukti pembayaran palsu yang dilampirkan sebagai bukti ke dalam laporan perjalanan dinas. Dan sisa dari uang jalan dari kecurangan itu masuk ke kantong pribadi.

***

Dunia tiba – tiba menghitam. Gelap pekat memeluk bumi, lalu seberkas cahaya dari bola putih redup menjadi pelita di keremangan itu.

Rusdi tersentak kaget. Ia terdampar sendiri di sebuah taman luas tanpa tepi. Sunyi mencekam suasananya.

Ia mendengar suara aneh. Suara seperti nyamuk yang menggiung di telinga. Hanya saja jumlahnya lebih banyak.

Jantung Rusdi hampir berhenti berdetak menyaksikan kawanan kunang – kunang dari segala penjuru terbang ke arahnya. Darah Rusdi terkesiap, tatapannya nanar, ketakutan telah menjalar di seluruh tubuhnya. Kunang – kunang itu dipimpin oleh makhluk yang telah menerornya selama ini.

“Tungguuu… Tungguuuu… Jangan serang aku dulu. Aku mau bertanya pada kalian.” Pinta Rusdi dengan suara basah mengiba. Sambil jongkok ia mendekap erat lututnya yang gemetaran.

Makhluk – makhluk itu pun urung menyerang Rusdi. “Kau mau bertanya apa?” Kata pemimpin kunang – kunang itu seraya mendongakkan wajah Rusdi dengan tangannya.

“Kata apa dariku yang telah memfitnah kalian? Dan kapan aku melakukannya?” Tanya Rusdi dengan suara bergetar. Kadar ketakutannya pada makhluk itu sama sekali tak berkurang walaupun sering bersua.

“Kau tak tahu kata yang pernah kau ucapkan yang memfitnah kami dan kapan kau ucapkan itu?” Tanya makhluk aneh itu dengan suara menggelegar.

“Iya. Aku sungguh tak tahu!” Jwab Rusdi tak mengerti.

“Kau tahu Limin? Mantan bawahanmu dulu?”

Rusdi mengangguk. “Iya. Aku tahu.” Sahutnya.

Limin adalan bawahan Rusdi yang paling rese, menurutnya. Sosok yang sederhana, lugu dan jujur, namun berani. Limin mati dibunuh karena hendak membongkar dan melaporkan praktek manipulasi perjalanan dinas dan korupsi yang sering dilakukan oleh pegawai di departemen tempatnya bekerja.

“Kau ingat apa yang dulu kau katakan saat ia menolak melakukan rekayasa laporan perjalanan dinas? Saat itu dengan tenang dan tanpa merasa berdosa kau bilang, ‘Hanya kunang – kunang yang tak bisa lakukan rekayasa. Karena saat ia terbang, ia bersinar. Jadi ia tak bisa bohong. Kita ini bukan kuang – kunang. Kau mau seperti kunang – kunang? terbang dengan bodoh tanpa mau untung!’ Kau masih ingat percakapan itu.?” Tanya makhluk besar itu menohok Rusdi.

Memori Rusdi berputar mengulang perbincangan itu, sepuluh tahun silam. Rusdi menganggukkan kepala, pertanda mengiyakan. “Tapi, saat itu aku terpaksa. Modus manipulasi itu telah menjadi tradisi di tempatku bekerja. Pertama kali aku melakukan itu, itu pun karena paksaan dari atasan.” Kilah Rusdi.

“Terpaksa katamu? Kau menjadikan uang haram sebagai penghasilan untuk menafkahi keluargamu. Tak tahukah kau jikalau uang itu tak jadi danging? Kini makanan yang telah kau dan keluargamu makan dari uang haram itu telah menjadi penyakit. Wajah isterimu yang penuh jerawat, anakmu yang bisulan, dan kulit perutmu yang terbudur gendut membuat malu ikat pinggang, adalah penyakit dari makanan yang berasal dari uang haram.” Ujar makhluk itu membuat Rusdi bergidik. “Dan kau dengan posisimu saat ini, masih bilang terpaksa. Bukankah kau seharusnya dapat mencegah kecurangan yang membuat uang rakyat raib? Apa yang kau lakukan? Kau malah ikut menikmati kucuran uang haram itu dan melegalkan kecurangan yang semakin menjadi!” Lanjut makhluk itu menohok KO Rusdi yang kini menduduki jabatan inspektorat.

Rusdi tak lagi bisa bersuara, lidahnya terasa kelu. Ia tak dapat mengelak dari kenyataan kebobrokan moralnya yang dipaparkan makhluk itu.

“Kau harus dihukum!” Vonis makhluk itu.

Tanpa ada aba – aba lagi, pasukan kunang – kunang itu langsung menyerbu Rusdi.

“Tidaaak… Tidaaaak… “ Teriak Rusdi mengiba. Jeritannya menyayat.

“Pak… Pak… Bangun, Pak.”

Suara asing terdengar mampir di telinga Rusdi. Rusdi membuka mata. Terang. “Aku selamat!!” Teriaknya senang tanpa memperdulikan keadaan sekeliling.

“Bapak kenapa?” Tanya orang yang ada di samping Rusdi heran. Semua mata yang hadir pada seminar itu pun menatap Rusdi heran. Rusdi segera sadar, ia pias. Rasanya malu.

***

“Besok kita akan kunjungan dinas ke Manado . Biasa, kita mampir ke hotel, menggasak betis Manado yang mulus.” Kata Sopiyan, kolega Rusdi di departemen gemuk uang itu.

“Asyik. Kunjungan dinas. Uang masuk kantong. Betis mulus.” Sahut Rusdi girang. Sambil bersenandung, ia keluar ruangannya.

Sopiyan jadi heran dengan sikap Rusdi yang tak seperti biasanya.

“Asyik – asyik… Kunjungan dinas. Uang masuk kantong. Betis Manado mulus… Asyik – Asyik…” Senandung Rusdi girang sambil menari – nari kayak orang gila. Tanpa malu, ia terus menyanyi dan menari. Kelakuannya seperti orang tak waras. Semua mata tertuju padanya yang mendadak jadi aneh.

***

Departemen tempat Rusdi kerja jadi heboh. Orang – orang berkasak – kusuk tentang kelakuan Rusdi yang kemarin berlagak gila dan membuat onar. Sementara itu, Rusdi divonis oleh dokter menderita Schizofrenia Paranoid.

Categories: Cerpen

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *