Kekusutan terpampang di wajah Farah. Tak
ada lagi keceriaan dan kelincahan yang tergambar di wajahnya. Ia masih
kepikiran dengan peristiwa kemarin. Waktu ia dan kawan – kawan kuliahnya mengadakan
sosialisasi ke sebuah kampung di desa ‘super’ miskin tentang makanan bergizi.
Dan kebetulan, ia menjadi penyuluh untuk program itu.

Peristiwa unik yang mengejutkan. Tapi,
sudah cukup untuk membuatnya kapok dan ogah jadi penyuluh untuk program serupa.
Bagaimana tidak, awalnya meyakinkan, tapi ternyata akhirnya mengecewakan.
Kemarin, dengan semangat empat lima
dan suara nyaring ia bicara di depan ibu – ibu desa itu tentang makanan bergizi.
Di akhir pemaparannya ia berkata,

“Bagaimana ibu – ibu, sudah tahu kan makanan yang bergizi
itu apa saja. Nah, cobalah menyediakannya untuk keluarga anda. Agar keluarga
anda sehat dan cerdas.”

“Mbak, kami bukannya tidak tahu mana
makanan yang bergizi dan mana yang bukan. Kami hanya tak sanggup
menyediakannya. Kami tak punya duit untuk beli makanan gituan yang harganya
selangit.” Keluh seorang ibu muda yang sedang hamil menanggapi perkataan Farah.

“Iya. Benar itu.” Suara Ibu yang lain
menimpali. Suasana ruangan pun menjadi ramai.

“Lebih baik bila Mbak – Mbak sering –
sering saja bikin program sembako murah di sini.” Saran Ibu muda yang sedang
hamil itu.

Farah tersentak mendapati protes ibu – ibu
itu. Tak ia sangka bakalan mendapatkan keluhan semacam itu. Lidahnya kelu untuk
berkata. Apa yang telah ia paparkan tadi seakan menjadi tak berarti. Rasanya
malu menyampaikan hal yang menjadi tak berguna dan menyinggung kemampuan
finansial mereka.

Berarti
program penyuluhan  makanan bergizi ini
hanya merupakan sebuah menara gading yang indah namun tak tersentuh warga
,
batin Farah. Ogah deh jadi penyuluh buat
acara gituan lagi. Aku udah kapok,
gerutunya dalam hati.

***

Sore ini wajah Farah masih cemberut.
Kejadian satu minggu yang lalu di kampung ‘super’ miskin itu masih membekas di
benaknya.

“Hey, cemberut aje. Entar cantiknya hilang
loh.” Goda Faris sambil menepuk punggung Farah.

“Abang ini ngagetin aja. Orang lagi bete
juga, digangguin terus.”

“Lagi bete yah. Pantes mukanya ditekuk
terus. Emangnya kamu bete kenapa?”

Farah Pun menceritakan kejadian waktu
penyuluhan di kampung ‘super’ miskin itu. Bagaimana ia yang dengan semangatnya
memaparkan tentang makanan bergizi. Malah harus gigit jari karena diprotes sama
ibu – ibu soal ketidakmampuan finansial mereka untuk menyediakan daftar makanan
bergizi yang dipaparkan Farah. Farah merasa malu. Sangat malu dengan kejadian itu.
Siapa yang enggak sebel mendapatkan hasil akhir kayak gitu.

Faris tertawa terkekeh mendengar cerita Farah.
Baginya itu adalah kejadian lucu yang pernah didengarnya dan membuatnya
tertawa.

Farah mendengus kesal melihat tingkah Abangnya
yang malah menertawakannya. Farah sebel. Kesel. Diceritai, eh malah ditawain.
“Ih, Abang jahat.”

Faris menahan ketawanya. “Ee, gimana kalau
kamu besok ikut kakak jalan – jalan?” Faris melontarkan ajakan pada Farah.

“Jalan – jalan?” Tanya Farah bimbang.

“Iya, jalan – jalan. Kamu lagi bete kan? Nah, biar gak bete
lagi kita jalan – jalan.”

“Kemana?”

“Pokoknya seru. Dijamin. Kamu ikut ya!”

“Iya, deh.” Jawab Farah.

***

“Kak, udah deket belum kampungnya?” Tanya Farah
dengan nafas tersenggal. Beban berat dipunggungnya terus menekan. Tas ranselnya
semakin berat, rasanya seperti memikul gunung yang ia rasakan. Apa lagi
jalannya yang menantang, naik turun bukit.

“Eh, kenapa? Capek ya?” Kata Faris dengan
suara menyindir. “Tinggal melewati bukit yang di depan.” Lanjutnya.

Farah mendesah panjang. Ia mengumpulkan
semua tenaga yang masih tersisa. Di hadapannya sebuah bukit menjulang kokoh.

Fhuuhh,
kok seperti jejak petualang.

 Perjalanan kali ini membuat seluruh badan Farah
terasa sakit dan pegal. Sesampainya di rumah temannya Faris, ia langsung
selonjoran melepas semua rasa lelah dan sakitnya. Kakinya memar. Buah dari
jalan – jalan bareng Faris.

Ini
sih, jalan – jalan beneran, jalan pake kaki doang
, guman Farah dalam hati. Tak
ia sangka, Faris, Abang satu – satunya itu akan sekejam ini menyiksanya,
apalagi mereka akan berada di kampung ini selama dua hari.

“Faris, terima kasih sudah mau datang
kemari.” Ucap Nurmala, sang pemilik rumah yang juga teman Faris semasa kuliah,
berterimakasih atas kedatangan Faris dan Farah ke kampungnya.

“Aku datang atas permintaan sahabatku. Tak
perlu kau ucapkan terima kasih atas kedatanganku. Aku akan membantumu
sebisaku.” Jawab Faris.

“Ris, seperti yang aku kabarkan padamu
tentang kejadian di kampung ini yang sempat bikin geger, kita akan mengalami
kesulitan untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang hidup bersih! Kau sudah
siap?! Di sini sangat berbeda dengan di kota!”

 “Kak,
emangnya apa yang terjadi di kampung ini?” Tanya Farah penasaran kepada
abangnya yang berprofesi sebagai dokter umum di kotanya..

“Dua minggu yang lalu, di kampung ini
terjadi musibah muntaber. Korbannya banyak sekali, hampir seluruh warga di sini
kena muntaber. Dan ada yang meninggal. Itu semua karena pola hidup warganya
yang sangat jauh dari kata sehat. Termasuk prilaku buang hajat sembarangan.
Mereka sangat susah untuk dinasehati. Dan kebanyakan warga sini sedikit sekali
yang punya wc pribadi, untuk mengatakan tidak ada.”

Farah mengangguk paham mendengar penuturan
Nurmala. Sekarang ia berada di salah satu kabupaten miskin, ia tahu kondisi di
sini sangat berbeda dengan ibu kota tempatnya tinggal. Dalam perjalanan tadi,
ia sekilas melihat kehidupan warganya. Bila dbandingkan dengan kampung yang
minggu lalu dikunjunginya, kampung ini jauh lebih miskin. 

“Apa yang akan kamu lakukan, Ris?” Tanya
Nurmala.

“Yang akan kulakukan pertama kali…
penyuluhan!” Jawab Faris.

“Penyuluhan?!” Suara Nurmala terdengar
kaget. “Aku sudah melakukannya. Berkali – kali. Namun, hasilnya percuma.”

Farah pun tersentak mendengar jawaban dari
Abangnya itu. Penyuluhan, itu adalah hal yang sia – sia untuk dilakukan dengan kondisi
finansial warga kampung sini yang lemah dan pemahaman kesehatan yang alit.
Terbayang di kepalanya kejadian satu minggu yang lalu. Mungkin, kejadian itu
akan terulang lagi.

“Ya. Penyuluhan hal pertama yang akan aku
lakukan! Selanjutnya, kalian lihat saja!” Tukas Faris tenang.

Farah dan Nurmala hanya bisa mereka – reka
apa yang nanti akan terjadi. Mereka bingung dengan rencana apa yang akan Faris
lakukan.

***

Semua warga kampung Sugih Waras telah
berkumpul di balai desa. Mereka dikumpulkan oleh Nurmala, dokter puskesmas yang
bekerja sama dengan aparat desa untuk diberikan penyuluhan.

“Bang, katanya mau ngasih penyuluhan? Kok
Cuma bawa spidol, kertas karton, ama bendera? Aneh!” Tanya Farah bingung dengan
apa yang dibawa Faris untuk penyuluhan. Tak ada leaflet atau brosur – brosur
kesehatan seperti layaknya acara penyuluhan.

“Heran ya? Nanti kamu juga tahu sendiri!”
Jawab Faris ringan sambil berlalu masuk ke balai desa, tempat para warga telah berkumpul.

Setelah mengucapkan salam, mengenalkan
diri, serta  mengucapkan kata pembuka,
Faris langsung menggambar denah kampung.

“Nah, bapak – bapak dan ibu – ibu, gambar
ini kita anggap sebagai peta kampung Sugih Waras ini. Ada kebun, sawah, kali, lapangan, dan
lainnya. Sekarang saya mau tanya sama bapak dan ibu yang ada di sini satu
persatu.”

Faris menunjuk seorang bapak yang berkumis
baplang. “Bapak, kalau buang hajat di mana?” Tanya Faris.

“Di sawah.” Jawab Bapak yang berkumis
baplang itu.

“Di sawah. Kita tandain gambarnya.” Kata
Faris sambil menandai peta itu. Kemudian ia bertanya kepada warga yang lain.

“Di kali.” Jawab Seorang kakek.

“Di kebun.”

“Di empang.”

“Di lapangan…”

Para
warga telah selesai di tanyai satu per satu oleh Faris. Peta yang di gambar
tadi telah penuh oleh tanda silang yang menandakan tempat warga buang hajat.

“Wah, kalau kita ngeliat peta itu, berarti
kampung kita penuh dengan kotoran, dong!” Celetuk seorang warga.

“Iya, ya.” Jawab warga yang lain.

Ruangan itu jadi ramai dengan komentar
para warga.

Faris mengeluarkan bendera – bendera kecil
yang dibawanya. “Bapak – bapak dan ibu – ibu, sekarang kita akan menandai
tempat bapak – bapak dan ibu – ibu buang hajat dengan bendera ini.” Kata Faris
membuyarkan komentar – komentar warga.

Para
warga itu mengambil mendera dan pergi menandai tempat mereka buang hajat.
Setelah semuanya selesai, orang – orang itu melihat banyak bendera yang
menancap di sekelilingnya. Menandakan kalau di sana ada kotoran.

“Wah, ternyata di sana – sini banyak kotoran.” Celetuk Seorang
warga berkomentar dengan apa yang dilihatnya.

“Kampung kita penuh dengan tinja.”
Komentar yang lain.

 “Pantes, muntaber mewabah. Ini dia
masalahnya.” Komentar Pak Kades menimpali komentar warga yang lain.

Farah dan Nurmala yang menyaksikan itu
bergidik geli. Rasanya jijik berada di kampung itu.

Pak Kades mendekati Faris. “Kalau melihat
seperti ini, apa yang harus kita lakukan, Pak?” Tanya Pak Kades.

“Buat Wc umum.”

“Kalau buat Wc umum, kami tak ada
dananya!” Tukas Pak Kades gamang.

“Kita buat Wc dari bahan – bahan yang ada
saja. Bisa dari bekas bangunan atau yang lainnya.”

“Emang bisa?” Tanya Pak Kades penasaran.

“Bisa. Pastinya bisa kalau kita yakin bisa
dan mencobanya.”

“Pak, saya ada bilik yang enggak kepake!”

“Saya, ada semen bekas kemarin bangun
rumah.”

“Saya ada dirigen besar.”

“Saya ada genteng.”

“Saya punya Parolen.”

Para
warga kampung Sugih Waras memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk
pembangunan Wc umum. Barang – barang itu sudah terkumpul. Faris memberikan
pengarah kepada para warga tentang Wc yang akan mereka buat.

***

Mentari telah keluar dari
persembunyiaanya. Membuka pagi hari yang asri dengan suara desiran angin dan
kicauan burung.

Faris dan Farah sudah bersiap untuk pulang
kembali ke rumahnya di Serpong. Sesudah dua hari mereka ada di kampong Sugih
Waras, memenuhi permintaan Nurmala untuk membantunya mengatasi masalah warga
yang buang hajat sembarangan.

Kini masalah itu telah usai. Di dekat kali
telah berdiri Wc dengan sepuluh pintu. Wc sederhana yang dindingnya terbuat
dari bilik dengan lubang dirigen sebagai klosetnya. Tempat airnya adalah
dirigen yang atasnya telah dipotong untuk kloset. Air mengalir dari kali lewat pipa
paralon yang terpasang. Sangat sederhana, tapi sudah memecahkan masalah yang
ada.

Setelah pamitan dengan warga, Faris dan Farah
meninggalkan kampong Sugih Waras. Di wajah mereka terpampang seulas senyum
kebahagiaan.

“Bang, dapat dari mana ide kemarin itu?
Hebat banget!” Tanya Farah pada Abangnya.

Faris tersenyum mendengar pertanyaan
Adiknya itu. “Dari kamu! Dari cerita kamu kemarin. Dari situ Abang bisa ambil
pelajaran, yang kita butuhkan bukan hanya semangat, tapi juga pengetahuan
tentang budaya dan keadaan sosial masyarakatnya, serta alternative apa yang
bisa kita lakukan untuk mereka.”  

                                                                                   

     

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *