Keremangan
dan keredupan itu tiba-tiba saja menyergap Farah dalam keterdesakkan, ketika ia
berbulat tekad untuk tetap pada pendiriannya.

“Apa
sih maumu? Aku tak habis pikir dengan keputusanmu?!” tanya Lisa menggelegar di   telinga Farah.

“Aku
hanya ingin mengabdi,”

“Mengabdi?
Kau membuang kesempatan emas jadi dokter, hanya karena kau ingin jadi guru. Dan
sekarang, setelah  lulus kuliah kau  ingin 
jadi  guru di  pedalaman? Kau sungguh aneh!”

“Kak,
aku mohon. Izinkan aku ke sana. Di sana kekurangan tenaga pengajar. Aku
lebih   dibutuhkan di sana.” Kata Farah
memelas.

Lisa
menatap Farah heran. Ia tak habis pikir dengan keputusan adik bungsunya itu.
Hatinya mangkel dengan sikap si bungsu, yang sering bertolak belakang
dengan  keinginannya.  Apalagi  
ia kakak tertua yang berperan sebagai kepala keluarga semenjak ayah
mereka meninggal lima tahun silam, pengambil keputusan dalam masalah adik –
adiknya. Dan kini, adik bungsunya ingin minta izin pergi ke pedalamam untuk
mukim dan kerja di sana.

Lisa
menghela nafas panjang. Ia tak ingin meluluskan permintaan itu. Tapi, ia tahu
tekad adiknya bulat dan kuat. “Terserah kau lah!  Kau sudah dewasa. Kakak enggak mau ngurusin
kamu lagi!”

*

Gadis
berjilbab hijau tua itu berjalan merunduk menerjang pagi berselimut dingin dan
halimun.   Ia teringat  percakapan dengan kakaknya setahun silam. Ia
tahu kakak tertuanya itu kecewa, juga kakak – kakaknya yang lain, yang telah
menampung dan membiayai hidupnya selepas kepergian   ayah bunda. Semua itu karena ia lebih
memilih jadi seorang guru ketimbang jadi dokter dengan   beasiswa di tangan, apalagi memilih mengajar
di pedalaman. Tapi, itu adalah jalan kehidupan yang dipilihnya, jalan
perjuangan menggapai asa dan citanya.

Ia
terus melangkah maju. Jalan di depannya naik turun, kanan hutan lebat, kiri
samudera Hindia. Sekolah yang ditujunya sekitar dua kilo lagi. Ia kini
melangkah di ujung barat pulau Jawa,  
merangkai kisah hidupnya dalam menggapai asa menebar kalam ilmu pada
anak bangsa. Ia   hanya ingin anak
bangsa  ini tak selalu menjadi bodoh dan
tak lagi jadi kuli di negeri sendiri.

Setahun
sudah ia mukim di sana, mengontrak rumah bilik sederhana di tepi pantai. Hari –
harinya ia dedikasikan untuk dunia pendidikan. Pagi mengajar di SMP negeri.
Sorenya mengajar   baca tulis anak – anak
kampung. Sisa waktu luangnya ia isi dengan menulis. Ia merasa   ketenangan dan kedamaian tempatnya kini
tinggal, membuatnya mencintai dunia kata.

Ia
sarjana pendidikan lulusan terbaik universitas ternama di ibukota yang kini mengabdi
sebagai   guru Bantu. Profesi yang tak
menjanjikan. Menahan pedihnya susah nafkah di tengah landaan   arus materi. Digaji seadanya, kadang dengan
beras, ikan, atau kayu bakar.

Malah
lebih sering mengencangkan ikat pinggang. Namun ia tak mengeluh. Ia sadari itu
sebagai pajak yang harus dibayarnya dalam langkah perjalanan hidupnya.

Dan…

“Bu
Guru…” panggilan itu begitu menggelorakan jiwanya. Betapa kata itu
menggairahkan hidupnya untuk senantiasa  
mendorong   kakinya   melangkah  
menapaki jalan  terjal  berliku, 
merambah dunia yang penuh onak, atau bahkan mendaki gunung cadas yang
curam.

Wajah
– wajah purnama dengan senyum sang surya yang begitu antusias menyerap ilmu
di   tengah keterbatasaan itu, telah
memberinya sumber energi yang setiap saat dapat menyulut api semangatnya untuk
tetap menebar kalam – kalam ilmu.

*

Malam
menjelang. Tubuhnya terasa lemas. Belum sejumput makanan pun yang masuk
dan  mengganjal lapar di perutnya. Baru
tegukan air minum yang membanjiri lambung. Energinya terkuras habis hari ini.

Ia
memejamkan mata. Membawanya memasuki pustaka luar biasa luasnya. Sebuah pustaka
di   dalam taman hati. Dan si Putih,
gadis penjaga taman itu telah menyambut kedatangannya.

“Sudah
sebulan ini kau selalu datang kemari.”

“Iya.
Hanya ketenangan hati yang purna bisa membawaku kemari. Gerbangnya terbuka oleh
ketulusan,” jawab Farah sambil berjalan menuju batang kayu tempat duduk.

“Kau
masih sanggup bertahan dengan semua ini?”

“Masih.
Di sini aku mendapatkan ketenangan dan kedamaian jiwa yang sebelumnya tak
pernah   aku rasakan.”

Si
Putih berjalan mendekati Farah. Ditatapnya tajam gadis yang ada di hadapannya.
“Ceritakan padaku awal mula kau mau jadi seorang guru!” pinta si Putih.

Farah
menerawang ke langit biru jernih. Mulutnya terbuka dan mulai berkata, “Siang
sepulang sekolah di bis itu…” 

*

“Kenapa
kau  terus melongok ke bukuku?” Tanya
Farah jengkel pada anak kecil di sampingnya.

“Bukunya
bagus yah, Kak?”

Eh,
nih bocah, ditanya malah balik Tanya, gumannya keki dalam hati. “Emangnya
kenapa?”

“Kalau
saya punya duit, saya  juga mau koleksi
buku – buku bermutu, biar pinter,”

“Kamu
sekolah?” Tanya Elah agak penasaran dengan lelaki penjual makanan kecil di
sampingnya itu.

“Tidak!
Saya tidak sekolah sekarang. Saya cuma sampai kelas dua SD.  Orang tua saya tidak   sanggup ngebiayainya,”

“Kamu
suka baca?”

“Suka!
Saya sangat suka baca. Apa saja saya baca buat nambah pengetahuan. Buku
kan   gerbangnya pengetahuan. Ah, andai
saja ada yang mau mengajari saya layaknya para guru di   sekolah, saya pasti sudah tambah pinter!”
kata anak itu melemah, sesaat ia terdiam. “Kak,   kemajuan suatu bangsa itu ditentukan oleh
tingkat pendidikan warganya kan?” Tanya anak itu membuat Farah terperangah.

*

Hujan
rintik-rintik turun perlahan membuat sore itu memburamkan suasana kelas darurat
di bawah jembatan tol ibu kota yang bising menyamarkan keluh Yudia.

“Lihat
mereka! Kasihan mereka. Mereka juga sama seperti kita, anak bangsa ini yang
berhak medapatkan pendidikan. Tapi, di usia sekecil itu mereka harus memecah
karang dengan tangan mungilnya,” kata Yudia sedih.

Farah
mendesah berat  menyaksikan pemandangan
asing di depan matanya. Anak – anak kecil usia sekolah yang baru berdatang ke
kelas darurat di bawah jembatan, mereka baru saja usai  mencari uang, mereka juga ada yang masih
menyandang kecekan tutup limun, gitar, kaleng – kaleng tempat menggapit uang.
Seperti burung yang kembali ke sarangnya.

“Sedangkan
kita masih begitu bebasnya melenggang ke sekolah dengan duit ortu, tanpa
sedikit pun merasa membebani mereka, ataupun merasa malu pada mereka yang
bernasib kurang  beruntung,”   lanjut Yudia.

*

“Karena
ocehan bocah di bis itu, dan anak – anak jalanan itu?” terka si Putih.

“He’eh.
Bocah kecil di bis itu membuka mataku. Dan anak – anak  jalanan yang dulu pernah   kuajar merengkuh hatiku untuk jadi pendidik
buat mereka,”

“Dan
kau pun merelakan beasiswa jadi dokter melayang dari tanganmu?!”

Farah
mengangkat bahunya. “Seperti itulah… Ada dunia baru yang lebih menarik
perhatianku, dari sekedar gelar prestise
jadi dokter.”

“Dan
juga celaan dari kakak – kakakmu yang kesemuanya dokter?!”

“Kau
sudah tahu itu.”

 “Kau sungguh aneh! Negeri ini hendak karam
oleh tangan – tangan kotor pemimpinnya, dan kau masih mau mengabdi, menyangga
struktur retak negeri kumpulan bedebah ini,”

“Tak
ada yang aneh!” Farah mencoba menyanggah.

”Kau
tahu, putih? Anak – anak bangsa ini seperti batu intan yang sejatinya bagus,
tapi ia tak tersentuh apalagi terolah dengan baik, ia hanya jadi  batu jalanan biasa yang tak seorang pun mau
memicingkan mata padanya,” ujar Farah seraya menatap orang yang berdiri di
depannya itu, sesaat ia terdiam untuk kemudian melanjutkan perkataannya, “Ada
sebuah cerita tentang seorang petani yang menemukan telur elang. Petani itu
memungutnya untuk dimasak. Tapi, melihat 
bentuknya yang bagus, ia jadi sungkan. Akhirnya, telur elang itu ia
eramkan dengan telur ayam. Sampai akhirnya telur elang itu menetas bersama
telur – telur ayam. Karena tinggal dan hidup dengan ayam, sang elang dibesarkan
dan didik untuk  jadi ayam. Hingga akhir  hayatnya, sang 
elang hidup sebagai seekor ayam, tak pernah ia gunakan sayapnya yang
kokoh itu untuk terbang jelajahi angkasa, tak juga ia gunakan cakarnya yang
kekar itu untuk menerkam buruannya, tak  
ia gunakan juga paruhnya yang kuat dan tajam itu untuk mengoyak
mangsanya,”

“Kau
mengibaratkan anak bangsa ini seperti elang yang dibesarkan oleh ayam dan didik
oleh   keluarga ayam hingga jadi ayam. Tak
pernah dilatih dan menggunakan potensi yang dimilikinya?”

“Seperti
itu. Padahal kemeriahan peradaban suatu bangsa itu memang ditentukan oleh  tingkat 
pendidikan masyarakatnya.”

“Kau
curhat?” Tanya Putih baru  tersadar   rupanya ia.

“Iya.
Aku curhat. Bukannya   kaulah tempat curhatku
selama ini?”

“Iya.
Iya. Kau mau katakan apa lagi, Farah?”

“Kau
tahu Kasim Arifin, Putih? Aku ingin mengabdi seperti ia yang digambarkan dalam
pusinya Taufiq Ismail!”

“Tidak!
Aku tak tahu. Seperti apa orang itu sampai kau pun ingin seperti ia?”

“Kasim
Arifin adalah mahasiswa tingkat akhir IPB yang pada tahun 1964 pergi ke pulau
Seram untuk tugas membina masyarakat tani di sana. Tapi, ia menghilang lima
belas tahun lamanya.

“Di
Waimital, ia jadi petani. Ia menyemai benih padi, orang – orang menyemai benih
padi. Ia membenamkan pupuk di bumi, orang – orang ikut membenamkan pupuk. ia
menggariskan strategi irigasi, orang – orang menggali tali irigasi. Ia mengukur
klimatologi hujan, orang – orang menampung air hujan. Ia membesarkan anak
cengkeh, orang desa panen cengkeh. Ia meransum 
gizi sapi Bali, orang – orang membesarkan sapi Bali. Ia mengukur cuaca
musim kemarau, orang – orang waspada musim kemarau.

“Ia
menabung kerja – kerjanya dalam sunyi yang panjang. Menumpuknya hingga jadi
gunungan karya. Di Waimital ia mencetak harapan. Tanpa mesin – mesin, tanpa
anggaran belanja. Ia merobohkan kolom gaji 
dan karir birokrasi.

“Tahun
1979, Ia diwisuda. Ia terharu karena penghargaan almamaternya, tapi pada
hakikatnya ia tak memerlukan gelar akademik. Mahasiwa – mahasiswa IPB
menggerubunginya dan   mengaguminya
sebagai teladan keikhlasan pengalaman ilmu pertanian di pedesaan. Berbagai   tawaran pekerjaan disampaikan kepadanya,
tapi ia kembali lagi ke Waimital usai wisuda. Baru setelah itu ia menerima
pekerjaan sebagai dosen di tanah kelahirannya, Aceh,”

“Kau
ingin seperti ia?” Tanya si Putih menggoda.

“Aku
ingin hidupku berarti dan bermakna bagi orang lain. Aku ingin  menjadi pahlawan tanpa  nama, orang yang hadirnya tak diperhatikan,
tapi kepergiannya begitu dirindukan. Kita tak  
menjadi apa dalam masyarakat, tapi apa yang bisa kita persembahkan buat
mereka…” Farah tergugu, kemudian ia melanjutkan kata-katanya ”bukan sekedar
gelar tanpa prestasi nyata. Piala kejayaan suatu bangsa terus bergulir, mungkin
saat ini bangsa ini sedang berada di titik nadir,   tapi nanti pasti akan dapat merebut piala kejayaannya.
Walaupun saat kejayaan itu bukan sekarang. Tapi, setidaknya aku sudah
mendekatkan ke sana dengan membuka mata anak – anak bangsa ini melihat dunia.”

“Wah,
kau semakin dewasa yah! Kau masih ingin di sini? Aku mau menambah koleksi buku di
perpustakaan ini,”

“Iya.
Aku mau membaca ilmu dan merangkai kata di sini. Kau pergi saja! Nanti aku
tutup   taman ini sendiri.”

*

Bertahun
ia yang telah pergi kini kembali. Para kakaknya sudah menyambutnya kembali.

“Apa
yang kau dapat di sana? Susah harta, susah jabatan. Lihat aku! Aku sudah jadi
direktur di   rumah sakit?!” Tanya Lisa
sinis.

 “Kau sok idealis dengan menjadi relawan. Lihat
dirimu! Kau miskin. Sedangkan aku sudah punya klinik sendiri sekarang,” sambut
Gani, kakaknya yang ketiga.

“Kau
semakin dusun. Bodoh dan tolol. Yang kau cari cuma mimpi kosong. Kau hanya
menabung penyakit TBC. Lihatlah kami semua telah sukses. Aku kini jadi dokter
spesialis di   rumah sakit ternama negeri
ini. Sedangkan kau?” Caci Sarah, kakak keduanya.

Farah
tak menjawab. Ia hanya diam mendengarkan meriam kata kakak – kakaknya itu.
Dalam   hati ia berbisik lirih,
kebahagiaan itu kosa kata ruhani yang tak ternilai dengan uang dan jabatan,
andai mereka tahu.

*

Farah
kembali ke dunianya. Berkutat pada rutinitasnya bertahun – tahun ini. Pagi ini
wajahnya tak secerah mentari. Matanya tak seterang bintang. Binarnya meredup. Sudah
tiga hari ini  perutnya kosong. Belum
secuil makanan pun yang hinggap ke mulutnya. Musibah kelaparan  membuat gajinya tak terbayar. Honorarium tulisannya
pun belum dikirim. Terpaksa ia melewati hari dangan perut diikat kencang. Tapi,
melihat wajah  – wajah  muridnya bersemangat, ia pun jadi semangat.

“Bu
guru, ibu  mau nulis buku lagi kan? Buat
perpustakaan makin banyak bukunya.” celoteh seorang muridnya.

“Ibu
akan terus menulis untuk kalian.”

“Bu,
tulisin cerita tentang aku dong!” rajuk seorang murid perempuan di kelasnya.

 “Tentu sayang. Tentu Ibu  akan 
menulis tentang kalian. Masa depan memang akan jadi milik kalian.”

“Horee!”
serentak murid – murid kelas satu sekolah menengah pertama itu berteriak
senang.

Ia
menerawang ke angkasa. Tatapannya menembus keca jendela kelas yang pecah.
Langit  begitu   jenih memayungi khatulistiwa. Dalam hati ia
bersyair;

Inilah lagu rindu yang
kunyanyikan, wahai hari catatlah hari ini sebuah perjuangan dan
pengorbanan,  karena kau akan melihat
nanti kejayaannya[1].

 

Catatan:

Dimuat
di Koran Satelit News Sabtu, 7 Agustus 2010

 

 

 

 

 



[1]
Puisi Anis Matta

Kategori: Cerpen

0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *